Kayon

inilah saatnya Engkau tancapkan Merapi di sebatang debok pisang, penanda akhir babak semalam suntuk kisah bumi yang gonjang-ganjing, punakawan yang bercanda dengan derita dan sakit hati para kawula, para ksatria yang mengumbar tawa lupa papa lupa tapa dan para resi telah bersumpah mengikat lidah mereka dengan mantera pembisu seribu generasi. tragedi sang bumi yang pasi dikutuk sepi, menggigil rindu mentari yang kian redup kehabisan api tersebab terlalu banyak hati yang harus dipanasi.

inilah saatnya Engkau ketukkan cempala, sebab nyala blencong telah musnah ditelan lubang-lubang gulita di luweng hasrat kami yang paling tersembunyi. gending-gending telah tamat dan para niyaga terkapar sirep. lalu apakah arti sebuah negeri bila semua menjadi bayang-bayang? lelakon yang kian bias sebab tak ada lagi tersisa kata-kata yang lugas. hukum menjelma hutan raksasa kata-kata penuh kias.

inilah saatnya Engkau tancapkan gunungan itu, sedikit condong sekedar cukup untuk menandai kisah yang tak lagi layak ditegakkan, babak yang tak lagi elok dilanjutkan. sebab harap dan air mata telah rontok pergi. seperti dedaunan terberai terbang bersama angin.

 

Dimuat di Suara Merdeka Minggu, 10 Juni 2012

 

Reply