Catatan Sekilas Cinta yang Marah*

M. Aan Mansyur, Cinta yang Marah (Bejana, 2009)

Kumpulan 21 sajak Aan ini menawarkan tantangan yang cukup serius bagi pembaca. Bukan hanya dari judul sajak-sajaknya (yang dia sebut „kepala“ itu) yang panjang, tetapi juga untuk mengurai (dengan kepala) atau meresapi (dengan dada) keseluruhan rangkaian ini sebagai satu untai gagasan.

Lagi-lagi, karena saya adalah seorang pembaca yang malas, saya tidak sempat memaksakan diri saya untuk membaca kumpulan sajak Aan ini berulang-ulang (syarat untuk menjadi pembaca yang baik adalah bersedia membaca berulang-ulang), tentu saja dengan excuse waktu yang sempit atau (alasan yang sebenarnya) kemalasan.

Buku ini sudah dilengkapi dengan catatan pembacaan yang sangat baik oleh Nurhady Sirimorok, juga catatan Aku-penulisnya sendiri. Juga komentar-komentar di facebook sepanjang perjalanan sajak-sajak ini menjadi. Lalu saya harus mencoba sesuatu yang lain untuk saya komentari.

1. Fisika Buku

Secara fisik buku Cinta yang Marah ini sudah gamblang mencitrakan dirinya, menggiring pembaca ke titik tolak tertentu dalam menelusuri sajak-sajak Aan ini nantinya.

a. Desain Sampul
Sampul dengan kertas glossy dengan sisi depan berwarna dasar putih dan sisi belakang merah, gambar sampul depan berupa bendera merah-putih dengan tulisan judul berwarna merah pada kata Cinta dan Marah. Kalau boleh saya bilang, ini adalah desain sampul yang vulgar. Seperti sampul buku pelajaran sejarah di sekolah dasar atau menengah. Tetapi mungkin vulgaritas ini perlu untuk mengimbangi (atau menjadi kontras bagi) sajak-sajak di dalam buku ini.

b. Layout
Sebenarnya hanya separuh dari keseluruhan halaman ini yang berisi 21 sajak Aan, selebihnya adalah daftar judul/kepala sajak yang panjang-panjang itu dan catatan-catatan di bagian belakang. Judul ditulis tebal-tebal, dan karena panjangnya membuat komposisi antara kepala dan dada sajak menjadi hampir berimbang: separuh teks dicetak tebal di atas separuh teks dicetak normal. Ini menyarankan sebuah citra dwi-warna dalam khayalan saya, semacam hitam-putih, atau lebih tematis lagi, merah-putih.

2. Caraku Membaca Buku Ini

Saya ingin merobek atau memotong buku ini menjadi dua bagian, atas dan bawah, sehingga saya dapatkan satu bagian buku berisi „kepala“ saja dan satunya berisi „dada“ saja. Saya kira, kepala memang harus lebih dahulu hadir sebelum dada. Dalam sistem kundalini, cakra yang memengaruhi kerja otak, kepala-intelek, adalah cakra pusat (manipura) yang mewakili kerja pikiran (logical mind, intellect) disimbolkan dengan warna kuning. Di bawah cakra pusat yang memengaruhi kerja pikir adalah cakra seks (svadisthana) yang mewakili kerja hasrat, sedangkan di atas cakra pusat adalah cakra jantung (anahata) yang mewakili kerja rasa, emosi yang lembut, cinta. Jadi dari sistem cakra kundalini ini terlihat posisi “dada” itu sendiri sesungguhnya ada di atas “kepala”.

a. Kepala
Kepala sajak-sajak Aan yang panjang dapat dinikmati tersendiri (bagian daftar isi), karena berupa kalimat majemuk yang sebenarnya bisa menjadi paragraf. Tetapi saya merasa judul-judul ini tidak nikmat, justru karena dituliskan dengan kaidah judul yang benar (dengan kapitalisasi huruf awal kata). Jika judul-judul ini ditulis biasa, mereka sudah dapat dinikmati sebagai sajak tersendiri.

Ketika Kelak Kisah Aku dan Kau Difilmkan Adegan Ini Harus Hadir Sebelum Muncul Kata Tamat, Sebelum Sejumlah Nama Itu Berjejatuhan ke Atas Seperti Hujan yang Kembali ke Langit, Sebelum Lampu Dinyalakan dan Entah Kenapa Mata Penonton Berair Banyak

Dari judul-judul yang panjang ini Aan ada menyelipkan beberapa sandi yang sedikit membuka (salah satu?) pintu tafsir tentang siapa „Aku“ dan „Kau“ yang sedang berasyik-masyuk dalam sajak-sajak ini, seperti „Pagi Ini, di Hari Ulang Tahun Kesepuluh Kematian Kau, … dst.“ dan „Menjelang Sebelas Tahun Kematian Kau, Saat Usia Bangun Aku (atau Tidur Aku Tak Ada Bedanya) Sudah Seabad Lebih Setahun,…dst.“

b. Dada
Dibandingkan bagian kepala, saya lebih menyukai bagian dada. Jadi jika Aan mengelompokkan manusia berdasarkan kepala atau dada, saya akan memilih dada. Demikian juga dalam sajak-sajak Aan ini, saya menikmati sajak-sajak yang sudah saya potong kepalanya itu dengan asyik. Di bagian dada inilah saya kira, Aan mendemonstrasikan kekuatannya sebagai penyair. Aan bukan tipe penyair yang suka berakrobat dengan kata-kata atau bergenit-genit dengan diksi atau metafor yang canggih-canggih. Aan cenderung memilih kata-kata biasa dan dengan itu ia membangun citra-citra yang kadang surrealis.

Di bagian dada sajak-sajak Aan ini saya membaca sebuah percintaan yang intens, walaupun di beberapa tempat bermunculan idiom-idiom populer, mungkin karena konsep sajak ini adalah untuk memindahkan peristiwa-peristiwa ke tempat yang lebih tenang, untuk memanjangkan kepala (dan melapangkan dada) pembaca, serta untuk merayakan reformasi; maka muncullah „fatwa haram“, „seorang pengkhutbah yang suka marah dan punya anak kembar lucu bernama haram dan halal“, „munir“, „thukul“, juga „batu celup“. Bandingkan dengan ungkapan berikut:

sungai itu menangis semakin deras, lewat sepasang mata anak itu, sungai menyaksikan wajahnya yang keruh. dan sungai itu pelan-pelan jernih, dijernihkan airmata sendiri

anak itu semakin deras menangis. sedihnya tidak hendak sudah melihat sungai ikut tersedu. dan wajah anak itu pelan-pelan bersih, dibersihkan airmata sendiri

langit bermata teduh goyah hampir jatuh menyaksikan peristiwa itu

bertahun-tahun kemudian, anak itu sudah gadis dan sungai itu sudah panjang, keduanya sungguh-sungguh bening, bertemu kembali. mereka bermandian, gadis mandi di mata sungai, sungai mandi di mata gadis, sampai tubuh mereka tembus pandang sampai tubuh mereka menghilang
(sajak #6)

3. Aku dan Kau Itu…

Aan merancang buku ini sebagai sebuah proyek kreatif yang bagi saya cukup serius. Namun tampaknya sepanjang proses menulis serial sajak berkepala panjang ini Aan agak kurang sabar. Ini tampak ketika ia menulis catatan di facebook di tengah-tengah perjalanan, seolah-olah ia khawatir pembaca akan kehilangan petunjuk tentang apa yang sebenarnya ia niatkan dengan serial ini. Juga dari catatan Aku-penulis, Aan menegaskan bahwa buku ini adalah semacam perayaan reformasi cara dia, seperti ada kekhawatiran bahwa pembaca akan menyalah terima sajak-sajak dalam Cinta yang Marah ini sebagai bukan tentang merayakan reformasi.

Dengan kotak pembatas itu, tokoh Aku dan Kau dalam sajak-sajak ini menjadi semakin misterius. Walaupun pada sajak ke-19 bisa saja kita dekode dari petunjuk yang disisipkan Aan di sana: Menjelang Sebelas Tahun Kematian Kau, Saat Usia Bangun Aku (atau Tidur Aku Tak Ada Bedanya) Sudah Seabad Lebih Setahun, Aku Semakin Banyak Mengingat Kau, Semakin Banyak Mengulang Kalimat Kau, Seperti Kali Ini Aku Mengatakan Sekali Lagi yang Kau Sebutkan di Ujung Nafas Kau (yang Mungkin Wasiat). Dari situ ada semacam „suryasengkala“ (sandi tahun), yaitu 1998 dan 1908, sehingga Kau pun bisa saja didakwa sebagai peristiwa 1998 (patok waktu reformasi) dan Aku adalah bangsa ini sendiri (1908, patok waktu kebangkitan nasional). Tetapi kalau boleh jujur, saya memilih Aku dan Kau dalam rangkaian ini adalah benar-benar sepasang kekasih yang sedang bercinta dalam kata-kata walau dipisahkan oleh kematian.

Saya kira, misteri siapa Aku dan Kau dan mengapa mereka berdua selalu tampil dalam bentuk utuh dalam sajak-sajak ini biarlah tetap terbuka, sehingga buku ini dapat dibaca berulang-ulang untuk menyibak tirai misterinya sedikit demi sedikit.

4. Penutup

Aan penulis sajak lirik (sajak dada?) yang kuat. Terlalu kuat bahkan. Kadang saya berharap ia sendiri bosan dengan itu dan berupaya untuk lepas dari belenggu lirik sedikit demi sedikit.

Upaya untuk „memanjangkan kepala“ lewat kepala sajak yang dipanjang-panjangkan ini pertama-tama dapat dihormati sebagai sebuah eksperimentasi kreatif Aan. Tetapi niat untuk (mengajak pembaca) memanjangkan kepala dan melebarkan dada dalam membaca peristiwa aktual maupun yang lewat tidak bisa disimplifikasikan begitu saja ke dalam „kepala sajak yang panjang“ atau dada sajak yang lebar. Kenyataannya, saya tidak merasa bertambah panjang kepala ketika membaca kepala-kepala sajak Aan bahkan dari sana saya merasakan beberapa judul yang cukup „dada“, dan sebaliknya, dalam dada sajak-sajak Aan saya merasakan kepala saya bertambah panjang sekaligus dada saya bertambah lebar. Justru dalam bagian dada sajaklah saya membaca beberapa „brain teaser“ seperti angka harapan hidup yang semakin menurun, batu celup, judul-judul buku sastra klasik, atau bahkan schroninger’s cat.

Saya kira saya belum rampung membaca Cinta yang Marah ini. Saya baru pada tahap meraba, membaui sepintas lalu, meneropong dalam remang. Saya kira saya akan perlu beberapa kali lagi membaca sajak-sajak ini untuk memulurkan kepala dan dada saya agar lebih panjang dan lebih luas.

________________________

*) Pengantar obrolan di Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta. Selasa, 2 Juni 2009


Saya ingin merobek atau memotong buku ini menjadi dua bagian, atas dan bawah, sehingga saya dapatkan satu bagian buku berisi „kepala“ saja dan satunya berisi „dada“ saja. Saya kira, kepala memang harus lebih dahulu hadir sebelum dada. Dalam sistem kundalini, cakra yang memengaruhi kerja otak, kepala-intelek, adalah cakra pusat (manipura) yang mewakili kerja pikiran (logical mind, intellect) disimbolkan dengan warna kuning. Di bawah cakra pusat yang memengaruhi kerja pikir adalah cakra seks (svadisthana) yang mewakili kerja hasrat, sedangkan di atas cakra pusat adalah cakra jantung (anahata) yang mewakili kerja rasa, emosi yang lembut, cinta. Jadi dari sistem cakra kundalini ini terlihat posisi “dada” itu sendiri sesungguhnya ada di atas “kepala”.

Please follow and like us:

Reply