Teror

selamat datang di negeri kami, negeri yang tergadai pada siasat para pencuri. malam-malam tak lagi sunyi dalam hening doa para kyai, dan subuh telah kehilangan ufuknya sebab mentari tak lagi keramat dan malam kian benderang oleh pendar elektron. kami tidur dalam kepala yang hiruk-pikuk tiada henti. nafas kami tersengal oleh debar cemas akan teror apa menanti esok pagi. kasur yang kuyup oleh keringat dan uap air menjelma laut dalam mimpi dengan gelombang yang garang dan bajak laut yang mengancam. Gusti Allah, Gusti Allah, kami domba yang letih hilang gembala, sementara rumpun rumputan kian runcing kian tajam, serupa duri di sulur informasi.

andai kami Ksatria Salya, akan kami watakkan ajian cah candrabirawa, agar pecah diri, raga dan jiwa, lalu membasmi satu demi satu hantu cemas dan ketakutan di setiap sudut dan simpang dalam peta buta negeri kami; satu demi satu perompak dan kecu yang merampas senyum anak-anak kami, senyum para leluhur kami. tapi kami hanya pemimpi yang coba sembunyi dari Batara Kala yang tak henti menebar horor di televisi dan koran pagi.

Reply