Angin NOL
  • Sajak-sajak TITIKNOL di Suara Merdeka
    Suara Merdeka edisi Minggu, 01 Agustus 2010 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Gempa Tanah Kami, Di Taman Kota, Sembilan Putaran Rembulan dan Kepada Kinanthi Anakku.
    01/08/2010 - 05:25:30
  • Milis TITIKNOL di Yahoogroups Dihapus
    Sahabat TITIKNOL, milis TITIKNOL Project di Yahoogroups telah dihapus karena alasan efektivitas. Untuk selanjutnya halaman "Kunci" di Facebook akan berfungsi sebagai backup informasi TITIKNOL Project. Silakan klik "Like" pada kotak Facebook di halaman depan www.titiknol.com. Terima kasih.
    26/07/2010 - 20:06:43
  • Selamat tahun baru 2010
    Sugeng napak warsa enggal 2010. Mugi tinebihaken saking sadaya rubeda, sadaya sesuker. Kalis ing sadaya bebaya, sadaya bebendhu. Nir ing sadaya sambekala. Mugi tansah linuber ing bebingah, tentrem ayem sumarah. Tan kendhat atur pepuji kalawan syukur. Gusti ngijabahi.
    31/12/2009 - 17:37:12
  • Sugeng tindak, Gus Dur...
    Sugeng tindak, Gus Dur. Mugi asma panjenengan tansah angambar arum, tinulad para putra wayah, sumunar adamel pepadhanging nuswantara. Mugi ing gesang salajengipun langkung saged paring piwulang saklebetipun manah para putra bangsa. Matur nuwun sampun paring wejangan ingkang kasat ugi ingkang tan kasat netra. Sugeng tindak, Gus Dur. Sugeng anglajengaken lampah. Rahayu. Rahayu. Rahayu.
    30/12/2009 - 20:24:57
  • Amsterdam, 18 Oktober 2009
    Pembacaan KUNCI sebagai bagian acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar oleh masyarakat Indonesia di Amsterdam.
    20/10/2009 - 03:30:10
  • Rotterdam, NL
    Tiba di asrama Weenapad sore ini jam 15.00 WIB (10.00 waktu setempat).
    05/10/2009 - 17:11:13
  • Sajak-sajak Titiknol di Jurnal Nasional
    Jurnal Nasional edisi Minggu, 04 Oktober 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Metropolesan, Nota Kota, Shopping Mall, Pasar Bringharjo, Suburbia, Program Pembangunan: Penggalian Jalan dan Mural Kota.
    05/10/2009 - 17:10:02
  • Kinan
    Alhamdulillah puji Tuhan. Telah hadir dalam kebahagiaan kami, putri cantik kami KIDUNG HAYUMATARI LARAS KINANTHI (Kinan) 19 September 2009 pulul 6 pagi di RSU St Maria Pemalang. 3800 gram 49 cm.
    22/09/2009 - 14:32:35
  • Lebaran
    TITIKNOL mengucapkan selamat menyambut dan merayakan Idul Fitri tahun ini. Semoga semua termaafkan dan memaafkan.
    18/09/2009 - 18:22:31
  • Sajak Titiknol di Suara Merdeka
    Suara Merdeka (Semarang) edisi Minggu, 19 Juli 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Pematusan, Brosur Wisata: Balokan/Sarkem, Wisata Belanja: Pasar Klithikan, Monumen, Jalan Pahlawan, Mistika Urbana dan Profil Kota: Cita-cita Setinggi Slogan. (Terima kasih buat Oom Adi Nugroho yang telah repot mencarikan koran Suara Merdeka itu.)
    02/08/2009 - 13:58:53

TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi

TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+

POÉSIE | PUISI | PROSA | TRIBUTE | LINGKAR | BUKUTAMU | PENYAIR

26.05.2003

46. Kritik atau Pujian?

Mana lebih kausuka, Penyairku?

Memang mudah bilang bahwa kau sangat terbuka terhadap kritik, sepedas apapun, betapapun destruktifnya, tetapi ketika kritik itu benar-benar datang betapa kecewanya, betapa masygul rasanya. Maka kau pun pasang kuda-kuda bertahan dan menangkis membabi buta. Kau membela diri dan akhirnya membuat kritikusmu yang sangat berharga itu kapok mengkritik karyamu lagi. Agar aman mereka, para pembaca kritismu itu, pun memilih melontarkan puja-puji atas puisi-puisimu. Penyairku, jika ini terjadi, kau telah kehilangan sahabat sejati.

Pujian itu racun, demikian orang bijak berkata. Puji-pujian tidak akan membawamu ke mana-mana, Penyairku, percayalah. Memang kau akan merasa berbesar hati dan lebih percaya diri, semakin terpacu untuk berkarya, tetapi saat yang sama kau telah kehilangan masukan kritis yang justru akan sangat bermanfaat bagi kemajuanmu di masa depan.

Tolaklah pujian yang hanya membesarkan hati tetapi mengandung racun yang memabukkan dan melenakan. Berdoalah agar kritik-kritik berjatuhan di wajah puisimu, setajam dan sepedas apapun. Semakin pedas dan tajam semakin baik.

Demikianlah seorang penyair menempa mental kepenyairannya.

22:46:54 | NOL KOMENTAR


25.05.2003

45. Puisi "Cengeng"

Memangnya ada puisi yang tidak cengeng? Tunggu dulu, Penyairku. Yang akan kita lirik kali ini ialah puisi-puisi cinta yang "cengeng", atau yang "gombal". Mengapa "gombal"? Ya, karena pengungkapannya yang tidak kreatif dan bertaburan dengan ucap-ucapan yang klise. Klise artinya idiom yang diulang-ulang sehingga terdengar membosankan dan tumpul. Klise seperti ini sebaiknya dihindari ketika kau menulis puisi, khususnya puisi cinta buat seseorang. Sayang jika tema yang agung seperti tema cinta ini menjadi sekadar rayuan gombal yang basi, bukan?

Simak puisi tanpa judul karya Loving Rose berikut ini:


dalam dekapmu
aku hanya ingin diam
rebahkan wajah di dadamu
nikmati irama detak jantungmu

dalam dekapmu
aku hanya ingin diam
sandarkan rindu dipelukmu
nikmati lembut belai sentuhanmu

dalam dekapmu
aku menari
seirama hasrat gemuruh


*Diambil dari situs Hanyakata
Sajak di atas termasuk "merdu" dalam pengertian enak dibunyikan. Sebenarnya sajak di atas cukup bagus dengan pengulangan pada dua baris pertama di stanza pertama dan kedua "dalam dekapmu/ aku hanya ingin diam". Lalu apa kelemahan sajak ini? Ia kurang optimal menggali ungkapan-ungkapan yang baru. Sajak tersebut bila dicermati sebenarnya lebih menyerupai prosa dengan bahasa yang lugas. Ia menjadi (seperti) puisi karena elemen "bunyi" dan tata penulisannya (tipografi). Tidak dijumpai simbolisasi, metafora yang dapat ditafsir oleh pembaca. Pembaca tidak diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan "puisi"nya sendiri. Sajak seperti ini sering dijumpai dalam kartu-kartu ucapan romantis.

Kalau kau percaya puisi sebagai karya seni, Penyairku, maka ciptakanlah ungkapanmu sendiri. Hindarkan mendaur-ulang idiom-idiom yang sudah sering kaujumpai di kartu-kartu ucapan hari Valentin. Galilah kemungkinan-kemungkinan bahasa, temukan metafora, simbol-simbol baru.

Jika kau abai, bersiaplah diratapi oleh puisimu yang terpuruk seperti contoh berikut ini:
Diujung Dua Kunanti
Sajak Nonny

selepas hujan,
kunanti kau diujung dua
bawakan aku sekeranjang cinta,
dan sejumput senyum dibibirmu

kan kulukis rindu dimatamu
dengan penuh rasa cinta...

ingatlah,
aku menunggumu!


Nonny
20feb'02
*Diambil dari arsip milis Puisikita

11:47:36 | 1 KOMENTAR


15.05.2003

44. Kepercayaan Diri

"Malu ah dilihatin." Lalu sang penyair menutup kembali buku catatannya begitu menyadari seseorang menontonnya bekerja puisi. Semangat "malu" yang seperti ini juga sering hinggap di pikiran penyair ketika diminta membacakan karyanya di publik. Juga ketika seorang penyair ingin menyiarkan karyanya di media massa tetapi takut "rahasia terdalam" yg dituangkannya dalam puisi "terbaca" oleh pembaca, lalu dia bersembunyi di balik benteng bernama "nama pena".

Baiklah, Penyairku, seperti halnya pertarungan taekwondo, bekerja puisi pun perlu kepercayaan diri.

21:55:46 | NOL KOMENTAR


08.05.2003

43. Charles Bukowski Berkata:

Being photographed does not make a man a good writer. It doesn't make a man anything.- Bukowski "Somebody at one of these places asked me: "What do you do? How do you write, create?" You don't, I told them. You don't try. That's very important: not to try, either for Cadillacs, creation or immortality. You wait, and if nothing happens, you wait some more. It's like a bug high on the wall. You wait for it to come to you. When it gets close enough you reach out, slap out and kill it. Or if you like it's looks, you make a pet out of it." - Charles Bukowski


22:29:58 | NOL KOMENTAR


04.05.2003

42. Berdoa dan/atau Berpuisi

Berdoa itu mudah. Berdoa secara puitis juga mudah. Menulis puisi (yang berisi) doa juga mudah.

You know what? Tak perlu puisi buat berdoa. Sebuah puisi, entah berisi doa atau hujatan, tetap akan dinilai, dibaca, diperlakukan sebagai puisi. Jadi?

09:54:13 | NOL KOMENTAR


01.05.2003

41. Penyair di Tengah Masyarakat*

Ada yang bilang penyair itu ibarat pengarah perahu naga** yang memberi kendangan semangat sembari memberi aba-aba kepada para pendayung. Ada yang bilang penyair ialah orang yang berdepan-depan dengan zaman, orang yang memiliki penglihatan lebih jauh ke depan.

Sebagaimana seniman dari cabang kesenian yang lain, penyair memiliki tanggung jawab terhadap masyarakatnya secara unik. Ia seperti hati nurani yang berusaha tetap jernih dan jujur, seperti hati nurani yang mengingatkan kepala ketika mulai terprovokasi oleh hawa nafsu, serentak ia lemah tak berdaya ketika suaranya tidak didengar. Penyair menjadi denting yang jernih di tengah riuh-rendah kebisingan sekitarnya. Itulah misi penyair, menjadi oase bagi masyarakat yang kehausan tetapi sekaligus mengemban resiko untuk tidak didengar. Sering kali suara nurani (baca: penyair) tidak cukup dirasa perlu untuk didengar, tetapi harus ada seseorang yang tetap menyuarakan nurani, bukan?

Di sisi lain, untuk menjaga kejernihan nurani itu penyair menjadi sangat kontemplatif dan sendiri. Ia perlu menjaga jarak tertentu dari objek-objek di sekitarnya guna merenungkannya dalam "alam-dalam"nya. Penyair pun menjadi sosok yang sendiri, individualis.

Sebuah posisi yang tanggung?

*) Topik ini diusulkan oleh penyair Arwan Maulana
**) Perahu naga adalah perahu dayung tradisional dengan banyak pendayung yang menghadap buritan dan seorang pengarah/jurumudi yang berdiri/duduk di ujung buritan perahu menghadap haluan sambil memukul kendang penyemangat.

23:08:05 | NOL KOMENTAR


40. Kirim-kirim Karya, Yuk!

Ehmm... sudah lama dan banyak menulis puisi? Sudah merasa mencapai kemajuan dalam berpuisi? Sudah merasa menjadi penyair yang berdedikasi tinggi? Baiklah, daripada gelisah dan jadi jerawat, mengapa tak mengirimkan karya-karyamu ke media-massa?

Masih was-was, takut ditolak? Jangan takut, Penyairku, kirimkan saja karya-karyamu ke media-massa. Semakin ketat sistem seleksinya semakin bagus. Anggaplah itu sebagai bagian dari proses kreatifmu, lalu soal apakah karyamu nanti akan dimuat atau ditolak biarlah kita biarkan menjadi buah tebakan kita.

Bolehkah saya kirimkan karya saya ke dua atau lebih media-massa sekaligus?
Penyairku, sebagian besar media-massa menginginkan karya yang eksklusif sehingga mereka kebanyakan tak suka jika karya kita dimuat di beberapa media lain pada saat yang bersamaan. Ini dari sudut pandang para redaktur media tersebut. Tetapi banyak juga pengarang yang merasa berhak "menjual" karya-karyanya ke berapa pun media-massa yang mereka mau. Alangkah kasihan kalau sebuah karya yang telah dibuat "sambil berdarah-darah" itu "hanya" dihargai dengan honorarium satu kali pemuatan saja.

Begitulah kira-kira, ada dua kepentingan yang berseberangan. Nah, Penyairku, semuanya adalah pilihan.

13:34:45 | NOL KOMENTAR


SEMUA KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN HARUS DENGAN IJIN PENGARANG. Lumbung Poésie

06-2009 03-2009 02-2009 08-2008 07-2008 06-2008 03-2008 02-2008 01-2008 11-2007 09-2007 07-2007 06-2007 03-2007 02-2007 01-2007 12-2006 11-2006 10-2006 09-2006 08-2006 07-2006 06-2006 05-2006 04-2006 01-2005 12-2004 08-2004 07-2004 06-2004 11-2003 10-2003 09-2003 07-2003 06-2003 05-2003 04-2003 03-2003 02-2003 01-2003

 

Semenjak 2000 © TS Pinang
h t t p : / / w w w . t i t i k n o l . c o m
t s p i n a n g @ t i t i k n o l . c o m

TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang, seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.

 Kembali ke Puncak