|

27.04.2003
39. Pengakuan Kepenyairan
Penyairku yang sedang berbahagia, memang menyenangkan mendapati puisi kita nampang di media massa, entah koran nasional entah majalah sastra.
Banyak juga penyair yang gelisah ketika puisi-puisi mereka tak "tembus" seleksi para redaktur sastra di koran-koran, di situs internet, di majalah-majalah budaya. Ketika pengalaman (karyanya ditolak oleh redaktur) itu berulang sampai titik tertentu kejenuhan pun tiba. Setelah itu yang terjadi mungkin si penyair akan patah arang dan menutup buku catatan puisinya, atau mengumpat-umpat di forum-forum publik sambil menghujat penyair-penyair yang kebetulan "lebih beruntung" dan melecehkan karya-karya mereka. Namun, ada juga penyair-penyair itu yang semakin terpacu semangatnya dan terus berlatih mengasah ketrampilan teknik dan kepekaan rasa puitiknya.
Pengakuan! Itulah kiranya yang banyak dikejar oleh para penyair sebagai ujud keberadaan mereka, bentuk kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat sastra, khususnya (per)puisi(an). Pentingkah pengakuan orang lain (atas kepenyairan kita) itu? Pentingkah diakui bahwa kita telah "resmi" menjadi penyair (hanya) ketika karya kita tersiar di media publik?
Penyairku, betapa naif dan dangkal ketika pengakuan itu menjadi obsesi. Obsesi demikian akan semakin menjauhkanmu dari hakikat puisi. Baiklah, engkau telah membubuhkan tanda tanganmu di sebuah halaman majalah sastra. Itu akan menjadi batu penanda jarak perjalanan kepenyairanmu. Nikmatilah sebagai kemewahan atas usaha kerasmu selama ini. Semata sebagai imbalan atas tetes keringat puitikmu. Tetapi, Penyairku, jangan kaubiarkan perasaan senang dan bangga itu melenakanmu. Perjalanan masih jauh. Jauh sekali.
Bagaimanapun, Penyairku sayang, aku tetap bangga dan tersenyum untukmu selama engkau terus menulis puisi. Dengan atau tanpa pengakuan siapa pun atas kepenyairanmu.
Selamat atas dimuatnya sajak Adhika Annissa "Lukisan Hampa" di segmen Kakilangit majalah Horison, April 2003.
10:25:07 | 1 KOMENTAR
21.04.2003
38. Berapa Lama Belajar Puisi?
Penyairku sayang, belajar berpuisi, bercerpen, bernovel, bertaekwondo, kau sebut sajalah, tak akan butuh waktu terlalu lama jika yang kaumaksudkan adalah belajar teknik menulis, belajar jurus. Bacalah banyak karya pengarang yang telah maju sebagai pembanding, latihlah teori-teori yang kaubaca, tulislah banyak-banyak. Kau tentu akan cepat mahir.
Tetapi, Penyairku sayang, jika yang kaumaksud adalah belajar (tentang kehidupan, tentang dirimu sendiri melalui) puisi, cerpen, dan lain-lain bentuk tulisan maka ia adalah proses yang tak kenal selesai. Bukankah dengan menulis itu engkau membaca alam dalam yang menggerakkan kaki, tangan, dan semua indriamu? Penyairku, dengan menulis engkau belajar hidup. Maka ujian akhir masa belajar itu adalah liang kubur.
22:38:06 | NOL KOMENTAR
15.04.2003
37. Speechless
Penyairku, itu tandanya kau sedang hamil. Hamil puisi!
16:46:05 | NOL KOMENTAR
12.04.2003
36. Kutukan Itu
Penyairku, jika kaudengar kabar tentang penyair yang mati karena overdosis alkohol atau obat penenang, atau karena penyakit organ dalam yang akut, atau bunuh diri karena patah hati, atau menjadi gila karena bingung, kabar itu mungkin benar. Akan (bahkan mungkin telah) kaubaca kisah-kisah tentang hayat penulis-penulis besar, tak jarang akan kau temui kisah-kisah sedih belaka. Juga kisah-kisah tentang hidup yang rapuh, sosok yang remuk-redam, di balik karya-karya gemilang yang mereka hadirkan.
Chairil Anwar yang legendaris itu, Penyairku, adalah contoh lokal yang kita punya. Ia mati sangat muda oleh penyakit kelamin (dan mungkin juga penyakit organ dalam) akibat gaya hidupnya yang gelisah dan redam. Gibran Kahlil Gibran (dibaca: Jibran), juga mewakili sosok yang remuk dalam kehidupan kesehariannya. Tentu akan kaubaca juga suatu saat tentang sastrawan-sastrawan besar yang meninggal karena karya-karya tulisnya, baik secara langsung akibat dari tulisannya, maupun dari gaya hidup kesastraannya itu.
Ada juga, Penyairku, penyair yang hidup nyaman setelah menemukan posisi yang mapan secara finansial. Bahkan, ada juga yang mulai menulis secara serius setelah kehidupan ekonominya tertata, atau menjadi figur khalayak karena aktivitasnya di bidang yang lain. Jangan terkejut jika ada artis pesohor televisi kemudian membaca atau menulis puisi.
Penyairku, gaya hidup itu pilihan. Juga keseriusan menekuni jalan puisi. Semuanya mengandung konsekuensi. Contoh-contoh di dua paragraf awal tadi adalah contoh-contoh ekstrem. Selalu ada ekstrem lain di ujung satunya, bahkan selalu ada titik timbang di tengah-tengah. Lalu pada akhirnya, kau akan harus memilih. Apapun pilihanmu nanti, Penyairku sayang, puisi tetaplah puisi.
Penyairku, silakan nanti kaubaca sendiri perihal kutukan kepenyairan itu. Kau akan mengerti. Pada saatnya nanti.
21:54:06 | 1 KOMENTAR
10.04.2003
35. Puisi-puisi "External"
Yang dimaksud adalah puisi-puisi yang berbicara tentang lingkungan penyair, tentang hal-hal di luar dirinya. Puisi-puisi semacam ini biasanya mewakili sikap penyair terhadap suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi di sekitarnya, atau yg dilihat dan diamatinya. Contoh paling kiwari (kata ini berarti "mutakhir" ;-) ) ialah tentang perang teluk seri 2 yang masih sedang berlangsung. Banyak penyair mengungkapkan sikap tak sukanya dalam sajak-sajaknya.
Sajak-sajak yang demikian biasanya berpretensi untuk menyampaikan pesan, baik secara gamblang sebagai protes (sajak-sajak slogan atau pamflet), maupun secara tersirat sebagai sajak yang tetap liris (fakta di luar diri diolah lagi dengan pengalaman puitik di dalam diri penyair). Coba kita bandingkan kedua sajak yang merespon perang teluk antara Irak-Amerika Serikat berikut ini:
On The Breaking News, 2 Sajak Hasan Aspahani
ada yang berlari, jejak-jejak tank lapis baja dan sepatu lars tentara ada badai yang mengajakku menari di gurun-gurun berbatu letih ini ada cadangan minyak di tubuhku (fosil darah sejarah diragi waktu) ada petani tergesa memanen tomat yang berakar lebat di humusku ada yang tak sempat dikubur, kering genang merah, pecahan peluru
tak ada yang bertanya padaku, bagaimana harus melaporkan semua itu di depan mata hatimu, di siaran prime time, langsung di layar TV-mu.
Mar 2003
Angka 6 Sajak S.N. Mayasari H.
waktu itu jam enam petang. ada yang berdentang enam kali di lengan kiri. arloji warna merah hati. tik tak detiknya terasa begitu perih. membalap detak nadi. denyut jantung yang berlari. sehabis sebuah ledakan di sudut negeri. menghancurkan enam rumah, enam sekolah, enam gedung mewah, enam tempat ibadah. dan keluargaku sudah tak utuh lagi. tak berjumlah enam lagi. ibu bapa telah mendulu pergi. pada jam enam lewat enam menit. petang itu. di hari keenam peperangan.
aku sudah bosan sembunyi. jam enam petang ini kotaku bergetar kencang. tak ada lagi ketakutan. serangan memang sering datang menjelang malam. di jalan aku menabur doa doa. bersama enam sahabat yang tersisa. tiba tiba enam peluru panas berdesing di atas kepala. bercampur suara parau kami memanggil manggil kekasih. aku tersungkur jatuh pada seruan keenam. dada lubang. darah muncrat. masih kudengar sayup adzan di nafas keenam sebelum akhir. sebelum bibir memucat pasi. sebelum mati. waktu itu lewat jam enam petang. tak ada lagi yang berdentang di lengan kiri. arloji pecah beriring nadi yang henti membuncah.
Yogyakarta, Maret 2003
Ah, Penyairku, apatah di dunia ini yang bukan puisi?
19:24:09 | NOL KOMENTAR
09.04.2003
34. Puisi yang "Rada-rada" ;-)
Beberapa penyair merasa nyaman menggunakan idiom-idiom seksualitas dalam puisi-puisinya. Beberapa yang lain sama sekali merasa jengah menggunakan idiom-idiom serupa. Beberapa sisanya mengambil jalan tengah, tidak menolak tetapi juga tidak terlalu sering menggunakannya, atau menggunakan metafora atau pilihan kata-kata yang tidak langsung merujuk ke seksualitas itu.
Bahasa seksual banyak dipakai pula oleh beberapa penyair sufistik untuk membahasakan keintiman dengan Tuhan. Tak jarang puisi-puisi yang menggunakan bahasa seksual itu sedang berbicara tentang keintiman seorang mahkluk dengan Tuhannya. Tetapi tak jarang pula penyair menulis sajak yang terdengar sangat spiritual padahal ia sedang berbicara tentang nafsu syahwat badani semata.
Soal apakah engkau akan menulis sajak-sajak yang "porno" atau sekedar yang "rada-rada", Penyairku, adalah semata-mata soal pilihan. Sepanjang engkau merasa nyaman dengannya, maka hadirlah ia dalam puisimu. Tetapi membaca sajak-sajak yang begini memang sangat beresiko tergelincir ke dalam penafsiran yang "sesat". Hati-hati memang perlu. Baik membaca pun (/apalagi) menulis puisi.
19:31:23 | NOL KOMENTAR
06.04.2003
33. Puisi Sebagai Analgesik
Percayakah kau kalau kubilang puisi mampu menghilangkan (atau paling tidak, mengurangi) rasa sakit?
Menulis dan/atau membaca puisi dengan konsentrasi penuh, bagi seorang (penyair) yang menenggelamkan dirinya dalam lautan puisi ternyata dapat mengurangi penyakit, baik fisik maupun psikis, yang dideritanya.
Suatu ketika penyair Rendra membacakan sajak-sajak dan pidatonya selama hampir dua jam nonstop. Suaranya tetap membius dan berwibawa. Di luar gedung, penyair-penyair yang tidak suka karena pementasan itu tertutup dan harus membayar untuk menyaksikannya, akhirnya menggelar pentas tandingan di luar gedung. Bagaimanapun, pertunjukan Rendra memang memesona, menyihir. Sampai titik terakhir yang dia bacakan, penonton bergeming terkesima.
Seusai membacakan sajak-sajak dan pidatonya, dua orang pembantunya memapah penyair itu dari panggung. Belakangan baru diketahui bahwa sesungguhnya Rendra sedang sakit parah dan sangat lemah saat itu. Dari mana datangnya kekuatan ekstra yang ajaib itu?
Beberapa malam yang lalu aku (maaf, Penyairku sayang, kali ini aku bercerita tentang "aku") membaca puisi di dua malam acara peluncuran buku puisi. Sebenarnya badanku sudah beberapa hari didera demam yang menjengkelkan. Dan inilah yang kurasakan: Aku sembuh saat membaca puisi itu. Pagi harinya aku merasa jauh lebih segar dan sehat.
Mungkin itu bukan bukti yang cukup atas pernyataan hipotetik di paragraf pertama di atas. Tetapi, Penyairku, jika engkau percaya dan mencintai puisi, maka ia pun akan mencintaimu dan berbuat sesuatu untuk menunjukkan cintanya padamu.
12:50:03 | NOL KOMENTAR
|