|

26.05.2003
46. Kritik atau Pujian?
Mana lebih kausuka, Penyairku?
Memang mudah bilang bahwa kau sangat terbuka terhadap kritik, sepedas apapun, betapapun destruktifnya, tetapi ketika kritik itu benar-benar datang betapa kecewanya, betapa masygul rasanya. Maka kau pun pasang kuda-kuda bertahan dan menangkis membabi buta. Kau membela diri dan akhirnya membuat kritikusmu yang sangat berharga itu kapok mengkritik karyamu lagi. Agar aman mereka, para pembaca kritismu itu, pun memilih melontarkan puja-puji atas puisi-puisimu. Penyairku, jika ini terjadi, kau telah kehilangan sahabat sejati.
Pujian itu racun, demikian orang bijak berkata. Puji-pujian tidak akan membawamu ke mana-mana, Penyairku, percayalah. Memang kau akan merasa berbesar hati dan lebih percaya diri, semakin terpacu untuk berkarya, tetapi saat yang sama kau telah kehilangan masukan kritis yang justru akan sangat bermanfaat bagi kemajuanmu di masa depan.
Tolaklah pujian yang hanya membesarkan hati tetapi mengandung racun yang memabukkan dan melenakan. Berdoalah agar kritik-kritik berjatuhan di wajah puisimu, setajam dan sepedas apapun. Semakin pedas dan tajam semakin baik.
Demikianlah seorang penyair menempa mental kepenyairannya.
22:46:54 | NOL KOMENTAR
25.05.2003
45. Puisi "Cengeng"
Memangnya ada puisi yang tidak cengeng? Tunggu dulu, Penyairku. Yang akan kita lirik kali ini ialah puisi-puisi cinta yang "cengeng", atau yang "gombal". Mengapa "gombal"? Ya, karena pengungkapannya yang tidak kreatif dan bertaburan dengan ucap-ucapan yang klise. Klise artinya idiom yang diulang-ulang sehingga terdengar membosankan dan tumpul. Klise seperti ini sebaiknya dihindari ketika kau menulis puisi, khususnya puisi cinta buat seseorang. Sayang jika tema yang agung seperti tema cinta ini menjadi sekadar rayuan gombal yang basi, bukan?
Simak puisi tanpa judul karya Loving Rose berikut ini: dalam dekapmu aku hanya ingin diam rebahkan wajah di dadamu nikmati irama detak jantungmu
dalam dekapmu aku hanya ingin diam sandarkan rindu dipelukmu nikmati lembut belai sentuhanmu
dalam dekapmu aku menari seirama hasrat gemuruh
*Diambil dari situs Hanyakata Sajak di atas termasuk "merdu" dalam pengertian enak dibunyikan. Sebenarnya sajak di atas cukup bagus dengan pengulangan pada dua baris pertama di stanza pertama dan kedua "dalam dekapmu/ aku hanya ingin diam". Lalu apa kelemahan sajak ini? Ia kurang optimal menggali ungkapan-ungkapan yang baru. Sajak tersebut bila dicermati sebenarnya lebih menyerupai prosa dengan bahasa yang lugas. Ia menjadi (seperti) puisi karena elemen "bunyi" dan tata penulisannya (tipografi). Tidak dijumpai simbolisasi, metafora yang dapat ditafsir oleh pembaca. Pembaca tidak diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan "puisi"nya sendiri. Sajak seperti ini sering dijumpai dalam kartu-kartu ucapan romantis.
Kalau kau percaya puisi sebagai karya seni, Penyairku, maka ciptakanlah ungkapanmu sendiri. Hindarkan mendaur-ulang idiom-idiom yang sudah sering kaujumpai di kartu-kartu ucapan hari Valentin. Galilah kemungkinan-kemungkinan bahasa, temukan metafora, simbol-simbol baru.
Jika kau abai, bersiaplah diratapi oleh puisimu yang terpuruk seperti contoh berikut ini:Diujung Dua Kunanti Sajak Nonny
selepas hujan, kunanti kau diujung dua bawakan aku sekeranjang cinta, dan sejumput senyum dibibirmu
kan kulukis rindu dimatamu dengan penuh rasa cinta...
ingatlah, aku menunggumu!
Nonny 20feb'02 *Diambil dari arsip milis Puisikita
11:47:36 | 1 KOMENTAR
15.05.2003
44. Kepercayaan Diri
"Malu ah dilihatin." Lalu sang penyair menutup kembali buku catatannya begitu menyadari seseorang menontonnya bekerja puisi. Semangat "malu" yang seperti ini juga sering hinggap di pikiran penyair ketika diminta membacakan karyanya di publik. Juga ketika seorang penyair ingin menyiarkan karyanya di media massa tetapi takut "rahasia terdalam" yg dituangkannya dalam puisi "terbaca" oleh pembaca, lalu dia bersembunyi di balik benteng bernama "nama pena".
Baiklah, Penyairku, seperti halnya pertarungan taekwondo, bekerja puisi pun perlu kepercayaan diri.
21:55:46 | NOL KOMENTAR
08.05.2003
43. Charles Bukowski Berkata:
"Somebody at one of these places asked me: "What do you do? How do you write, create?" You don't, I told them. You don't try. That's very important: not to try, either for Cadillacs, creation or immortality. You wait, and if nothing happens, you wait some more. It's like a bug high on the wall. You wait for it to come to you. When it gets close enough you reach out, slap out and kill it. Or if you like it's looks, you make a pet out of it." - Charles Bukowski
22:29:58 | NOL KOMENTAR
04.05.2003
42. Berdoa dan/atau Berpuisi
Berdoa itu mudah. Berdoa secara puitis juga mudah. Menulis puisi (yang berisi) doa juga mudah.
You know what? Tak perlu puisi buat berdoa. Sebuah puisi, entah berisi doa atau hujatan, tetap akan dinilai, dibaca, diperlakukan sebagai puisi. Jadi?
09:54:13 | NOL KOMENTAR
01.05.2003
41. Penyair di Tengah Masyarakat*
Ada yang bilang penyair itu ibarat pengarah perahu naga** yang memberi kendangan semangat sembari memberi aba-aba kepada para pendayung. Ada yang bilang penyair ialah orang yang berdepan-depan dengan zaman, orang yang memiliki penglihatan lebih jauh ke depan.
Sebagaimana seniman dari cabang kesenian yang lain, penyair memiliki tanggung jawab terhadap masyarakatnya secara unik. Ia seperti hati nurani yang berusaha tetap jernih dan jujur, seperti hati nurani yang mengingatkan kepala ketika mulai terprovokasi oleh hawa nafsu, serentak ia lemah tak berdaya ketika suaranya tidak didengar. Penyair menjadi denting yang jernih di tengah riuh-rendah kebisingan sekitarnya. Itulah misi penyair, menjadi oase bagi masyarakat yang kehausan tetapi sekaligus mengemban resiko untuk tidak didengar. Sering kali suara nurani (baca: penyair) tidak cukup dirasa perlu untuk didengar, tetapi harus ada seseorang yang tetap menyuarakan nurani, bukan?
Di sisi lain, untuk menjaga kejernihan nurani itu penyair menjadi sangat kontemplatif dan sendiri. Ia perlu menjaga jarak tertentu dari objek-objek di sekitarnya guna merenungkannya dalam "alam-dalam"nya. Penyair pun menjadi sosok yang sendiri, individualis.
Sebuah posisi yang tanggung?
*) Topik ini diusulkan oleh penyair Arwan Maulana **) Perahu naga adalah perahu dayung tradisional dengan banyak pendayung yang menghadap buritan dan seorang pengarah/jurumudi yang berdiri/duduk di ujung buritan perahu menghadap haluan sambil memukul kendang penyemangat.
23:08:05 | NOL KOMENTAR
40. Kirim-kirim Karya, Yuk!
Ehmm... sudah lama dan banyak menulis puisi? Sudah merasa mencapai kemajuan dalam berpuisi? Sudah merasa menjadi penyair yang berdedikasi tinggi? Baiklah, daripada gelisah dan jadi jerawat, mengapa tak mengirimkan karya-karyamu ke media-massa?
Masih was-was, takut ditolak? Jangan takut, Penyairku, kirimkan saja karya-karyamu ke media-massa. Semakin ketat sistem seleksinya semakin bagus. Anggaplah itu sebagai bagian dari proses kreatifmu, lalu soal apakah karyamu nanti akan dimuat atau ditolak biarlah kita biarkan menjadi buah tebakan kita.
Bolehkah saya kirimkan karya saya ke dua atau lebih media-massa sekaligus? Penyairku, sebagian besar media-massa menginginkan karya yang eksklusif sehingga mereka kebanyakan tak suka jika karya kita dimuat di beberapa media lain pada saat yang bersamaan. Ini dari sudut pandang para redaktur media tersebut. Tetapi banyak juga pengarang yang merasa berhak "menjual" karya-karyanya ke berapa pun media-massa yang mereka mau. Alangkah kasihan kalau sebuah karya yang telah dibuat "sambil berdarah-darah" itu "hanya" dihargai dengan honorarium satu kali pemuatan saja.
Begitulah kira-kira, ada dua kepentingan yang berseberangan. Nah, Penyairku, semuanya adalah pilihan.
13:34:45 | NOL KOMENTAR
|