Ziarah Tanah

kami berkhidmat pada setiap remah tanah. mengais-ngais sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. berharap jumpa dengan sepetik lembaga meringkuk di telakup belah bebijian yang tidur, menanti musim basah datang membasuh. kami mencungkil, menugal, tanah kami yang lama lungka, retak oleh kemarau di dada kami. berharap pada irigasi yang pelit setengah mati, dan hujan yang geram […]

Continue Reading

Meditasi Joko Pinurbo

000 TELAH begitu banyak tulisan-tulisan ulasan maupun komentar atas sajak-sajak penyair Joko Pinurbo (Jokpin) yang ditulis oleh para pakar entah itu pengamat sastra, “kritikus”, filsuf, redaktur hingga para mahasiswa sastra Indonesia. Saya kira akan menjadi sebuah upaya yang sia-sia apabila saya memaksakan diri menulis tulisan semacam itu, selain karena alasan di atas juga karena kapasitas […]

Continue Reading

122. Semakin Asing dengan Puisi

HARUS aku akui, kini aku semakin merasa asing dengan puisi, o, Penyairku. Kata-kata yang bergerombol dalam kuplet-kuplet itu tampak begitu aneh dan artifisial. Apakah ini suatu kemunduran apakah ini kemajuan tidaklah jelas benar bagiku. Catatan ini pun semakin kering dan jauh dari kebijaksanaan seorang (bekas?) penyair yang menapaki usia kepala-abu-abu. Dulu pernah kuyakini puisi takkan […]

Continue Reading

121. Bila Penyair Mati Gaya

BEGINILAH, o Penyairku, bila kau tak lagi mampu menulis satu sajak pun dalam kurun waktu cukup lama, lalu kau mulai mencari-cari alasan untuk memaafkaan dirimu sendiri seperti tenggelam dalam rutinitas kerja, atau otakmu mulai tumpul karena termakan usia, atau karena merasa gagal menyegarkan gaya bersyairmu, atau alasan apa pun, maka barangkali saatnya tiba untukmu kembali […]

Continue Reading

Permaafan

MOHON maaf bagi rekan-rekan sahabat TITIKNOL bahwa saya sekian lama mengabaikan studio puisi ini. Insya Allah, sedikit demi sedikit akan saya coba gairahkan kembali.

Continue Reading