Menduga Sebentuk Kunci, Mendepa Sepanjang Puisi

Kunci dan Pintu Ke Mana Saja

Dalam komik Doraemon dikenal sebuah benda yang bisa membawa Doraemon, kucing robotik dari masa depan, Nobita, dan teman-temannya seperti Suneo, Giant, serta Sizuka untuk bisa bepergian ke mana pun mereka mau. Benda itu disebut sebagai Pintu Ke Mana Saja. Lewat pintu itu, para pembaca dibawa oleh Fujiko F. Fujio pencipta Doraemon menjelajah ke dunia purbakala, ke pantai eksotis di negara tropis, bahkan ke negeri khayalan.

Kali ini, saya tidak hendak membicarakan soal pintu tersebut melainkan kunci dari pintu imajinatif seperti pintu-nya Doraemon itu. Kunci yang saya maksud adalah kumpulan puisi dari TS Pinang. Dia adalah salah satu penyair “muda” yang mengaku terlambat menulis puisi. Berdasarkan biografinya di sebuah situs, dia mengaku menulis puisi secara serius baru pada tahun 2000. Dia juga mengaku belajar secara otodidak dari komunitas sastra di internet, terutama dari milis penyair (penyair@yahoogroups.com) dan situs Cybersastra (www.cybersastra.net, situs ini sudah almarhum -ed.). Puisi-puisinya juga disiarkan di situs pribadinya Titik Nol (www.titiknol.com).

Buku Puisinya – Kunci – baru lahir pada bulan Juni 2009 ini, jadi ada jeda –katakanlah – delapan sampai sembilan tahun dari keseriusannya berpuisi. Di dalam sampul belakang Kunci disebutkan bahwa kebanyakan dari sajak yang dihimpun adalah sajak-sajak yang pernah dimuat di surat kabar dan majalah sastra.

Sebagai awal dari penceritaan akan Kunci ini, saya membandingkan puisi-puisi TS Pinang ini dengan Pintu Ke Mana Saja-nya Doraemon. Kenapa? Apakah ini dapat dianggap merendahkan? Atau sebuah similaritas yang dangkal? Kira-kira yang menjadi bahan dasar dari Kunci atau PKMS adalah sebuah ide besar yang akan membawa kita menikmati petualangan-petualangan selanjutnya, menikmati ide-ide lain dari Sang Pengarang. Belum lagi, lewat Kunci saya sebagai pembaca dibawa oleh TS Pinang ke dunia atau ranah arsitektural (sajak-sajak yang terangkum di Kunci 1), ke ceruk hal-hal sekitar rumah dan persona-nya (sajak-sajak dalam Kunci 2), ke dunia fisiologis dan psikologis (sajak-sajak dalam Kunci 3), dan ke dunia yang berkaitan dengan aktivitas serta aktivasi (sajak-sajak dalam Kunci 4).

Sebagai pijakan dari semua dunia atau ranah yang hendak ditelusuri, tentu saja kita harus menemukan kata kunci yang menjadi sangat esensial dari semua sajak-sajak TS. Pinang. Dan kata kunci itu adalah kami.

Siapa Kami yang Menyapa Kita?

Seingat saya, ada satu sajak yang menonjol yang mempunyai subjek kami. Walaupun dari sisi bangunan sajaknya berbeda, tetapi sajak karya Chairil Anwar cukup menonjolkan soal kami tersebut. Saya hanya akan mengutipkan sebagian kecil saja, hanya untuk memperjelas adanya kemiripan dan perbedaan pada “kami” dalam sajak ini dengan “kami” di sajak-sajak TS Pinang ini.

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

(Petikan sajak ”Karawang-Bekasi, Chairil Anwar).

Persamaannya jelas! Baik Chairil maupun TS Pinang menuliskan kami sebagai kata ganti orang pertama sebagai penyampai/pencerita dalam sajak itu. Nah, sekarang tinggal bagaimana perbedaannya?

Ketika saya menyusun tulisan ini, di televisi sedang menyiarkan 40 lagu teratas Michael Jackson yang dipuncaki oleh lagu bertajuk Earth Song. Dalam pengakhiran lagu itu, berulang-ulang dikatakan atau ditanyakan oleh backing vocal,”What about us?” Hal itu seakan menjadi petunjuk buat saya untuk mencermati siapa kami yang dimaksud oleh TS Pinang dalam sajak-sajak di Kunci ini.

Dalam pengertian yang dimaksud oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, kami (ka-mi) berarti (pronomina) 1 yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2 yang berbicara (digunakan oleh orang besar, misal raja); yang menulis (digunakan oleh penulis).

Kami sangat berbeda dengan kita. Karena kita lebih mencerminkan kebersamaan antara penulis dan pembaca. Seperti dalam lagu Earth Song itu, pendengar disentil kesadarannya sebagai bagian dari penyuara yang sedang bertanya-tanya dengan masa depan bumi ini. Ada semacam kebersamaan ideologi yang sedang dibangun oleh penulis/pembicara dengan kata kita.

Menyadari perbedaan itu, saya mengambil satu pendekatan bahwa kami dituliskan oleh TS Pinang hanya untuk mewakili dia belaka. Sebagai penulis, sebagai pencetus ide, sebagai pembawa cerita.

Seluruh sajak dalam Kunci ini, dituliskan dengan mencitrakan kami sebagai subyek dalam sajak-sajak itu. Meskipun berbeda tema, penderita atau pencerita dalam sajak-sajak TS Pinang tetaplah kami.

Ada kecurigaan secara psikologis atau ideologis yang cukup beralasan ketika TS Pinang menuliskan kami itu. Apakah dia menganggap ada perbedaan dan pembeda yang menjarakkan dia dengan para pembaca, atau hanya sekedar menarik batas pengalaman belaka alih-alih memberi penegasan bahwa dunia penyair adalah hal yang bisa dibedakan dengan dunia umum adanya.

Dalam situsnya www.titiknol.com TS Pinang menulis demikian, “Kadang kita terjebak pada gagasan bahwa kita menulis sajak untuk dinikmati orang lain, dinikmati oleh pembaca-pembaca sajak kita itu. Bayangan pembaca yang menunggu, membaca, lalu bereaksi atas sajak-sajak yang kita tuliskan lama-lama menjadi semacam candu. Tak jarang pula komentar dari pembaca-pembaca (yang kita anggap) kuat meninggalkan dampak pada sikap kreatif kita, pada cara kita bersajak berikutnya. Belum lagi pembaca-pembaca murah hati yang obral dengan puji-pujian yang cenderung memabukkan, membuat kita ketagihan lalu cenderung menuruti hasrat memperoleh lebih banyak lagi pujian. Penyairku, beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau meninggalkan pembacamu? Beranikah kau?”

Mungkin memang tidak tegas kaitan antara tulisan tersebut dengan pokok persoalan kami. Namun ada kecenderungan yang bisa didapatkan bahwa kami dalam sajak-sajak TS Pinang adalah Penyair yang dimaksud dalam tulisan itu. Dia yang sedang berusaha untuk meninggalkan pembaca-nya. Alasannya cukup jelas dengan pembeberan soal kami di atas. Ada garis tegas yang tidak gampang dimasuki oleh pembaca – terutama dalam hal-hal yang bersangkutan dengan perasaan atau batiniah lain – ketika membaca sajak-sajak TS Pinang ini.

Sebagai ilustrasi, saya akan menuliskan petikan sajak ”Telur Dadar” yang tentu saja dibawa-ceritakan oleh kami;

kami menyayat dadar telur kami lalu melelehkan saus cabe merah yang mengingatkan pada darah kelahiran kami…

Seandainya ada pembaca yang ”nakal” untuk berkomentar atau setidaknya mengganti ornamen-ornamen pada fragmen sajak tersebut. Hasilnya bisa saja sangat berbeda. Dan akan tidak lagi personal dengan pengalaman batin TS Pinang. Misalkan saja demikian ;
“Saya memotong telur dadar itu sebelum melelehkan kecap kental manis. Sederhana saja. Sebelum memasukkan sepotong demi sepotong ke dalam mulut.”

Persoalannya kemudian adalah apakah memang pengalaman si Penyair menjadi demikian penting bagi umumnya pembaca pada saat sajak itu lahir sehingga sedemikian perlu si Penyair berkeras dengan kata kami tersebut?

TS Pinang di dalam tulisannya mengenai ”Ruh, Jiwa, dan Tubuh Sajak” menuliskan demikian ”Ruh sajak boleh dianggap tiada oleh mereka yang belum sampai kepada pengalaman ruhani puisi, atau mereka yang secara sadar menyandarkan diri pada tubuh dan jiwa sajak semata, pada bentuk dan isi saja. Tak jarang, entah penyair entah pembaca syair merasa sudah bersentuhan dengan ruh padahal sesungguhnya mereka baru berasyik-masyuk dengan psikologi sajak.”

Dengan amar seperti ini, jelas bahwa sajak-sajak TS Pinang haruslah diindera tidak lagi dengan bentuk/fisik sajaknya saja, dalam hal ini salah satunya adalah pemilihan kata. Mereka harus dikenali lewat ruh dan jiwa yang ditemukan. Sebab seperti contoh iseng di atas, ketika kata-kata dalam sajak-sajak (bentuk sajak) TS Pinang disangkal oleh pembaca tidak akan didapati pengalaman batin yang ingin dibagi dalam sajak-sajak itu.

Kembali saya telusuri tulisan TS Pinang dalam situsnya, karena ternyata dia punya banyak tulisan tentang puisi seperti yang satu ini; Sajak: Aku merdeka sedari mula diciptakan. Aku memilih kata-kataku sendiri. Penyair tak lebih dari seorang juru tulis yang terhipnotis oleh pesonaku. Ia menuliskan apa yang Aku ingin ia tuliskan! Ya, betapa sombongnya Aku. Begitu katamu, bukan? Ada penyair yang bangga karena kupilih ia untuk menjahitkan baju bahasa untukku. Ada penyair yang merasa ialah penciptaku. Aku tak peduli. Yang terpenting tujuanku tercapai. Menjelma dari gaib menjadi nyata, dalam ujud kata-kata. Dan, wahai pembaca, inilah Aku, cermin dari dirimu, diri penyair, diri kehidupan. Temukanlah gaibku dalam kata-katamu. Temukanlah gaib kata-katamu dalam ujud kata-kataku. (Ketegangan Penyair, Sajak, dan Pembacanya.)

Dari tulisan ini, ada titik cerah untuk menerawang ke dalam sajak-sajak TS Pinang yaitu dengan memperlakukan mereka sebagai sesuatu yang mewujud dalam rangkaian kata yang dituliskan olehnya. Apakah itu? Untuk mengetahui hal ini maka kita harus menelaah satu per satu sajak-sajak itu. Sebab boleh jadi – bahkan sangat boleh jadi – hal yang menjadi perwujudan dalam sajak-sajak TS Pinang adalah sesuatu yang berada di luar keterbatasan penyairnya. Dan oleh sebab itu pula, penggunaan kata kami sangat dapat dimaklumi.

Deskripsi Keinginan bukan Gambaran Imajinatif

Berbicara soal Kunci setidaknya kita berhadapan dengan sebuah benda yang merupa. Bukan sesuatu yang imajinatif. Setidaknya, ada penegasan-penegasan terhadap imaji-imaji yang digunakan oleh TS Pinang tentang benda-benda yang disebut tetaplah seperti apa yang ada di benak pembaca. Ambil contoh beberapa benda ini;

  • Sumur
  • Regol
  • Cellar
  • Tangga
  • Loteng
  • Cincin
  • Kunci
  • Lampu, dll.

dan beberapa kata kerja juga seperti ini;

  • Penat
  • Rindang
  • Gatal
  • Memasak
  • Mendangir
  • Belajar
  • Membaca
  • Terbang, dll.

Semuanya adalah kata-kata yang punya pengertian dasar yang sama, tak dipersulit, tak diperindah, tak diputar-balikkan maknanya. Lantas apa bedanya ketika kata-kata itu menjadi puisi? Lagi-lagi, menyitir pendapatnya soal puisi, TS Pinang menulis bahwa “Puisi adalah sebagaimana kau mengimaninya.” Pun ditegaskan dalam isi tulisan soal itu, dalam sebuah cerita Zen disebutkan ”Sebuah jalan yang dianggap keliru, jika ditempuh sepenuh hati akan membawa seseorang ke sebuah pencapaian ruhani daripada jalan yang diyakini benar tetapi ditempuh setengah hati.”

Artinya, dalam hal sajak-sajaknya itu, kata-kata yang bermakna dasar sama adalah sajak ketika dibaca dengan sepenuh hati oleh pembacanya itu. Benarkah demikian? Mari kita kupas satu sajaknya yang berjudul Kunci. Sajak yang judulnya sekaligus menjadi judul himpunan puisi ini.

Kunci

kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua makhluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa.

langkah kami seinjak demi seinjak, seperti ketuk kata dalam sajak. kami saling rengkuh seputaran anak kunci, membuka gerbang pintu langit kami: pintu berdaun tebal kayu jati, dengan engsel yang berbunyi.

Perhatikan bahwa yang dimaksud kunci di sini adalah tetap anak kunci yang dipergunakan untuk membuka pintu – atau juga gerbang. Sementara dalam sajak ini juga disebut gerbang yang tidak lain dan tidak bukan juga bermakna pintu bukan sesuatu yang berbeda semisal kata gerbang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu gerbang kemerdekaan.

Bahkan dalam akhir sajak ini, dideskripsikan soal gerbang yang juga pintu langit bagi kami adalah pintu berdaun tebal kayu jati, dengan engsel yang berbunyi. Yang dengan demikian, yang menurut TS Pinang sebagai pintu langit adalah sama seperti pintu siapa saja yang terbuat dari kayu jati dan engselnya berbunyi. Pintu yang bisa kita jumpai di rumah siapa saja, bukan?

Melalui hal seperti ini, TS Pinang tidak sedang merumitkan metafora yang dibangun dalam sajak-sajaknya malah mendekonstruksi pemikiran bahwa metafora adalah hal-hal imajinatif menjadi hal-hal yang sederhana bahkan terlalu nyata.

Lalu di manakah letak puisi yang dikandung jika dikatakan oleh William Woodworth puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan? Alih-alih menyoal pandangan Woodworth, saya merasa lebih sesuai mengambil pemikiran Dunton yang menyatakan puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Sebab dengan demikian, untuk menikmati sajak-sajak TS Pinang dapat mengesampingkan imajeri-imajeri yang dia himpun. Bukan bermaksud menafikan, tetapi lebih tidak mempersoalkan. Alasannya jelas, imaji-imaji yang dibuat oleh TS Pinang bukan imaji yang bersifat memberikan gambaran imajinatif pada sesuatu melainkan – seperti contoh tadi – meletakkan imaji tersebut pada kelayakan semestinya.

Hemat saya – seperti memberi persetujuan pada pandangan bahwa “poet” dalam bahasa Yunani didefinisikan pula sebagai orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi – sajak-sajak yang diciptakan oleh TS Pinang adalah sajak yang berusaha menampilkan kebenaran yang tersembunyi itu. Bukan menutup-nutupinya atau mengaburkannya.

Kebanyakan – dan hanya sedikit memang yang tidak – sajak-sajak dalam Kunci ini dihantarkan dengan prinsip “bekerja” atau melakukan sesuatu. Seperti dalam sajak Kunci tadi dibuka dengan “kami membuka gerbang langit.” Di sajak lain seperti sajak Cincin, dimulai dengan frasa “kami kenakan cincin.”

Artinya, sajak-sajak TS Pinang lebih banyak mengejawantahkan suatu keinginan menjadi sebuah laku atau perbuatan. Ini sangat berbeda dengan sajak-sajak pada umumnya yang biasanya lebih mengutamakan perasaan atau permenungan.

Dengan hal ini, saya lebih cenderung untuk menyebutkan sajak-sajak TS Pinang ini adalah deskripsi keinginan daripada penggambaran perasaan. Ada suatu sikep yang ingin ditularkan atau sekedar diceritakan. Hal ini saya utarakan tanpa bermaksud menggali keterkaitan TS Pinang dengan paham Samin – yang berkembang dari Blora, Pati, Kudus, Bojonegoro, sampai Brebes dan Lamongan yang sangat bisa tidak ada kaitannya walaupun dia lahir di Pati – tetapi yang saya maksudkan adalah adanya suatu pemahaman dan ideologi yang sudah mendarah-daging dari TS Pinang terhadap sajak-sajaknya. Dan karena dalam pandangan saya pemahaman dan ideologi tersebut sudah lebih dari sekedar bersikap, bertutur kata, dan berwacana maka saya lebih suka menganggapnya sebagai sikep.

Yang berarti adalah Alusi bukan Ilusi

Meskipun hampir tidak kentara, kilasan-kilasan peristiwa dan kenangan tetap nampak pada sajak-sajak TS Pinang. Dari sisi lokalitas, lewat sajak Rokok Keretek misalnya, jelas-jelas bisa dilacak “keberadaan” si Penyairnya. Di sana disebutkan “Ladang tembakau di kakimu, Merapi.” atau di sajak “Berasap” juga disebutkan “kami mungkin bernenek moyang Merapi,…” menegaskan sifat lokal dari sajak-sajaknya.

Meskipun secara utuh rasa dari sajak-sajak itu sangat bisa lepas dari lokalitas tersebut. Dari hal lain, soal istilah-istilah arsitektural misalnya, juga menguatkan unsur “lokal” – yang tidak berarti soal tempat – pada sajak-sajak itu. Setidaknya hal-hal ini menegaskan adanya unsur kilasan peristiwa atau kenangan ketika sajak-sajak itu dilahirkan.

Kadang, TS Pinang terlihat jujur dalam menempatkan hal-hal yang bersifat mengenang atau mengilas dalam sajak-sajaknya. Ambil contoh pada sajak “Suram” ditulisnya demikian “kadang kami bernostalgia mengenang saat lampau”, atau dalam sajak “Seterjal Makna” yang di sana ditegaskan adanya kenangan pada sajak Afrizal Malna, yang walaupun ditulis “…,bukan di sajak Afrizal Malna.” Mungkin seperti pernah ditulisnya “….Puisi dan Kau akan berbincang-bincang dengan satu bahasa saja: kejujuran hati!” (Berba(ha)sa-basi dengan Puisi) maka kalimat atau frasa yang terasa jujur itu tidak menjadi soal ketika kita menemukan hal itu pada sajak-sajak dalam Kunci ini.

Dengan hal seperti ini, maka sebagai pembaca pun, saya harus rela mencermati kata demi kata dan mencoba memposisikan diri pada hal-hal yang disuguhkan dalam setiap sajak di buku ini. Setidaknya, kita harus membayangkan diri sebagai sesuatu yang ditampilkan. Sebagai contoh pada sajak “Par Excellence” maka kita membayangkan bagaimana menjadi kolibri, rajawali, pipit, bulbul, dan burung-burung lain yang disebutkan di sana. Meskipun mungkin hanya sekedar mencari gambarnya agar tahu “begini rupa burung itu…” Suatu hal yang memang lumrah ketika kita menjumpai sesuatu bernama “sajak.” Atau pada sajak-sajak yang bernuansa perjalanan seperti pada sajak “Mengaso” dan “Memoar Dermaga” kita diminta mengindera dan merasa apa yang dituliskan di sana. Sebagai pelancong, sebagai petualang, dan di sajak-sajak lainnya adalah sebagai seorang manusia normal. Yang bekerja, bertamasya, memasak, membaca, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, TS Pinang mengolah kenangan dan lintasan peristiwa itu bukan untuk semata-mata diindera lewat mata belaka. Sehingga bisa ditegaskan bahwa sajak-sajak TS Pinang ini tidak dapat digolongkan ke dalam sajak-sajak potret atau sajak-sajak yang menganut imajisme, meskipun banyak menggunakan imajeri.

Kami Hanya Digunakan untuk Membuka Puisi

Berkaitan dengan hal turut merasakan dalam setiap aktivitas dan aktivasi yang terkandung dalam sajak-sajak di dalam Kunci ini, mau tak mau kita harus kembali menelisik soal kami yang di awal sudah disinggung. Sebab meskipun kami dalam sajak-sajak TS Pinang begitu berdikari atau mandiri dan menarik garis tegas antara puisi, penyair, dan pembaca, tetapi dalam pendalaman akan ruh dan jiwa sajak-sajaknya itu, mau tak mau pembaca terseret dalam kesatuan kami yang berada di seberang itu. Inilah nilai paradoksal dalam sajak-sajak TS Pinang! Sebuah paradoks yang jarang ditemui. Ibarat sebuah anak kunci yang jelas berbeda dengan tangan, tetapi akan bersatu ketika kita hendak membuka pintu. Mungkin seperti inilah kami dalam sajak-sajak TS Pinang itu.

Tinggallah kita, apakah hendak melangkah ke dalam/ke luar pintu yang sudah terbuka itu, atau tetap penasaran dengan anak kunci tersebut. Saya, seperti sudah dituliskan di awal, lebih peduli untuk menelisik ke dalam dunia yang ditawarkan dibalik pintu itu.

Dunia seperti apakah yang ditawarkan dalam sajak-sajak TS Pinang sebenarnya? Jika dilihat dari tubuh sajaknya, ada semacam penekanan di bait akhir sajak-sajaknya.

  • lalu kami akan segera pulang. ke kampung tempat kami berladang. membawa mentari kembali. ke negeri kami yang lama kehilangan siang. (Arkade)
  • di negeri kami. Setiap pagi selalu bermula dari daun jendela, dan aroma angin pertama.(Jendela)
  • singkirkan langit, laut, api dari mata kami. singkirkan gunung, sungai, batu dari mata kami. singkirkan senja, malam, pagi dari mata kami. Singkirkan lalu, kini, nanti dari mata kami.(Doa Lupa Kami)
  • kami gemar berpesta sejak malam bunting hingga pecah ketuban subuh. menjelang pingsan akibat lelah, kami memicingkan mata menatap dinding. mencoba meluruskan lukisan kaligrafi yang miring. tiba-tiba kami merasa begitu cerdas dan penting. (Lucah)
  • dll.

Seperti juga dalam sajak berjudul “Badar” yang kata yang dipakai dalam judul itu adalah juga kata yang mengakhiri sajak tersebut. Larik akhirnya begini: jantung kami yang gugup. pelita yang redup. selalu berhasil membatalkan tapa kami. gagal oleh debar. badar. Meskipun bukan pada keseluruhan sajak-sajak dalam buku ini, akan tetapi fenomena demikian ada di banyak sajak-sajaknya seakan dapat dijadikan satu hipotesa bahwa kepentingan atau bisa dikatakan ngeng – seperti ruh dalam nada-nada gamelan – dalam sajak-sajak TS Pinang berada di bagian akhirnya. Apakah dalam hal ini kemudian ada semacam sampiran dan isi atau semacam jurus kembangan di dalam sajak-sajak tersebut?

Jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Karena TS Pinang adalah pengrajin yang betul-betul telaten menyembunyikan hal-hal semacam itu. Meliukkannya dalam setiap larik, setiap bait seperti halnya seorang empu menempa keris. Luk sebagai bagian dari keris tetap menjadi hal yang penting meskipun ketajaman adalah hal utama! Seperti dalam sajaknya “Dungu” di bagian akhir dia menempatkan kata “tersebab itulah” yang menyebabkan rangkaian kata di atas larik akhir itu harus juga dicerna dengan baik. Juga seperti pada sajak “Mabuk” dengan apik dituliskan kata “tiba-tiba” yang juga mengekalkan hubungan bait sebelumnya dengan bait terakhir di sajak itu. Luk memang bagian dari keris, dan bukan sesuatu yang bisa dipisahkan.

Berjalan Tertatih Berkembang jadi Terlatih

Sebenarnya, ada petunjuk bagi pembaca untuk dapat meraih ruh puisi, terutama pada sajak-sajak – yang mungkin disengaja – diletakkan pada Kunci 4. Hal ini berdasarkan pemilihan kalimat yang seakan-akan menuntun kita untuk menelisik ke dalam diri ketika menemukan atau membaca sebuah sajak.

Seperti pada sajak “Meneliti” yang saya cuplikan demikian; “kami rasa kami harus memulai belajar menelisik seluk lekuk, mengurai syarat dan rukun, hukum-hukum yang mengatur nafas semua mahluk. kami rasa kami harus mempelajari jurus-jurus yang tertib.” Di sajak ini jelas diletakkan bagaimana caranya kita menjangkau ke arah ruh puisi yang dihembuskan. Perlu ketelitian yang besar untuk menemukan sajak yang sesungguhnya di balik sajak yang mewujud ini. Atau yang bisa disebut ruh dari sajak ini.

Hal ini dikuatkan dalam sajak berikutnya, yaitu “Menatap” yang masuk dalam antologi 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (Gramedia – Anugerah Pena Kencana, 2009) yang mengatakan, ”lalu kata-kata yang memercik dari cahaya mata kami saling membuahi. begitulah cara kami menyemai puisi. dalam tatap mata kami itu kata-kata kami bermutasi atau metamorfosa atau membasi. kami menatap setiap kata yang lewat, singgah, mati. atau yang datang, menetap, menjadi. kami menjadi saksi bagi kata-kata yang bermutasi jadi puisi, seperti percikan cahaya mata kami menjelma jadi kembang atau kumbang. menjadi lupa atau kenang.” Lewat sajak ini, TS Pinang seperti mengatakan bahwa di dalam sajak-sajak dia, pembaca harus mencermati setiap kata sebelum bisa mengambil ruh dari sajak-sajak itu yang merupakan puisi yang sejati.

Sebelum hal yang lain, perlu juga dicermati bahwa sajak-sajak TS Pinang sangat intens menyembunyikan teknik berima dalam kesatuan kalimat. Sehingga ketika dibaca, bagi yang tidak jeli sepertinya tidak atau kurang bisa menangkap rima dari sajak-sajak itu. Tetapi jika dibacakan atau dilafalkan barulah akan dengan mudah ditemukan. Contoh yang baik seperti pada petikan sajak “Menatap” di atas.

Jika boleh dikaitkan dengan olah pernafasan, maka teknik seperti itu adalah teknik bernafas yang hampir sempurna. Di mana tidak lagi terdengar sengalan, hembusan, atau helaan. Melainkan sayup-sayup belaka adanya. Meski demikian, tidak semua sajak-sajak dalam himpunan ini betul-betul seperti itu. Ada juga yang masih bisa dikatakan “bermain-main” dengan rima. Contohnya pada sajak “Bergegas” ini; … kami mesti buru-buru, berbakutipu dengan gerhana dan waktu. kami mesti bersiasat dengan cerdas, beradu lekas, adu gegas…

Meskipun dari awal teroka ini disebutkan bahwa untuk mendalami sajak-sajak TS Pinang sepertinya kita harus mengabaikan bangunan sajaknya, akan tetapi kadang ada saja hal-hal yang menggelitik untuk tidak diabaikan. Hal ini menjadikan pembaca kadang harus selalu berhati-hati, tertatih-tatih, untuk kemudian pada akhirnya mampu menjadi seorang yang sangat terlatih dalam penguasaan alat-alat puitika.

Puisi Ditakuti, Puisi Diikuti

Satu hal lagi yang cukup mengagetkan bagi pembaca adalah pandangan TS Pinang tentang puisi yang menakutkan! Ini tertulis dalam sajaknya “Mengeluh” yang kalimat terakhirnya berbunyi, ”apa yang lebih menakutkan daripada puisi, yang ribuan kali kami coba ingkari, ribuan kali pula kami kembali?”

Sebenarnya, bagaimanakah puisi menurut penyair kita ini? Selain ditakuti, puisi menurut sajak-sajak yang dimasukkan dalam himpunan ini adalah;

  • halaman yang mencatat sejarah kata-kata (?) “…lihatlah kami lupakan sejarah kata-kata di halaman puisi, …” – Sajak “Koran Minggu”
  • semacam nyanyian atau kidung (?) “…kami bulbul. memadamkan bara neraka di dada kiri, menyanyikan puisi pada singgasana brahma…” – Sajak “Par Excellence”
  • sesuatu yang dicanderai dengan aksara Jawa Pa, sesuatu yang juga dapat luluh oleh nyanyian (?) “PA. puisi kami luluh melulu oleh tembang usang, pena kami lusuh oleh tinta berwarna bimbang…” – Sajak “Aksara Jawa”
  • sebuah kata sandi (?) “…mungkin itulah pintu yang tak sanggup kami lewati sebelum kami mantrakan kata sandi. puisi! puisi! puisi! puisi! puisi! puisi! puisi!” – Sajak “Sakral”
  • Judul yang bisa juga berarti / merujuk pada seseorang (?) “siapakah judul puisimu?”… – Sajak “Dungu”
  • metamorfosa dari kami, dari angsa laut (?) “…menjadi puisi…” – Sajak “Terbang”
  • hasil rebusan mimpi (?) “…merebus mimpi-mimpi kami menjadi puisi…” – Sajak “Rebus”
  • mutasi dari kata-kata (?) “…kami menjadi saksi bagi kata-kata yang bermutasi menjadi puisi…” – Sajak “Menatap”

Apakah kesemua pengertian puisi ini bisa dirangkumkan? Jika dicermati, maka ada tiga tahapan dari sesuatu menjadi puisi dalam pengertian di atas. Tahap pertama adalah puisi merupakan pembuka dari sesuatu. Keriuhan imajeri yang dijejalkan mungkin semacam pintu gaib bagi pembaca untuk bisa mengambil ruh sajak tersebut. Dan TS Pinang lewat Kunci ini mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan sederhana tadi. Puisi adalah kunci pembukanya, bahkan mantra ajaib semacam “Open Sesame” seperti dalam kisah Ali Baba itu.

Tahap kedua adalah puisi sebenarnya adalah langkah lanjut dari proses membuka itu. Sesuatu yang bermutasi, metamorfosa, hasil perebusan, hasil suatu kriya, kerja, dan sebagainya. Jika dalam lagu “Kepompong” puisi adalah ketika sampai pada kalimat “mengubah ulat menjadi kupukupu.”

Sedang tahap ketiga dari puisi adalah tujuan atau rujukan. Sesuatu yang dijadikan alamat terakhir sebuah penyampaian. Bisa Tuhan, alam semesta, diri kita pribadi, dan lain-lain pihak.

Ketiga tahap ini mengingatkan saya akan “Jalan Pedang” yang dianut oleh pendekar-pendekar Samurai Jepang abad lampau. Bushido adalah cara, adalah kinerja, adalah hasil, adalah tujuan. Dan seperti pernah saya ketahui, TS Pinang pernah mendalami salah satu ilmu beladiri yang memungkinkan dia menganut paham seperti ini. Dan sepertinya, lewat Kunci ini dia sedang berusaha mengatakan pada kita “Follow me!”

Bagian Akhir yang Memulakan

Imaji Kunci sebenarnya tidak terlalu banyak dalam sajak-sajak di himpunan ini. Yang banyak sebetulnya adalah imaji pintu. Ada beberapa sajak yang memuat kata “pintu” itu. Walaupun demikian, tak salah memang jika kata “Kunci” yang mencuat menjadi judul, karena tidak ada pintu yang dapat terbuka jika tidak terlepas kunciannya.

Ibarat orang menduga ada siapa atau ada apa di balik sebuah pintu yang tertutup, sajak-sajak TS Pinang memang terkesan mendefinisikan pintu itu dengan baik. Mempertelakan dengan sangat jelas dan bahkan gamblang tentang pintu imajiner itu, sekaligus memberikan kunci bagi pembaca untuk bisa membuka dan masuk ke dalam dunia puisi yang sesungguhnya. Sebagai ilustrasi, saya akan mengutipkan beberapa larik dari sajak yang juga masuk ke dalam 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009, yaitu sajak Bersepeda.

Bersepeda

kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju. kadang kami membawa penumpang, sebongkah pantat, sekarung kentang, atau bebek calon santapan yang dipadatkan dalam keranjang. kalau kami boleh memilih, kami lebih suka membawa telur. kami bahagia membayangkan telur itu kelak menetas menjadi ayam yang kelak bertelur pula. skenario lingkar kehidupan. kami tak bahagia membayangkan telur itu busuk atau punah di piring sarapan manusia. tapi kami tak bisa terlalu memilih. kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. mengayuh saja.

Kita bisa melihat bahwa TS Pinang memberi gambaran yang sangat jelas tentang pintu yang harus kita lewati; kami ini sepasang kaki. Sangat jelas disebutkan di sana bahwa pintu itu berupa sepasang kaki. Bukan sepedanya, bukan penumpang, bukan pantat, bukan sekarung kentang, bukan bebek, bukan telur. Pintu dari ruh ini adalah sepasang kaki belaka. Lalu apa ruh-nya? Apa yang ditawarkan oleh pintu itu?

Perhatikan kalimat terakhir dari sajak itu; mengayuh saja. Demikianlah sajak itu ditutup. Dan kalimat itu sangat berkaitan dengan pintu dalam sajak tadi yaitu sepasang kaki. Jadi ruh dari puisi itu adalah sepasang kaki (yang) mengayuh saja.

Kira-kira demikianlah menduga anak-anak kunci yang disuguhkan oleh TS Pinang lewat Kunci ini. Tapi benarkah segampang itu mengindera sajak-sajak dalam buku ini? Tentulah tidak. Seperti saya kemukakan di atas, TS Pinang adalah seorang yang telaten dan sabar mengelindankan perasaan pada setiap liuk dan lekuk kata seperti juga dia mengatur nafas dari rima dan irama sajak-sajaknya.

Seperti pada sajak “Mabuk”- sajak yang pernah dimuat di Kompas September 2008 lalu – di bagian akhirnya muncul sesuatu yang tidak terduga sejak awal sajak. Selengkapnya sajak itu seperti ini;

Mabuk

kami tumbuh dari kelopak bunga kamboja di tanggul kolam koi. kami besar di kelopak teratai yang berenang di tengah kolam. kami dewasa di kelopak mata, tempat kami mula-mula belajar dusta.

setelah cukup usia, kami mulai belajar menyelam. merunut sulur akar dan sisik-sisik ikan yang rontok. kami menghanyut bersama arus sungai. menghilir. berkelok. kami mulai menghafal batu-batu yang kami jumpai. ada yang ramah. ada yang garang.

kami berenang. kadang kami mengayuh dengan jujur, kadang curang. kami sedang mencari rahasia kecantikan rembulan. keelokan yang membuat kembang berebut mekar, membuat birahi ombak lautan. keelokan yang membuat kami mabuk cemburu.

di danau, kami bertamu pada kelopak-kelopak narsisus, kembang yang tenggelam dalam air matanya sendiri akibat tak habis sesalnya mencuri rahasia rembulan. ia mengutuk dirinya sendiri. terlalu cintanya pada wajah sendiri, tak sudi ia mengutuk yang lain.

tiba-tiba kami mual. memuntahkan purnama yang kami telan malam tadi.

Ketika bertemu sajak-sajak TS Pinang yang seperti ini, kembali saya berpatokan pada ‘mengindera’ yang lebih dari sekedar ‘melihat’ pada sajak ini. Di beberapa sajak, seperti sudah saya katakan, kita harus bisa ‘mencoba membayangkan’ jika kita menjadi kami.

Sehingga, jika ini terjadi, ketika mendapati akhiran yang seakan-akan berbelok tajam seperti tiba-tiba ada ‘purnama’ yang dimuntahkan di akhir sajak ‘Mabuk’ tadi, kita – pembaca – sudah maklum bahwa seperti itulah jika kami mabuk.

Kesimpulan

Sekitar 60 Sajak-sajak TS Pinang yang dihimpun dalam sebuah buku berjudul “Kunci” yang diterbitkan oleh omahsore ini semuanya dihantarkan ‘kisah’-nya atau dibuka dengan kami yang menarik garis tegas antara pembaca dan penyairnya. Tetapi pada saat berjumpa dengan sajak-sajak yang ‘kisah’nya tidak bisa diindera dengan baik oleh ‘mata’ pembaca, pembaca harus menjadi kami di dalam sajak itu.

Sajak-sajak TS Pinang menawarkan dengan baik permenungan untuk menyadarkan pembaca pada hal-hal di luar ‘bentuk’ sajaknya. Sajak dalam bentuknya bagi TS Pinang hanyalah sebuah pintu yang akan membawa pembaca pada ruh yang di beberapa kesempatan disebut olehnya sebagai puisi yang sebenarnya.

Puisi yang dimaksud dan digambarkan secara baik dalam sajak-sajak TS Pinang mencakup tiga tahapan yaitu pembuka, hasil proses, dan tujuan. Sementara dari sisi bentuk, kadang ruh sajak-sajak TSP dikaitkan dengan kalimat-kalimat sajak di bait terakhir.

Penggunaan rima, irama, pengukuran metrum dikelindankan pada sejumlah kalimat atau frasa di dalam sebuah sajak yang tidak menganut patron tertentu atau biasa disebut sajak bebas ini. Keefektifan ini dapat dirasakan jika pembaca mau melafalkan sajak-sajak TS Pinang ini, atau setidaknya ada yang membacakannya.

Kelihaian mengelindankan alat-alat puitika dalam setiap sajaknya membuat TS Pinang dapat dicandera sebagai penyair yang sabar, ulet dan telaten, atau kadang disebut panjang nafas. Dengan hal ini, maka diharapkan umur kepenyairannya akan panjang juga.

Sebelum penutup, saya akan mengutipkan satu sajak yang bagi saya masih menyimpan sesuatu untuk bisa dipecahkan lebih lanjut.

Kekal

berkali-kali di batas waktu kami terjungkal. berkali-kali kami terbang ke awan yang menggantung di puncak rambut kami. berkali-kali pula kami menyelam di palung ingatan.

berkali-kali kami mencari pintu lemari di mana kami simpan segala yang abadi. berkali-kali kami gagal sebab tipuan waktu setiap kali membuat telapak kaki kami gawal, resiko yang kami tahu sejak awal. berkali-kali kami tercebur kembali ke kubang lumpur sawah, lalu tumbuh kembali sebagai kecambah. kami terkutuk oleh kala, tak bisa mati sebab usia kami tak pernah habis, selalu bertambah. “hore! mari kita rayakan!” lalu, kami selalu limbung tertimpa lupa.

kami tahu kami makhluk yang kekal. kami hanya lupa di mana menaruh kunci pagar.

Sajak ini berbeda dengan sajak-sajak di Kunci ini karena di bagian akhir masih menyembunyikan makna dari imaji “kunci pagar.” Mendapati sajak ini, saya terpaksa mendekatinya dengan literasi kitab suci di mana dulu manusia pernah tinggal di dalam sebuah taman dan mereka kekal.

TS Pinang lagi-lagi menunjukkan kelihaiannya sebagai penyair yang mampu mengambil sudut pandang yang sangat berbeda dengan literasi kitab suci itu. Dia tidak mengamini bahwa Adam dan Hawa itu terusir dari Taman Eden, melainkan mereka ‘terlampau asyik’ dengan perjalanan mereka sehingga lupa di mana mereka menaruh kunci pagar taman itu. Secara tekstual memang sepertinya tidak ada hubungannya kami di sana dengan literasi Adam dan Hawa, tetapi kami di sana merupakan representasi dari manusia.

Setidaknya ada beberapa imajeri lain yang menjadi misteri selain kunci pagar itu, seperti ‘pintu lemari’ tetapi yang menjadi begitu esensial adalah pagar! Pagar bisa berarti hal yang berhubungan dengan keamanan, tetapi jika dibilang lupa berarti lebih dekat dengan sesuatu yang disesali. Seperti pulang larut malam misalnya. Tapi saya percaya, imaji itu lebih dalam maknanya dibandingkan hal semacam itu. Sebab itu, saya langsung mengkaitkannya dengan literasi di atas.

Nilai paradoksal pada sajak itu adalah – seperti biasanya, di bagian akhir sajak – ‘kami tahu kami mahluk yang kekal. kami hanya lupa di mana menaruh kunci pagar’ yang mencerminkan adanya satu pernyataan yang dibatalkan oleh pernyataan lainnya. Dengan demikian, karena lupa kunci pagarnya maka kami pun tak lagi jadi kekal. Kira-kira begitu gambarannya. Boleh jadi, ini adalah contoh sajak yang bernilai religius tanpa harus serta merta menyebut kata Tuhan, Allah, atau menjadikan orang ke dua atau ke tiga dengan awalan huruf kapital. Tapi inilah TS Pinang. Penyair yang lewat sajak-sajaknya selalu menawarkan permenungan bagi pembacanya. Sajak-sajaknya seperti berjarak tetapi pada dasarnya lekat dengan pembacanya.

Dengan menyuguhkan 60 sajak yang secara bentuk konsisten dan secara empiris juga konsisten meletakkan kedalaman makna pada bagian-bagian tertentu, TS Pinang telah menjadi penyair yang tidak peduli pada pengkotak-kotakan aneka ragam sajak seperti sajak religius, sajak cinta, sajak realitas dan sebagainya. Sajak-sajaknya dapat digali dengan pandangan tertentu. Sesuka hati para pembaca. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengklasifikasikan pembaca sajaknya.

Penutup

Meskipun tanpa pengantar, ke 60 sajak TS Pinang dalam buku berjudul Kunci ini sampai dengan baik. Persoalan klise seperti pengaturan rima atau mengejar rima memang masih ada, tetapi hal itu samasekali bukanlah sebuah kendala dalam mencerna sajak-sajaknya. Sebagai penyair, TS Pinang sudah mampu menunjukkan sajak-sajak yang jujur, sajak-sajak yang punya ideologi dan sikap tertentu, sajak-sajak yang menawarkan pintu ke ruh dari sajak itu sendiri. Sajak-sajak yang punya kuncian dan menjadi kunci.

Di sisi lain, TS Pinang sepertinya telah berhasil menjalani kepenyairannya hingga mampu menyimpulkan adanya tiga cakupan atau tahap dalam bersajak. Yang bisa dibilang dengan sajak-sajak seperti ini, sangat jelas terlihat TS Pinang sudah menjadi seorang “pendekar” dalam rimba penyair sekarang ini.

Kunci secara umum adalah buku yang bagus bagi pembaca secara umum dan penyuka sajak khususnya untuk selalu mencintai dan menemukan puisinya sendiri. Dan seperti pesan yang dituliskan di halaman sampul dalam sebelum tandatangannya, TS Pinang lewat Kunci ini seakan berkata pada kita semua; bukalah segala pintu!

Jakarta, 10 Juli 2009


Di sisi lain, TS Pinang sepertinya telah berhasil menjalani kepenyairannya hingga mampu menyimpulkan adanya tiga cakupan atau tahap dalam bersajak. Yang bisa dibilang dengan sajak-sajak seperti ini, sangat jelas terlihat TS Pinang sudah menjadi seorang “pendekar” dalam rimba penyair sekarang ini.

Kunci secara umum adalah buku yang bagus bagi pembaca secara umum dan penyuka sajak khususnya untuk selalu mencintai dan menemukan puisinya sendiri. Dan seperti pesan yang dituliskan di halaman sampul dalam sebelum tandatangannya, TS Pinang lewat Kunci ini seakan berkata pada kita semua; bukalah segala pintu!

Please follow and like us:

Reply