Category: POESIE


122. Semakin Asing dengan Puisi

HARUS aku akui, kini aku semakin merasa asing dengan puisi, o, Penyairku. Kata-kata yang bergerombol dalam kuplet-kuplet itu tampak begitu aneh dan artifisial. Apakah ini suatu kemunduran apakah ini kemajuan tidaklah jelas benar bagiku. Catatan ini pun semakin kering dan jauh dari kebijaksanaan seorang (bekas?) penyair yang menapaki usia kepala-abu-abu. Dulu pernah kuyakini puisi takkan […]

Continue Reading

121. Bila Penyair Mati Gaya

BEGINILAH, o Penyairku, bila kau tak lagi mampu menulis satu sajak pun dalam kurun waktu cukup lama, lalu kau mulai mencari-cari alasan untuk memaafkaan dirimu sendiri seperti tenggelam dalam rutinitas kerja, atau otakmu mulai tumpul karena termakan usia, atau karena merasa gagal menyegarkan gaya bersyairmu, atau alasan apa pun, maka barangkali saatnya tiba untukmu kembali […]

Continue Reading

120. Ruh, Jiwa, dan Tubuh Sajak

Bila sajak diibaratkan manusia, ia hendaklah terbangun dari unsur-unsur tubuh (fisika), jiwa (psika), dan ruh (spirit). Tubuh sajak mengejawantahkan unsur-unsur yang kasat mata, ujud bahasa secara wantah. Jiwa sajak memancarkan tafsir makna, rasa emotif, duga-sangka logika, gejolak, suasana kepada indera pembaca. Ruh sajak tak muncul dalam sajak tetapi ia laten dan hanya dapat dirasakan oleh […]

Continue Reading

119. Lima Langkah Sederhana Menjadi Penulis

Pertama-tama, menulislah karena cinta. Berikutnya baru menulis untuk tujuan yang lain, entah untuk bersenang-senang belaka, mencari nafkah atau ketenaran, memengaruhi orang, atau apapun. Ketika tujuan-tujuan yang lain itu gagal atau tak tercapai, minimal kau tidak berhenti menulis karena masih ada kecintaan. Menjadi dikenal adalah bagian dari proses, bukan tujuan menulis. Mengirim karya ke media, syukur […]

Continue Reading

118. Meninggalkan Pembaca

Kadang kita terjebak pada gagasan bahwa kita menulis sajak untuk dinikmati orang lain, dinikmati oleh pembaca-pembaca sajak kita itu. Bayangan pembaca yang menunggu, membaca, lalu bereaksi atas sajak-sajak yang kita tuliskan lama-lama menjadi semacam candu. Tak jarang pula komentar dari pembaca-pembaca (yang kita anggap) kuat meninggalkan dampak pada sikap kreatif kita, pada cara kita bersajak […]

Continue Reading

117. Yang Tinggi dan Jauh atau Dekat Teraih Tangan?

PENYAIRKU, ada suatu masa ketika angan-angan tentang kesempurnaan itu begitu tinggi melangit. Saat mula-mula mengenal sajak, seperti tiba-tiba dihadapkan pada kerinduan yang tak terbendung pada Langit. Lahirlah sajak-sajak yang petang, yang gelap seperti langit kemarau yang begitu ingin menampilkan bintang-gemintang yang jauh, surga yang jauh, neraka yang jauh, Tuhan yang jauh. Penyairku, sebelum engkau terjebak […]

Continue Reading

116. Fakta dan Fiksi Puisi

ADA yang bertanya padaku, Penyairku, apakah puisi itu fiksi apakah ia fakta. Aku bilang, puisi di luar fakta dan fiksi. Puisi memiliki kedua-dua unsur itu, fakta dan fiksi sekaligus. Puisi bisa saja disebut fiksi atau fakta atau fakta dan fiksi sekaligus atau bukan keduanya. Kurasa, jika fakta dan fiksi ingin disediakan sebagai tempat kedudukan puisi, […]

Continue Reading