Brosur Wisata: Balokan/Sarkem

kisah kami dimulai sejak derit loko uap lahir di bumi kami. balok-balok jati tua yang dicerabut dari rimba Ketangga di gunung kami, meladami kaki-kaki baja kereta bertungku api. sejak itu sejarah kami bergulir, hingga kini.

otot-otot yang dicungkil dari ladang-ladang itu, diperas sepanjang matahari. dan malam-malam yang letih menggelapkan mata. lentera-lentera merah bersemi, bersama bunga-bunga warna-warni. lampu merah redup, satu ketukan pintu, lalu suara bertalu-talu. seriuh pasar malam, pasar bunga-bunga.

gudang balok rel kereta menjadi kesaksian kami saat bentangan baja memenggal garis meditasi raja, mengirisnya dengan lengkingan uap lokomotif, mengejeknya dengan asap hitam. dan rumah-rumah di sepanjang lorong-lorong, berlampu redup merah, tak peduli. bilik-bilik murah, ada yang bersih tempat turis asing remaja, ada yang masih menyimpan marah. masuklah ke lorong-lorong kami, siapa tahu di salah satu biliknya kau akan temui catatan nama-nama penyair tua kota kami.

kisah kami kini hangat di kedai-kedai bir dan musik blues dan reggae, dan kios-kios buku asing sisa turis, dan drainasi kota yang tersumbat sampah-sampah karet. asap mesin uap telah lama lenyap. tapi derit roda besi dan rel baja masih setia menjeritkan gemuruh sejarah sewarna jelaga.

Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

Reply