Category: POESIE


108. Ketegangan Penyair, Sajak dan Pembacanya

Penyair: Aku tuliskan sajakku bukan tanpa perjuangan. Kupertaruhkan apa yang ada dalam diriku dan di luar diriku sedemikian rupa agar sajakku mewujud. Sajak adalah anak ruhani, katamu. Ada yang bilang, penyair ‘mati’ dalam persalinan sajaknya. Ada yang bilang, penyair masih hidup untuk mengasuh sajaknya, melindunginya dari tangan-tangan zalim. Aku bilang, penyair adalah sajaknya itu sendiri. […]

Continue Reading

107. Kepenyairan Adalah Profesi, Bukan Hobi

PENYAIRKU, maaf kalau kau tersinggung dengan judul sketsaku ini. Tapi memang begitulah, sastra, termasuk puisi, adalah sebuah wilayah kerja yang serius dan sungguh-sungguh. Menjadi seorang penyair adalah sebuah profesi. Tunggu, jangan kau protes dulu. Profesi di sini biarlah kita pahami dalam pengertiannya yang lebih luas yakni sebuah kerja yang kita geluti sehari-hari, bukan sekedar ‘kerja […]

Continue Reading

106. Saat Penyair Tak (Lagi) Gelisah

MUNGKIN ada kau baca di beberapa buku “how-to” tentang bagaimana berpuisi. Mungkin ada kau temukan beberapa dalil semisal “penyair adalah orang yang selalu gelisah” atau “penyair harus menjaga dirinya tetap gelisah untuk menghasilkan sajak-sajak yang kuat” atau semacam itu. Bahwa kegelisahan adalah sumber tenaga puitik, tak perlu disoalkan lagi, mereka yang telah cukup lama bertekun […]

Continue Reading

105. Berhentilah Membaca Buku!

WHAT? Are you serious? Mungkin itu katamu, Penyairku. Baiklah, akan kuambil resiko ini: aku memang sedang menyesatkanmu kali ini. Konon, buku adalah saripati pemikiran penulisnya, saringan dari apa yang mungkin diobrolkannya dalam bincang-bincang warung kopi, yang mungkin direnungkannya malam-malam, atau yang ditangkapnya lewat ilham kewahyuan –berasal bukan dari mana-mana kecuali dari Sang Keberadaan sendiri. Bila […]

Continue Reading

104. Kata yang Menunjuk ke Bulan*

Hakikat puisi ibarat bulan. Metafora ibarat jemari yang menunjuk bulan. Siapa yang mencari hakikat puisi pada kata-kata tidak akan pernah mendapatkannya. Ia mesti menelusuri jemari itu, melampauinya ke arah yang ditunjukkannya: bulan itu. Saat mata sudah melihat bulan, jemari tidak terlihat lagi. _____________ *) diadaptasi dari kisah Zen Please follow and like us:

Continue Reading

103. Tergesa*

SEORANG calon penyair mendaki gunung, ingin belajar ilmu puisi pada seorang guru puisi paripurna. “Guru, berapa lama saya bisa menjadi seorang penyair?” “Jika kau belajar giat, barangkali sepuluh tahun lagi.” “Jika saya belajar dua kali lebih giat, berapa lama, o Guru?” “Tiga puluh tahun lagi.” “Aduh, mana bisa begitu, Guru? Saya ingin segera menjadi penyair. […]

Continue Reading

102. Siapakah Penyair?

PENYAIR adalah sesiapa saja yang bertekun di jalan puisi. Tentu saja harus dibedakan antara “menjadi penyair” dan “disebut penyair”. Disebut sebagai penyair itu mudah. Menjadi seorang penyair itu tidak gampang. Penyairku, jangan terkecoh dengan sebutan atau label. Sebab label apapun belum tentu sama dengan isi. Kalau masalah “sebutan” silakan menyebut diri sendiri atau orang lain […]

Continue Reading