TS Pinang: Bayi yang Bijak

Embrio, sebuah Kunci

Karena yang saya pegang ini adalah sebuah buku, maka saya akan berangkat dari melihat sampul depannya terlebih dahulu. Di bagian sampul ‘Kunci’ terdapat lukisan oleh Rosalia Hening Wijayanti, yang tidak lain adalah istri TS Pinang sendiri. Saya sangat tertarik dengan lukisan ini. Kalau saya gemar mengklasifikan sesuatu menjadi 3 bagian, yaitu: hitam, putih dan abu-abu, atau gelap, terang, dan remang, maka lukisan yang menjadi kover buku ini masuk ke bagian abu-abu, bagian yang remang, bagian antara, persis seperti sajak-sajak TS Pinang yang saya anggap juga sajak-sajak yang remang.

Melihat dengan kasat mata, saya mendapati pola semacam lingkaran pada lukisan itu. Atau lebih tepatnya mungkin, pola seperti bentuk obat nyamuk bakar, lingkaran yang dimulai dari ukuran besar kemudian semakin masuk ke tengah dan semakin mengecil. Warna-warna lingkaran ‘luar’ adalah warna-warna yang agak gelap: merah bercampur dengan hijau tua sehingga muncul juga warna-warna seperti merah marun, atau bahkan coklat- sementara semakin ke dalam warna yang terlihat adalah warna-warna cerah: hijau muda dan kuning seperti buah lemon, dan sedikit sisipan warna biru langit.

Masuk ke halaman sebelum Daftar Isi, maka tahulah saya bahwa judul lukisan Rosalia Hening itu adalah ‘Embrio’. Judul lukisan ini membuat ‘Kunci’ semakin menarik buat saya. Terasa seperti ada hubungan yang sangat erat antara ‘Kunci’ dan ‘Embrio’ itu- hubungan secara ‘ruh’, secara jiwa, secara ‘dalam’. Saya lantas membayangkan dengan gegabahnya bahwa ‘Embrio’ adalah apa yang dimaksudkan TS Pinang sebagai ‘Kunci’ itu.

Seperti buku himpunan puisi pada umumnya, biasanya judul buku diambil dari salah satu judul puisi yang terdapat di dalamnya, maka saya pun mencari puisi yang berjudul ‘Kunci’ di dalam buku tersebut (walaupun sebenarnya sudah dipajang di sampul belakang, namun saya belum tahu bahwa sederet kalimat di sampul belakang itu adalah puisi yang berjudul ‘Kunci’). Oh ya, sebelumnya, TS Pinang membagi isi ‘Kunci’ menjadi 4 partisi: Kunci 1, Kunci 2, Kunci 3, dan Kunci 4. Saya rasa TS Pinang membaginya berdasarkan periode saat ia menulis sajak-sajak tersebut. Jumlah keseluruhan sajaknya adalah 61 sajak.

Sajak-sajak di dalam Kunci 1 adalah sajak-sajak yang berjudulkan ‘bagian-bagian rumah’: Sumur, Regol, Cellar, Tangga, Loteng, Dapur, Arkade, Bovenlicht, Jendela, Gelagar, Kakus, Atap, Bibliotek, Kunci, Cincin, Lampu (ya, hanya cincin yang berbeda). Sajak-sajak di dalam Kunci 2 adalah sajak-sajak yang berjudul ‘lebih dari 1 kata’ (saya ingin bilang sajak berjudul 2 kata, tapi ada sebuah yang memiliki 3 kata)- mengingat bahwa TS Pinang lebih sering menulis sajak menggunakan judul yang hanya 1 kata: Bumbu Dapur, Mencuci Piring, Jam Dinding, Memoar Dermaga, Telur Dadar, Kuliah Pagi, Rokok Kretek, Upacara Bendera, Kopi Instan, Koran Minggu, Par Excellence, Aksara Jawa, Menabuh Kamar, Hutan Hikayat, Seterjal Makna, Merebus Kesedihan, Doa Lupa Kami. Sajak-sajak di dalam Kunci 3 adalah sajak-sajak yang berjudulkan kata sifat: Suram, Cabuh, Sakral, Lucah, Badar, Dungu, Mabuk, Penat, Berasap, Rindang, Kekal, Gatal. Dan sajak-sajak di dalam Kunci 4 adalah sajak-sajak yang berjudulkan kata kerja, verb: Mengaso, Mendangir, Memasak, Belajar, Membaca, Lari, Terbang, Meneliti, Basuh, Rebus, Mengeluh, Menatap, Bergegas, Memijat, Mengayak, Bersepeda.

Keteraturan Bertutur

Kembali ke tadi, saya lalu menemukan sajak berjudul ‘Kunci’ yang judulnya menjadi judul buku himpunan puisi ini.

kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua makhluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa.

langkah kami seinjak demi seinjak, seperti ketuk kata dalam sajak. kami saling rengkuh seputaran anak kunci, membuka gerbang pintu langit kami: pintu berdaun tebal kayu jati, dengan engsel yang berbunyi.

(Kunci)

Apa yang saya dapat sekilas setelah membaca sajak ini? Yakni ketenangan. Aliran ucap yang terasa begitu lancar, smooth, ibarat jalan aspal yang mulus- maka dari sana saya dapatkan kesan ‘ketenangan’ tadi. TS Pinang terasa bertutur dengan santai, tanpa beban, seperti sedang bergumam sendiri di teras rumah sambil menyeruput kopi. Padahal di sajak-sajaknya yang lain, jelas bahwa ia mengangkat hal-hal yang menggelisahkan, merisaukan- tapi dengan caranya, ia tetap bertutur seperti itu seolah ia memiliki semacam ‘peredam’ yang membuat sajak-sajaknya tidak bertingkah berontak-anarkis seperti orang sedang demonstrasi, atau menangis tersedu-sedu seperti gadis yang baru patah hati.

begitulah kami bermain-main nasib di negeri koran setiap ahad pagi. ada yang bermain dewa dan para penyembah berala. memantrai udara, mengaduk bubur kata, santan tua, juga tawa yang menggema. kami hanyalah pemuja yang menghirup sajak dari asap getah kemenyan (sejak pohon kemenyan punah dari hutan konifer kami, kini kami hirup asap obat nyamuk bakar yang sama wanginya). kami biarkan jiwa kami diambil alih senja, kesurupan remang dan metafora-dedemit yang luar dari perangkap toples pandora. lihatlah kami belajar sejarah kata-kata dari jamu Avicena, dari tarian anggur Rumi, dari cekat nafas Hallaj. lihatlah kami lupakan sejarah kata-kata di halaman puisi, di koran-koran, di ahad pagi.

(Koran Minggu)

Membaca sajak-sajak TS Pinang, saya dibawa ke dalam dunia yang segalanya serba teratur: alur kata-kata yang rapi, emosi yang ditekan, dikendalikan, nafas yang tidak memburu, tidak pula sesak terpatah-patah, semuanya serba terkontrol, serba lancar. Kalau lingkungan sekitar adalah ‘rumah luar’, dan TS Pinang memiliki ‘kamar’ di dalam dirinya- maka ia menyerap hal-hal yang berada di luar untuk masuk ke dalam kamar sendirinya, dan di dalam kamarnya itu ia melakukan proses augmentasi, menambahkan zat-zat lain yang berasal dari dirinya ke dalam hal-hal luar yang telah dibawanya masuk ke dalam kamarnya tadi. Kemudian ia ‘meredam’ proses kerjanya itu, sehingga yang lahir adalah sajak-sajak yang ‘dewasa’- ibarat bayi, sajak-sajak TS Pinang adalah bayi yang memiliki karakter orang berusia 60 tahun dengan sifat yang tenang, kalem, seperti telah melalui banyak hal di dalam hidupnya- bayi yang tua dan bijak.

Tapi bukan berarti di dalam ketenangan itu sama sekali tidak ada ketegangan, tidak ada dada yang berdegup-berdebar. Sesekali TS Pinang memasang ‘tempo’ cepat, singkat, berderap-derap di dalam sajaknya, seperti kejar-mengejar. Namun itu juga ia lakukan dengan disiplin, rapi, dan teratur. Nafas yang memburu dengan teratur.

kami kolibri. jutaan kepak sayap kami yang kilat, membuat kami terdiam dalam ambang. kami rajawali. dan paruh dan cakar kami yang pisau menyayat mencabik ketinggian angkasa. kehampaan akasha. kami pipit. mengumpil bebijian di ladang-ladang, mengumpan nutfah di basah tanah. kami bangau. bertengger di puncak tertinggi pohon bodhi di halaman kampus, menjelajah sejauh musim menguningkan sawah-sawah. kami bulbul. memadamkan bara neraka di dada kiri, menyanyikan puisi pada singgasana brahma. kami perkutut. membawa firman tuhan di sangkar-sangkar tergantung di tritisan rumah jawa, mengidungkan kung yang agung. kami merpati. berlari di pacuan langit, memetakan jejak pergi dan pulang lagi. kami kepodang. berhias warna yang kian hilang dari ingatan. kami camar. memeluk lingkar dunia melipat tikar benua dalam hijrah yang jauh lagi melelahkan. kami walet. melayang-layang di loteng loji dan rumah tua, meliurkan sabda, amulet mantra-mantra tua, ludah kering kisah-kisah tua. kami kanari. semungil bait-bait haiku berdada kuning, semerdu pantun-pantun bersayap lembut, selincah teka-teki di kidung pocung. kami phoenix. menyala sepanjang cerita, sepanjang doa-doa, membakar surga!

(Par Excellence)

Judul dan Isi yang Klik, Klop!

Judul adalah gerbang untuk masuk ke dalam isi sajak. Ada orang yang membuat judul dengan mengambil frasa/potongan kalimat dari dalam sajaknya. Ada orang yang membuat judul sama sekali tak nyambung dengan isi sajaknya. Namun apapun judul itu dan bagaimanapun cara seseorang menentukannya, bagi saya akan terasa lebih enak kalau judul itu memang gerbang, pengantar yang membawa saya masuk ke dalam sajak, dan ketika saya telah masuk ke dalam, saya akan berkata, “Oh ya, pas dengan judulnya..”. Setidaknya, ketika misalnya saya dihadapkan dengan sajak berjudul ‘Laut’, maka saya berharap yang akan saya dapatkan di dalamnya adalah kata-kata atau imaji-imaji yang berasal dari ekosistem laut, atau hal-hal di luar laut yang masih bisa saya hubung-hubungkan dengannya.

di belakang rumah kami menggali liang di mana tergantung nasib hidup kami. dengan airnya kami lunaskan haus seharian, setelah bersitegang dengan timba dan tambang. kadang kami mencoba, membaca muka airnya. siapa tahu mata kami mampu menjangkau wajah kami sekilas saja. tapi liang itu terlalu dalam dan gelap. tersebab itulah airnya sejuk dan sedap.
..

(Sumur)

Lihat, di dalam sajak berjudul ‘Sumur’, terdapat kata-kata, predikat, yang memang berasal dari ‘alam’ sebuah sumur. Saya dapatkan ‘di belakang rumah’ (kebanyakan memang sumur letaknya di belakang rumah), ‘menggali’, ‘liang’, ‘tergantung’ (ember yang tergantung di tiang penyangga itu), ‘timba’, ‘tambang’, ‘air’, ‘menjangkau wajah kami’ (dalamnya sebuah sumur), ‘dalam dan gelap’, ‘airnya sejuk dan sedap’ (apa ada air sumur panas?). Maka pengharapan saya akan imaji-imaji yang terdapat di dalam sebuah sajak berjudul ‘Sumur’ terpenuhkan sudah. Tidak ada kata-kata yang meleset, aneh-aneh, kata-kata yang dibuat-buat, yang mengada-ada, yang ‘sok kreatif’. Dan begitu pula yang terjadi di seluruh sajak-sajak TS Pinang di dalam ‘Kunci’ ini.

Tanpa Menceramahi

Kenapa ia tidak menggunakan kata-kata yang ‘kreatif’ a.k.a. aneh-aneh di dalam sajaknya? Karena memang bukan itu yang ‘dijual’ dalam sajaknya. Ia tidak menyuguhkan ‘akrobatik’ kata, semuanya terasa begitu wajar, pantas, dan cocok. Lantas apa yang ia tawarkan di dalam sajak-sajaknya kalau bukan ‘keindahan’ kata itu tadi? Yaitu adalah ‘ruh’nya. ‘Ruh’ di dalam sajaknya-lah yang lebih terasa ketimbang ‘pakaian’ yang ia kenakan. Pesan, atau amanat yang terasa oleh saya lebih kental di dalam sajak-sajaknya.

Tapi lagi-lagi, seperti yang telah saya umpamakan sebelumnya, TS Pinang terasa bertutur dengan santai, tanpa beban, seperti sedang bergumam sendiri di teras rumah sambil menyeruput kopi- maka pesan-pesan, ‘wejangan’ atau amanat yang terdapat dalam sajaknya tidaklah ia sampaikan secara ‘menggurui’. Ia tidak berkhotbah, tidak mendikte. Melainkan seolah hanya menyampaikan saja apa yang tengah dirasakannya, apa yang ada dalam pikirannya, tanpa maksud untuk menujukan, atau mengarahkannya kepada orang lain. Atau bisa saja saya yang membaca sajak-sajaknya sebenarnya telah digurui, namun TS Pinang dengan caranya membuat seolah-olah saya tidak merasa sedang digurui. Ditambah lagi dengan penggunaan subjek kami-lirik, sehingga kesan bahwa sajak-sajaknya itu hanya ditujukan untuknya sendiri saja semakin kuat, dan membuat saya semakin merasa tidak sedang diceramahi.

TS Pinang, lewat sajak-sajaknya seolah sedang menyuguhkan sesuatu, lantas berkata, “Menurut saya begini, Anda mau setuju silakan, mau tidak juga terserah.” Ya, ia seolah cuek, tidak terlalu menaruh pikiran atas bagaimana orang lain menangkap maksud sajaknya ataukah tidak. Ia menulis saja, menyampaikan saja.

kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepada kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju. kadang kami membawa penumpang, sebongkah pantat, sekarung kentang, atau bebek calon santapan yang dipadatkan dalam keranjang. kalau kami boleh memilih, kami lebih suka membawa telur. kami bahagia membayangkan telur itu kelak menetas menjadi ayam yang kelak bertelur pula. skenario lingkar kehidupan. kami tak bahagia membayangkan telur itu busuk atau punah di piring sarapan manusia. tapi kami tak bisa terlalu memilih. kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. mengayuh saja.

(Bersepeda)

Namun justru dengan gayanya yang seperti itulah saya merasa diberikan kebebasan–hal yang sangat dibutuhkan dalam melakukan apapun, dalam pada ini menafsirkan sebuah sajak, memanggut-manggutkan kepala akan pendapat dalam sajak atau menolaknya mentah-mentah. Saya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan akan memahami sajak-sajaknya. Saya tidak diintimidasi. Saya juga tidak ditinggalkan begitu saja di dalam hutan belantara nan berkabut tebal. TS Pinang cuek tapi sekaligus menuntun. Sehingga saya menjadi leluasa bergerak di dalam sajak-sajaknya, sehingga saya merasa nyaman membaca sajak-sajaknya. Sehingga saya senang dan menikmati sajak-sajak di dalam ‘Kunci’, yang tanpa pengantar, tanpa penutup, tanpa endorsement ataupun blurb.


Cheers!


Membaca sajak-sajak TS Pinang, saya dibawa ke dalam dunia yang segalanya serba teratur: alur kata-kata yang rapi, emosi yang ditekan, dikendalikan, nafas yang tidak memburu, tidak pula sesak terpatah-patah, semuanya serba terkontrol, serba lancar. Kalau lingkungan sekitar adalah ‘rumah luar’, dan TS Pinang memiliki ‘kamar’ di dalam dirinya- maka ia menyerap hal-hal yang berada di luar untuk masuk ke dalam kamar sendirinya, dan di dalam kamarnya itu ia melakukan proses augmentasi, menambahkan zat-zat lain yang berasal dari dirinya ke dalam hal-hal luar yang telah dibawanya masuk ke dalam kamarnya tadi. Kemudian ia ‘meredam’ proses kerjanya itu, sehingga yang lahir adalah sajak-sajak yang ‘dewasa’- ibarat bayi, sajak-sajak TS Pinang adalah bayi yang memiliki karakter orang berusia 60 tahun dengan sifat yang tenang, kalem, seperti telah melalui banyak hal di dalam hidupnya- bayi yang tua dan bijak.

Tapi bukan berarti di dalam ketenangan itu sama sekali tidak ada ketegangan, tidak ada dada yang berdegup-berdebar. Sesekali TS Pinang memasang ‘tempo’ cepat, singkat, berderap-derap di dalam sajaknya, seperti kejar-mengejar. Namun itu juga ia lakukan dengan disiplin, rapi, dan teratur. Nafas yang memburu dengan teratur.

Please follow and like us:

Reply