Angin NOL
  • Mohon Doa Restu, TITIKNOL Punya Gawe
    DEAR FRIENDS, mohon doa restu atas upacara pernikahan kami yang akan berlangsung pada hari Minggu 18 Mei 2008 pukul 11.30-14.00 WIB di Gedung DPD Golkar, Jl. Pemuda 93 Pemalang, Jawa Tengah. Semoga keikhlasan doa restu teman-teman semua menjadi cahaya penerang perjalanan kami selanjutnya. Amin. Terima kasih -- TS PINANG & ROSALIA HENING WIJAYANTI

    09/05/2008 - 23:10:27
  • Penyair Dino F. Umahuk Berduka
    انا لله وانا اليه راجعون
    Telah berpulang kepada-Nya, putra Dino Umahuk yang bernama Maulana Alfi Syahri di usia 7 bulan 7 hari di RSU Zainal Abidin Banda Aceh, Ahad 4 Mei 2008 pukul 20.15 WIB. Semoga arwahnya diterima dalam hangat kasih Allah SWT. Semoga Dino dan keluarga diberi ketabahan. TITIKNOL ikut berduka sedalam-dalamnya.
    05/05/2008 - 02:24:14
  • Sajak-sajak TITIKNOL di Jurnal Nasional
    Jurnal Nasional edisi Minggu 4 Mei 2008 memuat sajak-sajak Coklat Hangat, Keramik, Kutu, Apel, Sapu Lidi 1, Sapu Lidi 2, Halang, Cermin, Jarum, Cucur, Rakit, Bubur, Biarlah Kutulis, Tiga Sajak yang Ditulis Pagi Hari.
    04/05/2008 - 08:35:13
  • 68 Tahun Penyair Diah Hadaning
    SELAMAT, Bunda, jalanmu kian dekat ke tujuan. Semoga sehat selalu, agar terus engkau ajari kami kidung-kidungmu.
    04/05/2008 - 08:19:04
  • BERITA DUKA
    Hudan Nur, penyair perempuan dan aktivis sastra Kalimantan Selatan, mengalami musibah kecelakaan ditabrak lari truk. Sudah 4 hari menjalani perawatan intensif di RS Banjarmasin. Kondisinya sangat memprihatinkan; tulang punggung, rahim dan rusuk patah. Mohon doa kawan-kawan sastrawan di tanah air untuk keselamatan dan kepulihan Hudan.

    Bila ada kawan-kawan yang ingin menyumbang dana, kirim ke rekening 0065889174 atas nama Hudan Nur, BNI Cabang Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
    01/05/2008 - 23:44:45
  • The "Claws" Night atawa Malam Cékér
    KEDAI SERBA CÉKÉR (jw. cakar), pinggir selokan Mataram, Yogyakarta. Sedia macam-macam masakan dengan cakar ayam, 100% bumbu rempah alami tanpa monosodium glutamat (MSG). Malam ini juga menyajikan Apresiasi Sastra bersama Kang Sigit "Bondet" Susanto yang baru mudik ke tanah air untuk meluncurkan buku memoar perjalanannya Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2. Ada juga penyair Wayan "Jengki" Sunarta dari Bali, Puthut EA, Dwicipta, Shiho, Sun Lie "STA", Mas Saut, Jeng Anin, Mas Arie, Adi Toha van Jatinangor, Anwar INSIST, Aguk "Bait-bait Cinta", dan tentu saja Faiz the chef of cékér. Ah, teman, untuk siapakah sastra? Yang jelas, these CÉKÉRs are of high evil CHOLESTEROL, eh?
    01/05/2008 - 23:34:26
  • Turut Berduka
    TITIKNOL turut berdukacita atas keberangkatan ayahanda tercinta dari Upik (komunitas Bungamatahari). Semoga menempuh perjalanan yang lancar ke haribaan-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan ikhlas mengantarkannya.
    22/04/2008 - 11:38:47
  • Milis Bungamatahari di Jogja
    KEDAI KEBUN, Jl. Tirtodipuran 3, Sabtu 19 April 2008 pukul 19.00 WIB. Bawa puisi. Kontak: Ingrid - 081328058352.
    17/04/2008 - 06:48:45
  • Bagaimana rasanya berjumpa penyair M. Aan Mansyur?
    Seperti secangkir kopi manis pekat di senja yang hujan, atau seperti swing jazz di malam yang ringan.
    01/04/2008 - 22:48:29
  • Cheers!
    Di warung kopi Cheers pinggir selokan Mataram dekat kampus UGM, sore, telah diselenggarakan sebuah pertemuan rahasia antara TSP dengan Ingrid, Dwi Rastafara, Tutut. Beberapa saat kemudian Penyair Negeri Sipil, Budhi Setyawan, datang bersama anggota pasukan pribadinya. Untung saja, pembicaraan berakhir sebelum terlalu jauh tergelincir ke topik alam gaib, alias klenik puisi.

    22/03/2008 - 23:00:48

TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi.

TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+

POÉSIE | PUISI | PROSA | TRIBUTE | LINGKAR | BUKUTAMU | PENYAIR


ESEI | FIKSI | MEMOAR  

08.04.2008

Selamat, Saya Kira Anda Sudah Tiba di Gerbang Puisi!

Berpuisi saya kira adalah perjalanan jelajah ke rimba pengalaman-pengalaman baru seorang diri. Pengalaman-pengalaman (batin) itu kita rekam dengan bahasa. Bahasa adalah alat atau medium dalam seni puisi ini, sebagaimana kanvas dan cat bagi pelukis. Sering kali, pengalaman-pengalaman itu begitu abstrak dan 'asing' sehingga sulit untuk dibahasakan. Di sinilah letak pergulatan seorang penyair: menggali kemungkinan-kemungkinan pengungkapan pengalaman-pengalaman 'puitik' itu melalui bahasa, atau meminjam istilah Saini KM “bergulat dan menundukkan bahasa”. Pergulatan ini tidak selalu berhasil, dan bahasa tidak selalu dapat mengungkapkan suatu pengalaman secara utuh.

[baca++]

22:59:49 | NOL KOMENTAR


04.02.2008

Poetry Writing from The Speaker of English as a Foreign Language's Point of View

Writing English poems is still very hard for me. So is with Javanese poems. The inferiority caused by my lacking of English cultural experience has forced me to write in my own way, my own sense of diction, my personally invented idioms. I pay less attention to the fact that native English speakers might find some bizarre expressions in my poetry. I keep my optimism that some likely unusual expressions in my poetry might, on the contrary, offer fresh yet local taste of English, especially in poetry.
[baca++]

14:35:14 | NOL KOMENTAR


24.11.2007

Membaca Karna, Membidik Keabadian

Hasil pertempuran pada akhirnya memang ditentukan oleh banyak faktor. Ketrampilan tempur yang ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran (lihat meditasi Arjuna saat membidik kepala burung), skenario sang “dalang” dengan misteri-misteri “kebetulan”, serta pilihan keputusan yang diambil, menjadi penting dalam menentukan jalannya cerita. Akhir yang bagaimanakah kira-kira di ujung jalan yang sedang kita tempuh ini? [baca++]

09:40:37 | NOL KOMENTAR


23.11.2007

Menilai Puisi dari Judul

Konon, setiap peralihan dua alam terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang. [baca++]

22:30:54 | NOL KOMENTAR


Menuju Puisi Setajam Daun Ilalang, Sejernih Mata Hati*

Di Matamu yang Ilalang
Sajak Ghe

di matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai. ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.

menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.


Sejujurnya saya sangat menyukai judul sajak di atas. Judul ini begitu kuat mengesan dalam benak saya bahkan sebelum saya membaca isi sajaknya. Saya rasa yang membuat judul itu terasa kuat mula-mula adalah pilihan pencitraan yang dipilih penyair sajak ini dengan menggabungkan kata 'mata' dengan 'ilalang'. Mata yang ilalang, mata yang bagaimanakah itu? Karakter ilalang yang mana yang begitu khas sehingga penyair sajak ini memilihnya untuk memperkuat sifat mata si 'kamu' itu? Tak sabar ingin segera saya temukan jawabannya di dalam larik-larik puisinya. [baca++]

18:51:53 | NOL KOMENTAR


26.12.2006

Membaca Puisi di Gerbong Kereta Api*

Stasiun keberangkatan dan tujuan adalah dua titik utama sebuah perjalanan berkereta api. Dua ujung sebuah garis dari-menuju. Lalu di antara kedua titik itu terentang sebuah lini, negosiasi antara yang lampau dengan yang nanti, masa lalu dengan masa depan yang sesungguhnya nisbi, ilusif, tiada. Yang hadir kemudian adalah 'saat ini' yang terus-menerus melampaukan dirinya. Dalam pelarian terus-menerus dari kini ke lampau semacam inilah serangkaian gerbong kereta berpacu menaklukkan (atau justru ditaklukkan?) waktu. Karena masa depan sesungguhnya hanya ilusi dan masa kini selalu bermutasi menjadi lawas, maka penyair, atau siapapun, yang mencoba mencatat peristiwa di serangkaian situs kota-stasiun-gerbong hanya akan menemukan catatan sejarah, masa lampau. Itulah 'kenyataan' yang masih mungkin dicatat karena 'saat ini' telah serta-merta menjadi lampau begitu memasuki alam resepsi indrawi, apalagi saat dituliskan. Rupanya, catatan sejarah itu, atau lebih puitik disebut sebagai 'kenangan', menemukan deritnya di gerbong-gerbong puisi yang melaju pergi-pulang. [baca++]

01:06:21 | 2 KOMENTAR


25.11.2006

Di Lengkung Alis Mata(mu) Ada Puisi Bagimu

Dari sajak demi sajak di dalam buku ini saya melihat seorang lelaki yang bergulat, mencatat, berkeluh-kesah, memotret, mengenang. Khas penyair "aliran dalam" yang lebih suka merenung, bermenung. Penyair yang diam, yang sunyi, yang memendam semua residu kehidupannya dari hari ke hari. Ia mengumpulkan serpih-serpihan emosi, memeramnya sejenak sekedar cukup fermentasi agar aroma alkohol mulai keluar, lalu menikmatinya diam-diam, menyetubuhinya demikian mesra hingga beranak-pinak sajak. [baca++]

11:30:00 | 1 KOMENTAR


16.10.2006

Hal Diksi dalam Puisi

Penyair, terutama yang masih mula-mula menggauli puisi, sering tergoda untuk memilih kata-kata, frasa, atau idiom yang indah-indah sebagaimana sering dijumpai dalam karya-karya sastra klasik, syair-syair lagu, atau kartu-kartu ucapan hari khusus, seolah-olah kata-kata tersebut serta-merta membuat sebuah sajak menjadi "indah". Estetika bahasa seolah diyakini dapat dicapai melalui penggunaan idiom-idiom yang klise tersebut, yang cenderung "berbunga-bunga". Efek estetik seakan menjadi satu-satunya yang penting dalam proses penciptaan puisi, sehingga rekan-rekan penyair yang muda pengalaman sering kali melupakan elemen-elemen lain yang tak kalah pentingnya dalam puisi. Bukankah terlalu terpaku pada polesan kosmetika sering beresiko memudarkan inner beauty, "kecantikan dalam", aura seseorang? Begitu pula puisi, ada "tenaga dalam" yang juga (lebih) perlu mendapatkan perhatian penyair. Diksi, sedikit banyak memegang peranan penting dalam memunculkan kekuatan-kekuatan sebuah karya puisi, baik secara fisik semisal unsur bunyi (musikalitas), keunikan komposisi, maupun secara nonfisik seperti picuan asosiasi makna yang terbangkit dalam benak dan hati pembaca, getar emosi tertentu atau bahkan debar spiritual yang tak terjelaskan yang dirasakan oleh seseorang seusai membaca sebuah karya. [baca++]

17:47:11 | 2 KOMENTAR


14.08.2006

'Ngeng' dan Proses Kreatif Seni

Kesenian menyarankan sebuah kegiatan memperhalus budi pekerti, mengasah rasa dan daya cipta sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dengan segala gelaran ciptaan-Nya di seantero semesta ini. Kesenian merupakan upaya menala rasa-cipta pelakunya untuk menggapai keselarasan antara gerak kosmos dengan gerak hati. Resonansi makrokosmos dengan yang mikro, semesta raya dengan kalbu manusia. Momentum tercapainya keselarasan ini mungkin yang oleh sebagian besar seniman tradisi Jawa disebut sebagai 'ngeng'. Kata 'ngeng' sendiri tidak dapat diterjemahkan karena ia tidak memiliki makna harfiah. 'Ngeng' dipakai untuk menggambarkan sebuah suasana hati yang kosong sekaligus penuh, hening sekaligus riuh oleh gagasan, diam namun penuh daya gerak cipta. Beberapa memadankannya dengan 'ilham' atau 'momen inspiratif' meski istilah-istilah ini belum mampu menampung keseluruhan maksud yang dikandung oleh istilah 'ngeng' tersebut. Mungkin ini semacam 'taksu' dalam tradisi Bali, semacam kondisi 'tuned in' pada frekuensi kreativitas murni di mana daya kreativitas yang sadar dan subsadar, akal dan budi, rasio dan rasa, sudah tidak dapat dipilahkan lagi. Dualisme melebur sedemikian rupa, sehingga gerak tubuh, gerak hati, dan daya gaib kosmik berkolaborasi secara padu dan harmonis. [baca++]

15:21:25 | NOL KOMENTAR


06.08.2006

Menyoal Komunitas Sastra
(Surat Terbuka untuk Anita Retno Lestari)

Sebuah kerja sastra mestinya berangkat dari idealisme dan semangat individu. Komunitas sastra hanyalah wahana interaksi antar-individu, antar-idealisme yang terlibat di dalamnya. Artinya, sebuah produk sastra pada akhirnya tetap merupakan hasil pergulatan kreatif seorang penulis sendiri, baik itu pemula maupun senior. Sebuah komunitas bisa menjadi mandul atau kontraproduktif jika tidak berhasil memicu daya kreatif individual warganya, dan dalam kasus begini, bekerja mandiri di luar komunitas akan jauh lebih efektif. Toh, jika Anda melihat sosok-sosok penulis besar dunia, sebagian besar justru menekuni jalan sastranya sendirian. Sumber ilmu (ke)sastra(an) tak perlu terbatas hanya dalam bayang-bayang sosok literati, sastrawan-sastrawan senior, intelektual sastra itu. Kemajuan teknologi informasi mestinya dapat mendobrak mitos-mitos senior-pemula, dinding-dinding inferioritas yang menjadi tempurung bagi katak kreativitas (dalam komunitas) Anda. [baca++]

16:15:00 | 4 KOMENTAR


SEMUA KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN HARUS DENGAN IJIN PENGARANG. Lumbung Prosa

04-2008 02-2008 11-2007 12-2006 11-2006 10-2006 08-2006 07-2004 06-2004 05-2004 10-2003 09-2003 08-2003 06-2003 05-2003 02-2003 07-2001 05-2001


Lihat, penulisan "Disini" pada tag iklan di atas! Jelas itu bukan tulisan seorang penyair. Jadi jangan ditiru, ya! (TS Pinang)

 

Semenjak 2000 © TS Pinang
h t t p : / / w w w . t i t i k n o l . c o m
t s p i n a n g @ t i t i k n o l . c o m

TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang, seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.

 Kembali ke Puncak