<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>titiknol/project</title>
	<atom:link href="http://www.titiknol.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.titiknol.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 06:59:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>122. Semakin Asing dengan Puisi</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2013/05/17/122-semakin-asing-dengan-puisi/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2013/05/17/122-semakin-asing-dengan-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[POESIE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=1041</guid>
		<description><![CDATA[HARUS aku akui, kini aku semakin merasa asing dengan puisi, o, Penyairku. Kata-kata yang bergerombol dalam kuplet-kuplet itu tampak begitu aneh dan artifisial. Apakah ini suatu kemunduran apakah ini kemajuan tidaklah jelas benar bagiku. Catatan ini pun semakin kering dan jauh dari kebijaksanaan seorang (bekas?) penyair yang menapaki usia kepala-abu-abu. Dulu pernah kuyakini puisi takkan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.titiknol.com/wp-content/uploads/2013/05/tsp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1045" alt="tsp" src="http://www.titiknol.com/wp-content/uploads/2013/05/tsp-288x216.jpg" width="288" height="216" /></a>HARUS aku akui, kini aku semakin merasa asing dengan puisi, o, Penyairku. Kata-kata yang bergerombol dalam kuplet-kuplet itu tampak begitu aneh dan artifisial. Apakah ini suatu kemunduran apakah ini kemajuan tidaklah jelas benar bagiku. Catatan ini pun semakin kering dan jauh dari kebijaksanaan seorang (bekas?) penyair yang menapaki usia kepala-abu-abu.</p>
<p>Dulu pernah kuyakini puisi takkan pernah pergi, bahwa puisi adalah nafas yang menghidupi jiwamu. Kini aku bahkan merasa asing dengan kata-kataku sendiri. Mungkin, Penyairku, inilah saatnya untuk diam sediam-diamnya. Ataukah sebaliknya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2013/05/17/122-semakin-asing-dengan-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>121. Bila Penyair Mati Gaya</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/11/22/121-bila-penyair-mati-gaya/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/11/22/121-bila-penyair-mati-gaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 12:32:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[POESIE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[BEGINILAH, o Penyairku, bila kau tak lagi mampu menulis satu sajak pun dalam kurun waktu cukup lama, lalu kau mulai mencari-cari alasan untuk memaafkaan dirimu sendiri seperti tenggelam dalam rutinitas kerja, atau otakmu mulai tumpul karena termakan usia, atau karena merasa gagal menyegarkan gaya bersyairmu, atau alasan apa pun, maka barangkali saatnya tiba untukmu kembali [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>BEGINILAH, o Penyairku, bila kau tak lagi mampu menulis satu sajak pun dalam kurun waktu cukup lama, lalu kau mulai mencari-cari alasan untuk memaafkaan dirimu sendiri seperti tenggelam dalam rutinitas kerja, atau otakmu mulai tumpul karena termakan usia, atau karena merasa gagal menyegarkan gaya bersyairmu, atau alasan apa pun, maka barangkali saatnya tiba untukmu kembali membiasakan diri mengheningkan cipta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/11/22/121-bila-penyair-mati-gaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permaafan</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/11/22/permaafan/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/11/22/permaafan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 12:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANGIN NOL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[MOHON maaf bagi rekan-rekan sahabat TITIKNOL bahwa saya sekian lama mengabaikan studio puisi ini. Insya Allah, sedikit demi sedikit akan saya coba gairahkan kembali.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>MOHON maaf bagi rekan-rekan sahabat TITIKNOL bahwa saya sekian lama mengabaikan studio puisi ini. Insya Allah, sedikit demi sedikit akan saya coba gairahkan kembali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/11/22/permaafan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sajak Titiknol di Suara Merdeka Minggu</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/06/11/sajak-titiknol-di-suara-merdeka-minggu/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/06/11/sajak-titiknol-di-suara-merdeka-minggu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 05:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANGIN NOL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=947</guid>
		<description><![CDATA[Rubrik SERAT koran Suara Merdeka edisi Minggu, 10 Juni 2012 telah memajang empat sajak TS Pinang berjudul: Kuda Lumping, Kayon, Prambanan dan Keraton Baka. Selamat menikmati!]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Rubrik SERAT koran Suara Merdeka edisi Minggu, 10 Juni 2012 telah memajang empat sajak TS Pinang berjudul: <a href="http://www.titiknol.com/?p=916">Kuda Lumping</a>, <a href="http://www.titiknol.com/?p=918">Kayon</a>, <a href="http://www.titiknol.com/?p=942">Prambanan</a> dan <a href="http://www.titiknol.com/?p=944">Keraton Baka</a>. Selamat menikmati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/06/11/sajak-titiknol-di-suara-merdeka-minggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keraton Baka</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/06/11/keraton-baka/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/06/11/keraton-baka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 04:56:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[S A J A K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[kami bertimpuh di hamparan puing, latar batu yang tercipta dari hati yang pedih dan air mata yang terperam dendam. gerbang-mu yang murung, menghitung senja demi senja bersama kicau burung penjaga bukit. puing-puing bergeming. angin menjadi hidup dan berjiwa. senja selalu terduduk bersama alunan gending megatruh, tak bertulang, lunglai dalam samadi pemunah dendam yang masih mengapi. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>kami bertimpuh di hamparan puing, latar batu yang tercipta dari hati yang pedih dan air mata yang terperam dendam. gerbang-mu yang murung, menghitung senja demi senja bersama kicau burung penjaga bukit.</p>
<p>puing-puing bergeming. angin menjadi hidup dan berjiwa. senja selalu terduduk bersama alunan gending megatruh, tak bertulang, lunglai dalam samadi pemunah dendam yang masih mengapi.</p>
<p>di sinilah di mana Ratu Baka, sang raja bangau, suatu ketika menorehkan kidung kutukan. memutarbalikkan jaman, serupa aksara caraka yang porak poranda menanti pujangga paripurna yang mampu menafsirkannya.</p>
<p>di sinilah kami bersimpuh di pelataran candi, membaca satu demi satu bungkah batu yang cacat oleh luka. remuk oleh sejarah yang tak pernah tercatat dalam kitab babad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: xx-small; color: #800000;">Dimuat di Suara Merdeka, 10 Juni 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/06/11/keraton-baka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prambanan</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/06/11/prambanan/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/06/11/prambanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 04:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[S A J A K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[kebisuan itu bukanlah makam atas ambisi tak sampai. kebisuan itu adalah monumen doa yang beku oleh kabut Merapi. pori-pori di kulit bebatuan gunung inilah lubang nafas kami yang selalu kami samarkan dalam hembusan sepoi ke kulit para turis yang mengeluhkan panas mentari tropika. sesekali kau mungkin rasakan usapan dingin hawa nafas Durga di selang-selingi tabuhan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>kebisuan itu bukanlah makam atas ambisi tak sampai. kebisuan itu adalah monumen doa yang beku oleh kabut Merapi. pori-pori di kulit bebatuan gunung inilah lubang nafas kami yang selalu kami samarkan dalam hembusan sepoi ke kulit para turis yang mengeluhkan panas mentari tropika. sesekali kau mungkin rasakan usapan dingin hawa nafas Durga di selang-selingi tabuhan kenong kuda lumping di pelataran stasiun kereta wisata.</p>
<p>kebisuan ini adalah kebisingan yang tersembunyi di balik <em>puzzle</em> ribuan ruas batu gunung. begitu riuh oleh kisah darah dan kuasa, tanah yang ranum oleh panas lava gunung api kami yang setia mengerami telur semesta di bumi kami yang tua, yang jawa.</p>
<p>kebisuan kisah muslihat cinta sang dara Jonggrang dan pemuda yang mabuk lamunan. syairkah itu yang terpahat di sekeliling dinding rumah Durga, atau kidung sandi yang tak henti ditembangkan sang wiku yang tak mati-mati hingga kini?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: xx-small; color: #800000;">Dimuat di Suara Merdeka Minggu, 10 Juni 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/06/11/prambanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sajak Titiknol di Koran Tempo Minggu</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/04/23/sajak-titiknol-di-koran-tempo-minggu/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/04/23/sajak-titiknol-di-koran-tempo-minggu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 02:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANGIN NOL]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[KORAN TEMPO edisi Minggu, 22 April 2012 memuat dua sajak lama TS Pinang berjudul Macapat Megat Rupa dan Macapat Batu Kambang. Selamat menikmati.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>KORAN TEMPO edisi Minggu, 22 April 2012 memuat dua sajak lama TS Pinang berjudul <a title="Macapat Megat Rupa di TITIKNOL" href="http://www.titiknol.com/?p=288" target="_blank">Macapat Megat Rupa</a> dan <a title="Macapat Batu Kambang di TITIKNOL" href="http://www.titiknol.com/?p=292" target="_blank">Macapat Batu Kambang</a>. Selamat menikmati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/04/23/sajak-titiknol-di-koran-tempo-minggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kayon</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kayon/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kayon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 01:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[S A J A K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=918</guid>
		<description><![CDATA[inilah saatnya Engkau tancapkan Merapi di sebatang debok pisang, penanda akhir babak semalam suntuk kisah bumi yang gonjang-ganjing, punakawan yang bercanda dengan derita dan sakit hati para kawula, para ksatria yang mengumbar tawa lupa papa lupa tapa dan para resi telah bersumpah mengikat lidah mereka dengan mantera pembisu seribu generasi. tragedi sang bumi yang pasi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>inilah saatnya Engkau tancapkan Merapi di sebatang debok pisang, penanda akhir babak semalam suntuk kisah bumi yang gonjang-ganjing, punakawan yang bercanda dengan derita dan sakit hati para kawula, para ksatria yang mengumbar tawa lupa papa lupa tapa dan para resi telah bersumpah mengikat lidah mereka dengan mantera pembisu seribu generasi. tragedi sang bumi yang pasi dikutuk sepi, menggigil rindu mentari yang kian redup kehabisan api tersebab terlalu banyak hati yang harus dipanasi.</p>
<p>inilah saatnya Engkau ketukkan cempala, sebab nyala blencong telah musnah ditelan lubang-lubang gulita di luweng hasrat kami yang paling tersembunyi. gending-gending telah tamat dan para niyaga terkapar sirep. lalu apakah arti sebuah negeri bila semua menjadi bayang-bayang? lelakon yang kian bias sebab tak ada lagi tersisa kata-kata yang lugas. hukum menjelma hutan raksasa kata-kata penuh kias.</p>
<p>inilah saatnya Engkau tancapkan gunungan itu, sedikit condong sekedar cukup untuk menandai kisah yang tak lagi layak ditegakkan, babak yang tak lagi elok dilanjutkan. sebab harap dan air mata telah rontok pergi. seperti dedaunan terberai terbang bersama angin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: xx-small; color: #800000;">Dimuat di Suara Merdeka Minggu, 10 Juni 2012</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kayon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuda Lumping</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kuda-lumping/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kuda-lumping/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 01:03:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[S A J A K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=916</guid>
		<description><![CDATA[1. negeri kami telah direbut oleh gerombolan hantu. surup dalam tubuh anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen. pasukan monster bayang-bayang mengintai di langit, menjadi mendung gelap menyimpan hujan yang siap merajam wajah-wajah kami. bahkan mantera lingsir wengi, kidung ambang malam, tak mampu mengusir hantu-hantu yang merasuki anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen. negeri [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>1.</p>
<p>negeri kami telah direbut oleh gerombolan hantu. surup dalam tubuh anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen. pasukan monster bayang-bayang mengintai di langit, menjadi mendung gelap menyimpan hujan yang siap merajam wajah-wajah kami. bahkan mantera lingsir wengi, kidung ambang malam, tak mampu mengusir hantu-hantu yang merasuki anak-anak sekolah, ormas-ormas beringas, partai-partai dan parlemen.</p>
<p>negeri kami menjadi negeri kuda lumping. rakyat seluruh negeri menari dalam igau dan makan beling. topeng-topeng bujang ganong berkelebatan di layar televisi, memanterakan pukau dan sihir membuka gerbang masuk ke negeri mimpi tanpa pintu keluar. hong wilaheng. bilah-bilah pisau menggantikan lidah para menteri. kami terjebak di negeri ambang senja.</p>
<p>2.</p>
<p>kuda bambu kepang bergetar, para penari berlenggak-lenggok dalam ketukan kenong, ning-nong-ning-nong-ning. asap dupa dan air mawar melati, lupakan harga bensin dan aroma nasi yang kian mengepul tinggi, terhisap para dedemit yang bersemayam di langit. para penari menari tanpa henti. penonton ikut menari tanpa mengerti. pawang-pawang kesurupan pula, mantera-mantera mereka lesap di rimbun bayang-bayang.</p>
<p>3.</p>
<p>penyair, o penyair penguasa alam bayang. lecutkan cambukmu. usir para hantu dari rimba kata-kata. jangan biarkan mereka merebut puisimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000; font-size: xx-small;">Dimuat di Suara Merdeka Minggu, 10 Juni 2012</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/03/09/kuda-lumping/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sastra Bulan Purnama #6</title>
		<link>http://www.titiknol.com/2012/03/08/sastra-bulan-purnama-6/</link>
		<comments>http://www.titiknol.com/2012/03/08/sastra-bulan-purnama-6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 00:44:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>TS Pinang</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANGIN NOL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.titiknol.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[Sastra Bulan Purnama #6 akan berlangsung pada Kamis, 8 Maret 2012, pukul 19:30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. TS Pinang akan membacakan beberapa sajak.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sastra Bulan Purnama #6 akan berlangsung pada Kamis, 8 Maret 2012, pukul 19:30, di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. TS Pinang akan membacakan beberapa sajak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.titiknol.com/2012/03/08/sastra-bulan-purnama-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
