Kuda Lumping

1.

negeri kami telah direbut oleh gerombolan hantu. surup dalam tubuh anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen. pasukan monster bayang-bayang mengintai di langit, menjadi mendung gelap menyimpan hujan yang siap merajam wajah-wajah kami. bahkan mantera lingsir wengi, kidung ambang malam, tak mampu mengusir hantu-hantu yang merasuki anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen.

negeri kami menjadi negeri kuda lumping. rakyat seluruh negeri menari dalam igau dan makan beling. topeng-topeng bujang ganong berkelebatan di layar televisi, memanterakan pukau dan sihir membuka gerbang masuk ke negeri mimpi tanpa pintu keluar. hong wilaheng. bilah-bilah pisau menggantikan lidah para menteri. kami terjebak di negeri ambang senja.

2.

kuda bambu kepang bergetar, para penari berlenggak-lenggok dalam ketukan kenong, ning-nong-ning-nong-ning. asap dupa dan air mawar melati, lupakan harga bensin dan aroma nasi yang kian mengepul tinggi, terhisap para dedemit yang bersemayam di langit. para penari menari tanpa henti. penonton ikut menari tanpa mengerti. pawang-pawang kesurupan pula, mantera-mantera mereka lesap di rimbun bayang-bayang.

3.

penyair, o penyair penguasa alam bayang. lecutkan cambukmu. usir para hantu dari rimba kata-kata. jangan biarkan mereka merebut puisimu.

 

 

Dimuat di Suara Merdeka Minggu, 10 Juni 2012

Reply