Spasi Hijau

sepanjang usia kota kami, kian renta ia dengan keriput di wajahnya. uban berwarna abu di dinding-dinding gedung, kaki-kaki jembatan, dan serabut retakan serupa selulit di kulitnya yang bangka.

sepanjang usianya kota kami menjadi halaman yang kian penuh tulisan. berjejalan di spanduk-spanduk, rambu-rambu, graffiti dan pamflet-pamflet. bergelantungan di tiang-tiang telefon dan papan-papan reklame. tulisan yang diketik serba tergesa, seperti sajak yang kian jenuh kata-kata, tulisan yang semakin tumpul, semakin pejal, semakin berat dan rapat.

wajah kota kami yang uzur itu seperti luntur. warna coklat lumpur sawah yang kian tergusur ke pinggir ingatan, berganti bedak tebal dan polesan stabilo yang menegaskan setiap kata dengan setiap warna. wajah tua yang kian genit dan semakin memuakkan, merebus dendam di dada kami diam-diam. kesumat rindu pada sebidang spasi berwarna hijau, tempat kami berwudu dari elektron kemarau.

1 Reply

  1. Nila Ch Reply

    I like this.
    Sajak yg bgus. Inilah realita.

Reply