Keraton Baka

kami bertimpuh di hamparan puing, latar batu yang tercipta dari hati yang pedih dan air mata yang terperam dendam. gerbang-mu yang murung, menghitung senja demi senja bersama kicau burung penjaga bukit.

puing-puing bergeming. angin menjadi hidup dan berjiwa. senja selalu terduduk bersama alunan gending megatruh, tak bertulang, lunglai dalam samadi pemunah dendam yang masih mengapi.

di sinilah di mana Ratu Baka, sang raja bangau, suatu ketika menorehkan kidung kutukan. memutarbalikkan jaman, serupa aksara caraka yang porak poranda menanti pujangga paripurna yang mampu menafsirkannya.

di sinilah kami bersimpuh di pelataran candi, membaca satu demi satu bungkah batu yang cacat oleh luka. remuk oleh sejarah yang tak pernah tercatat dalam kitab babad.

 

Dimuat di Suara Merdeka, 10 Juni 2012

Reply