120. Ruh, Jiwa, dan Tubuh Sajak

Bila sajak diibaratkan manusia, ia hendaklah terbangun dari unsur-unsur tubuh (fisika), jiwa (psika), dan ruh (spirit). Tubuh sajak mengejawantahkan unsur-unsur yang kasat mata, ujud bahasa secara wantah. Jiwa sajak memancarkan tafsir makna, rasa emotif, duga-sangka logika, gejolak, suasana kepada indera pembaca. Ruh sajak tak muncul dalam sajak tetapi ia laten dan hanya dapat dirasakan oleh ruh pembaca. Ruh sajak, karenanya, tak selalu terbaca tak selalu terasa. Hanya pembaca dengan kepekaan ruhani saja yang dapat menerima pantulan cahayanya.

Tentu saja perihal ruh sajak ini boleh dimasukkan ke ranah mistik, wilayah “kesadaran tinggi”, dan boleh dinafikan oleh penikmat erotika bahasa dan gairah jiwa sajak semata. Ruh sajak boleh dianggap tiada oleh mereka yang belum sampai kepada pengalaman ruhani puisi, atau mereka yang secara sadar menyandarkan diri pada tubuh dan jiwa sajak semata, pada bentuk dan isi saja. Tak jarang, entah penyair entah pembaca syair merasa sudah bersentuhan dengan ruh padahal sesungguhnya mereka baru berasyik-masyuk dengan psikologi sajak. Pada kenyataannya, banyak penyair sengaja membatasi kerja puitiknya “hanya” pada tataran bentuk dan isi semata, tubuh dan jiwa sajak saja, bahkan ada yang terang-terangan berkukuh di makam tubuh atau bentuk belaka. Semua pilihan tentu kembali pada diri.

Saya menduga, urusan mistika sajak ini tak bisa direkayasa kemunculannya dalam sajak. Ia adalah pancaran dari kesadaran ruhani sang penyair (dan kejernihan cermin kalbu pembaca). Walau ruh, jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan kodrati, tak serta-merta kehadirannya bisa utuh dalam satu kesatuan sebab kepaduan ketiga unsur hidup ini sangatlah ditentukan oleh tingkat kesadaran ruhani seseorang (dalam hal sajak, penyair). Sebagaimana tak semua orang dapat menampilkan pancaran sinar ruhaninya, demikian pula tak semua sajak berhasil memendarkan ruh–kebanyakan hanya melenggangkan tubuh dan gelora erotika puitik sahaja.

2 Replies

  1. Ahsanun Reply

    sip betul betul betul, saya setuju sekali sedulur kakang….

  2. d_thewhy Reply

    betul, mas..terkadang menulis puisi cuma lahir karena dorongan emosi, nggak ada erotika bahasana sama sekali atau bahasana erotis tapi nggak punya ruh..kayak puisi – puisi saya..he..he..

Reply