Kaki Lima

di petak lima kaki persegi, kami menghitung jumlah jemari di tangan kiri, sementara kanan kami melambai pada rejeki hari ini. kami sajikan untaian kalung imitasi, nasi sarapan pagi, celana dalam dan kaus kaki, bedil plastik bagi anak-anak yang bercita-cita jadi polisi. juga helm dan korek api, atau aneka batik dan topi-topi.

kami dorong gerobak kami sepajang musim sepanjang nafas kami, kami pikul nasib kami sendiri. kami berlari dari peluit polisi praja, dari pengutip iuran kota sebab kami sering kencing di selokan, sebab trotoar yang kami pinjam buat berjaja. di kota ini, bumi bukan milik kami. kami dorong gerobak nasib kami, berharap jalanan tak menanjak dan aspal tak leleh oleh mentari.

di petak lima kaki persegi, kami meluruskan kaki, bercengkrama dengan pembeli atau pohon asam jawa perindang jalan kota kami yang jarang tertawa. setua usia peta kota, pohon itu lebih suka diam dan bersabar pada debu solar dan kencing kami; memejam mata saat polisi praja menggelar patroli.

kami berdiam, berjalan, berlari, berhitung setiap lima langkah kaki.

Dimuat di Kompas Minggu, 21 Juni 2009

Reply