Gempa Tanah Kami

bumi berguncang. kami terdiam dalam cengang dalam galau dalam helaan nafas dalam-dalam. kami sebut nama Tuhan dan nama anak-anak kami, ibu-bapa kami, handai taulan kami yang terguncang-guncang dalam ingatan kami. kami sebut nama Tuhan dalam doa patah-patah terbata-bata membilang siapa-siapa yang terlewat kami sebut namanya, mencari-cari siapa-siapa yang terlupa wajahnya, siapa-siapa yang berebut menggapai-gapai kecemasan kami.

bumi kami meregang, rengkah serupa amarah serupa rahang yang gemeretuk menahan geram. kami bersujud dalam ketiadaan daya, lumpuh rasa lumpuh kata, bagai butir pasir dalam pusaran palung yang memuting, membawa pergi satu-satu yang kami cintai tanpa sempat memohon diri. kami terdiam dalam cengang dalam absen kesadaran, tersihir oleh geletar di telapak kaki, tak hilang-hilang ngilunya sampai di debar hati.

engkau bilang ini gempa, kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang ini karena dosa kami belaka. kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang, bertobatlah demi azab Tuhan! kami bilang ini sepenggal kisah duka. kami bilang ini kisah duka, babak lain dari kisah cinta. sebagai kami tetap cinta tanah kami, betapapun murka dia, betapapun luka dia. kami anak-anak bumi, lahir, hidup, mati kami oleh cintanya juga.

bumi kami berguncang. kami hilang kata-kata. tapi semoga guncang gempa tanah kami ini, tak pula menggugurkan daun-daun cinta kami, pada bumi kami di mana tertanam kisah-kisah sejarah leluhur dan anak-cucu kami.

__________________________
Dibacakan dalam acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar di gedung HTIB (Turkse Arbeidersvereiniging in Nederland), Eerste Weteringplantsoen 2C, Amsterdam, 18 Oktober 2009.

Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010

1 Reply

  1. ARDHAZZ Reply

    Puisi yang Indah … Hmm.. Belanda juga punya masa kelam ….

    TUHAN DI ATAS ROTTERDAM

    Hari ini 10 Mei
    Aku bagai bergumul mimpi
    Berpuing-puing kotaku hancur bak remahan roti
    Berpuluh ribu bangkai membisu bak rongsokan yang tak dibutuhkan oleh tuannya lagi

    Hari ini 10 Mei
    Aku bagai bergumul mimpi
    Kudengar jerit tangis mengoyak nurani
    Kucium bau amis merebak mewangi

    Lalu sayup kudengar rintihan melambai
    Rintihan yang tak asing bagi kalbuku
    Rintihan yang membuai sukmaku dalam rindu

    Aku mengenal suaramu Gisella
    Putri nahkoda tua dari Hoek Van Holland
    Sehari lalu senyum parasmu menyapaku kala menyisir Nieuwe Waterweg
    Sehari kini derita parasmu mengoyak batinku

    Perihku Gisella menikmati tubuhmu
    Bertelanjang ragamu berbedak darah
    Luka-luka bakar keji mengelupas kulit mulusmu
    Luftwaffe – luftwaffe bengis telah mengiris – iris kemolekan ragamu
    Hanya menyisa keindahan batinmu, Gisella
    Keindahan yang gigih tak koyak walau beribu-ribu peluru menembus ragamu.
    Dan tersimbol dalam senyummu
    Senyum pencela ragamu yang berkabut derita

    ‘Aku lamban Gisella’

    Bah Rhein mengalir, sesal mengumpat-umpat sukma
    Namun
    Dalam sengal napas yang memburu
    Lirihmu ;

    ‘ Tak apa, ini karma. Beribu-ribu dosa menimbun negara kita. Kini Tuhan sudi menghapusnya ‘

    Tersentak batinku
    Ketulusanmu membasuh haru batinku
    Berontak bibirku
    Menyerapahi insan-insan bangsa kita yang berotak koloni
    Kita tergetah laku iblisnya

    Kau memandangku, Gisella
    Guratan senyum kembali hinggapi parasmu
    Lalu kau hadiahkan buat siapa
    Buatku, Tuhan, atau Schmidt yang busuk ?

    Kau tak mengidahkanku lagi, Gisella
    Tubuhmu lelah menatap dunia
    Kau tutup mata bukan untuk melepas penat selayak yang lalu
    Namun untuk melepas cangkang ruhmu
    Sehingga ruhmu dapat bebas menari-nari dalam nirwana
    Tak selayak di dunia
    Perang memuja kekuasaan selayak harta
    Pemuas ratu penumbal rakyat jelata

    Tertunduk aku dalam derita
    Lirihku ;

    ‘ Tuhan tertawakah dzat-Mu kini
    Mencela berpuluh-puluh ribu jiwa kami
    Terselimuti badai-badai api
    Pencabut sukma
    Meruntuh harta-harta

    Sayap-sayap Luftwaffe nan keji
    Meraung-raung di atas kami
    Selayak siap memenggal satu-persatu kepala kami
    Mengadili raga

    Kami terkepung dalam mautmu Tuhan ! ‘

    Desingan peluru termakan telingaku
    Mendekat, semakin mendekat
    Hingga kurasa perih mencambuk ragaku
    Pancoran darah menembus keluar ragaku
    Kini berlobang dadaku
    Menyisa rintihku ;

    ‘ Tuhan maafkan aku
    Tuhan maafkan bangsaku
    Tuhan lindungilah Rotterdam ‘

    Rebah aku mencium tanahku
    Aku mati
    Namun Tuhan takkan mati
    Tuhan di atas Rotterdam

Reply