Category: POESIE


115. Penyair Tak Mencipta Sajak

TERGANGGUKAH engkau oleh keningmu yang mengernyit membaca judul sketsa ini, o Penyairku? Mudah-mudahan demikian adanya sebab ini juga menggangguku juga belakangan ini. Aku mulai ragu apakah aku, atau penyair siapa saja, sungguh-sungguh menciptakan sajak-sajak. Setiap kali kubaca sajak-sajakku sendiri, sering kali aku jumpai frasa atau larik yang asing, yang tak kukenal, yang bukan milikku. Bukan, […]

Continue Reading

114. Narasi Jazz dan Puisi Abstrak Expresionis*

SEJAUH menekuni puisi aku sampai saat ini masih mempercayai puisi itu semacam musik jazz yang penuh kelok-tikung improvisasi yang pada titik-titik tertentu bisa begitu jauh melenceng dari komposisi standar, tapi selalu ada saatnya kembali ke piring saji. Ada tarik ulur antara kenikmatan yang nyaman dan kesumbangan yang disengaja untuk mengganggu, menggelitik, menggoda, mengusik. Kalaupun ada […]

Continue Reading

113. Tentang Sajak-sajak Panjang

PENYAIRKU, menulis sajak-sajak panjang tak kalah menantangnya dengan sajak-sajak pendek. Jika sajak-sajak pendek menantang penyair untuk memilih kata-kata yang benar-benar mangkus dan sangkil dalam baris yang minimal untuk menembakkan kesan sedalam-dalamnya pada pembaca, sajak-sajak panjang menantang penyair untuk menjaga pesona puitiknya dari baris pertama hingga terakhir. Sajak-sajak panjang menuntut stamina si penyair dalam menjaga agar […]

Continue Reading

112. Ketika Ragu Mengganggu

PENYAIRKU, bayangkan saja. Kau telah payah berbusa-busa dengan kata, menulis sepanjang kau bisa, mengerahkan segenap daya puitika yang kau punya. Lalu kau siarkan di blog pribadi, situs komunitas, milis, bahkan kau kirimkan lewat SMS ke kawan-kawan dekat. Ada yang membalas SMS-mu, ada yang mendiamkan, ada yang memberi komentar, ada yang memuji, ada yang menghina. Satu […]

Continue Reading

111. Perihal Rantai Tradisi

DI RUANG ini, Penyairku, dulu sekali pernah kutuliskan tentang ziarah ke bentuk-bentuk puisi lama. Seorang kawan baru-baru ini gelisah dengan puisi lama yang penuh aturan ketat dan puisi “modern” yang bebas dan lebih ekspresif. Lalu ini: (jejak-jejak) puisi lama yang hadir dalam karya puisi mutakhir; apakah masih bisa dibilang puisi yang dihasilkan termasuk “modern”? Ada […]

Continue Reading

110. Panggilan

Ada yang menulis sajak sekadar untuk berkenalan dengan puisi. Ada yang sekadar untuk menggodanya saja. Ada yang tak tahu untuk apa, tapi tiba-tiba ia telah mukim dalam peluh-peluknya. Ada yang berpuisi sekadar iseng untuk membuang bosan, membunuh waktu, mengirim pesan atau mencatat kesan. Ada yang berpuisi yang untuk apa ia tak ambil peduli; tetapi kalau […]

Continue Reading

109. Perihal Keris dan Sebilah Sajak

Sebilah keris buatan para perajin di kaki bukit Imogiri, Yogyakarta, dapat diselesaikan dalam hitungan hari, lengkap dengan sarung dan aksesorisnya. Keris semacam ini biasa dijual sebagai suvenir atau dipakai sebagai pelengkap pakaian adat. Harganya murah dan dapat diproduksi secara masal asalkan tidak diharapkan memiliki kualitas standar sebuah keris, apalagi memiliki aura magis sebagaimana layaknya sebuah […]

Continue Reading