Milis TITIKNOL di Yahoogroups Dihapus
Sahabat TITIKNOL, milis TITIKNOL Project di Yahoogroups telah dihapus karena alasan efektivitas. Untuk selanjutnya halaman "Kunci" di Facebook akan berfungsi sebagai backup informasi TITIKNOL Project. Silakan klik "Like" pada kotak Facebook di halaman depan www.titiknol.com. Terima kasih.
26/07/2010 - 20:06:43
Selamat tahun baru 2010
Sugeng napak warsa enggal 2010. Mugi tinebihaken saking sadaya rubeda, sadaya sesuker. Kalis ing sadaya bebaya, sadaya bebendhu. Nir ing sadaya sambekala. Mugi tansah linuber ing bebingah, tentrem ayem sumarah. Tan kendhat atur pepuji kalawan syukur. Gusti ngijabahi.
31/12/2009 - 17:37:12
Sugeng tindak, Gus Dur...
Sugeng tindak, Gus Dur. Mugi asma panjenengan tansah angambar arum, tinulad para putra wayah, sumunar adamel pepadhanging nuswantara. Mugi ing gesang salajengipun langkung saged paring piwulang saklebetipun manah para putra bangsa. Matur nuwun sampun paring wejangan ingkang kasat ugi ingkang tan kasat netra. Sugeng tindak, Gus Dur. Sugeng anglajengaken lampah. Rahayu. Rahayu. Rahayu.
30/12/2009 - 20:24:57
Amsterdam, 18 Oktober 2009
Pembacaan KUNCI sebagai bagian acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar oleh masyarakat Indonesia di Amsterdam.
20/10/2009 - 03:30:10
Rotterdam, NL
Tiba di asrama Weenapad sore ini jam 15.00 WIB (10.00 waktu setempat).
05/10/2009 - 17:11:13
Kinan
Alhamdulillah puji Tuhan. Telah hadir dalam kebahagiaan kami, putri cantik kami KIDUNG HAYUMATARI LARAS KINANTHI (Kinan) 19 September 2009 pulul 6 pagi di RSU St Maria Pemalang. 3800 gram 49 cm.
22/09/2009 - 14:32:35
Lebaran
TITIKNOL mengucapkan selamat menyambut dan merayakan Idul Fitri tahun ini. Semoga semua termaafkan dan memaafkan.
18/09/2009 - 18:22:31
TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi
TITIKNOL enak disajikan di
Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+
Sebab seorang penyair adalah seorang murid yang tak pernah tamat membaca, tak pernah khatam mengaji, maka ia wajib berguru pada lembab lumut di batuan kali, pada anjing tua di sudut pasar, pada bencana alam, pada rasi bintang yang tak lagi setia pada cuaca, pada apa saja yang membuka wawasan dan menggugurkan keyakinan-keyakinannya setiap kali. Lalu ia mencatat setiap yang diserapnya dalam pustaka jiwanya.
Sebab seorang penyair adalah seorang guru bagi jiwanya sendiri, ia wajib menimba sebanyak mungkin air suci kehidupan untuk menawarkan haus jiwanya. Meski untuk itu ia harus menggali lapis batuan yang mematahkan berbatang-batang linggis demi menemu lapisan air itu.
Sedangkan para guru yang berujud manusia, adalah sesama pencari air dengan alat dan caranya masing-masing.
Bayangkanlah sesiapa saja yang mencintai puisi, baik sebagai pencipta maupun penikmat, memiliki definisinya sendiri tentang puisi. Lalu ia imani definisi tersebut sepenuh jiwanya, ia ujudkan dalam gerak hidupnya. Betapa banyak ragam kepercayaan yang dianut oleh pecinta puisi. Betapa banyak jalan.
Di sisi lain, keragaman itu tak perlu menjadi keruh oleh klaim atau asersi masing-masing penganut cabang keimanan puisi itu bahwa paham mereka lebih mulia atau lebih benar daripada yang lainnya. Sebab, seperti diriwayatkan dalam sebuah kisah Zen, bahkan sebuah jalan yang dianggap keliru, jika ditempuh sepenuh hati akan membawa seseorang ke sebuah pencapaian ruhani daripada jalan yang diyakini benar tetapi ditempuh setengah hati.
TAK jarang hasrat bersyair begitu dahsyatnya menggebu. Sedetik rasanya terlalu lama untuk menunggu kelahiran sebuah sajak baru. Apapun bisa dan harus menjadi sebuah puisi. Lalu lahirlah sajak demi sajak demi sajak demi sajak.
Hati-hatilah, sebab produktivitas yang menggebu bisa berbalik menjadi ancaman bagi kreativitasmu. Pertandanya ialah jika kau berhenti sejenak untuk membaca kembali sajak-sajakmu lalu kau temukan tema sama yang berulang-ulang, idiom sama yang berulang-ulang, bahkan kata-kata sama yang berulang-ulang. Seolah-olah, puisi menjadi begitu refleks dan instan, seperti pesulap yang bisa menciptakan benda-benda secara tiba-tiba.
Berhenti sejenak, hela nafas agak panjang. Baca kembali sajak-sajakmu, temukan ulangan-ulangan yang terasa mulai jenuh. Hindari menulis sajak-sajak, tema-tema, idiom-idiom, kata-kata yang sama. Cobalah meracik resep yang baru, yang belum pernah kau ramu. Inilah yang dimaksud kerja kreatif itu: berkreasi.
SETIAP kali kuterakan lintasan-lintasan pikiran tentang puisi di rubrik ini, setiap kali pula kutemui kenyataan bahwa aku semakin meragukan kebenaran dari apa yang baru saja kutulis.
LICENTIA POETICA. Poetic License. Atau apalah namanya. Hanyalah sebuah ungkapan yang mengacu pada bentuk "pelanggaran" kaidah tatabahasa yang dilakukan oleh sastrawan demi alasan estetika. Logikanya, seseorang dapat "melanggar" sebuah kaidah secara sengaja kalau ia mengetahui kaidah yang benar. Jika ia melakukan pelanggaran tanpa tahu kaidah yg sebenarnya, maka itu bukanlah pelanggaran melainkan kebodohan. Tak jarang, alasan "licentia poetica", lisensi puitik, ini hanya dipakai sebagai pembenar dari kesalahan-kesalahan gramatika yang dilakukan oleh sastrawan karena ketidaktahuannya (atau ketidakpeduliannya) akan kaidah bahasa yang benar.
" Poetic License. There's no such thing."
--Théodore de Banville (1823-1891), Frech poet and playwright
SEMUA
KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA
HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN
HARUS DENGAN IJIN PENGARANG.
TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang,
seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website
internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah
tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek
lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.