|

ESEI | FIKSI | MEMOAR
08.04.2008
Selamat, Saya Kira Anda Sudah Tiba di Gerbang Puisi!
Berpuisi saya kira adalah perjalanan jelajah ke rimba pengalaman-pengalaman baru seorang diri. Pengalaman-pengalaman (batin) itu kita rekam dengan bahasa. Bahasa adalah alat atau medium dalam seni puisi ini, sebagaimana kanvas dan cat bagi pelukis. Sering kali, pengalaman-pengalaman itu begitu abstrak dan 'asing' sehingga sulit untuk dibahasakan. Di sinilah letak pergulatan seorang penyair: menggali kemungkinan-kemungkinan pengungkapan pengalaman-pengalaman 'puitik' itu melalui bahasa, atau meminjam istilah Saini KM “bergulat dan menundukkan bahasa”. Pergulatan ini tidak selalu berhasil, dan bahasa tidak selalu dapat mengungkapkan suatu pengalaman secara utuh.
[baca++]
22:59:49 | NOL KOMENTAR
04.02.2008
Poetry Writing from The Speaker of English as a Foreign Language's Point of View
Writing English poems is still very hard for me. So is with Javanese poems. The inferiority caused by my lacking of English cultural experience has forced me to write in my own way, my own sense of diction, my personally invented idioms. I pay less attention to the fact that native English speakers might find some bizarre expressions in my poetry. I keep my optimism that some likely unusual expressions in my poetry might, on the contrary, offer fresh yet local taste of English, especially in poetry.
[baca++]
14:35:14 | NOL KOMENTAR
24.11.2007
Membaca Karna, Membidik Keabadian
Hasil pertempuran pada akhirnya memang ditentukan oleh banyak faktor. Ketrampilan tempur yang ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran (lihat meditasi Arjuna saat membidik kepala burung), skenario sang “dalang” dengan misteri-misteri “kebetulan”, serta pilihan keputusan yang diambil, menjadi penting dalam menentukan jalannya cerita. Akhir yang bagaimanakah kira-kira di ujung jalan yang sedang kita tempuh ini?
[baca++]
09:40:37 | NOL KOMENTAR
23.11.2007
Menilai Puisi dari Judul
Konon, setiap peralihan dua alam terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang.
[baca++]
22:30:54 | NOL KOMENTAR
Menuju Puisi Setajam Daun Ilalang, Sejernih Mata Hati*
Di Matamu yang Ilalang
Sajak Ghe
di matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai. ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.
menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.
Sejujurnya saya sangat menyukai judul sajak di atas. Judul ini begitu kuat mengesan dalam benak saya bahkan sebelum saya membaca isi sajaknya. Saya rasa yang membuat judul itu terasa kuat mula-mula adalah pilihan pencitraan yang dipilih penyair sajak ini dengan menggabungkan kata 'mata' dengan 'ilalang'. Mata yang ilalang, mata yang bagaimanakah itu? Karakter ilalang yang mana yang begitu khas sehingga penyair sajak ini memilihnya untuk memperkuat sifat mata si 'kamu' itu? Tak sabar ingin segera saya temukan jawabannya di dalam larik-larik puisinya.
[baca++]
18:51:53 | NOL KOMENTAR
26.12.2006
Membaca Puisi di Gerbong Kereta Api*
Stasiun keberangkatan dan tujuan adalah dua titik utama sebuah perjalanan berkereta api. Dua ujung sebuah garis dari-menuju. Lalu di antara kedua titik itu terentang sebuah lini, negosiasi antara yang lampau dengan yang nanti, masa lalu dengan masa depan yang sesungguhnya nisbi, ilusif, tiada. Yang hadir kemudian adalah 'saat ini' yang terus-menerus melampaukan dirinya. Dalam pelarian terus-menerus dari kini ke lampau semacam inilah serangkaian gerbong kereta berpacu menaklukkan (atau justru ditaklukkan?) waktu. Karena masa depan sesungguhnya hanya ilusi dan masa kini selalu bermutasi menjadi lawas, maka penyair, atau siapapun, yang mencoba mencatat peristiwa di serangkaian situs kota-stasiun-gerbong hanya akan menemukan catatan sejarah, masa lampau. Itulah 'kenyataan' yang masih mungkin dicatat karena 'saat ini' telah serta-merta menjadi lampau begitu memasuki alam resepsi indrawi, apalagi saat dituliskan. Rupanya, catatan sejarah itu, atau lebih puitik disebut sebagai 'kenangan', menemukan deritnya di gerbong-gerbong puisi yang melaju pergi-pulang.
[baca++]
01:06:21 | 2 KOMENTAR
25.11.2006
Di Lengkung Alis Mata(mu) Ada Puisi Bagimu
Dari sajak demi sajak di dalam buku ini saya melihat seorang lelaki yang bergulat, mencatat, berkeluh-kesah, memotret, mengenang. Khas penyair "aliran dalam" yang lebih suka merenung, bermenung. Penyair yang diam, yang sunyi, yang memendam semua residu kehidupannya dari hari ke hari. Ia mengumpulkan serpih-serpihan emosi, memeramnya sejenak sekedar cukup fermentasi agar aroma alkohol mulai keluar, lalu menikmatinya diam-diam, menyetubuhinya demikian mesra hingga beranak-pinak sajak.
[baca++]
11:30:00 | 1 KOMENTAR
16.10.2006
Hal Diksi dalam Puisi
Penyair, terutama yang masih mula-mula menggauli puisi, sering tergoda untuk memilih kata-kata, frasa, atau idiom yang indah-indah sebagaimana sering dijumpai dalam karya-karya sastra klasik, syair-syair lagu, atau kartu-kartu ucapan hari khusus, seolah-olah kata-kata tersebut serta-merta membuat sebuah sajak menjadi "indah". Estetika bahasa seolah diyakini dapat dicapai melalui penggunaan idiom-idiom yang klise tersebut, yang cenderung "berbunga-bunga". Efek estetik seakan menjadi satu-satunya yang penting dalam proses penciptaan puisi, sehingga rekan-rekan penyair yang muda pengalaman sering kali melupakan elemen-elemen lain yang tak kalah pentingnya dalam puisi. Bukankah terlalu terpaku pada polesan kosmetika sering beresiko memudarkan inner beauty, "kecantikan dalam", aura seseorang? Begitu pula puisi, ada "tenaga dalam" yang juga (lebih) perlu mendapatkan perhatian penyair. Diksi, sedikit banyak memegang peranan penting dalam memunculkan kekuatan-kekuatan sebuah karya puisi, baik secara fisik semisal unsur bunyi (musikalitas), keunikan komposisi, maupun secara nonfisik seperti picuan asosiasi makna yang terbangkit dalam benak dan hati pembaca, getar emosi tertentu atau bahkan debar spiritual yang tak terjelaskan yang dirasakan oleh seseorang seusai membaca sebuah karya.
[baca++]
17:47:11 | 2 KOMENTAR
14.08.2006
'Ngeng' dan Proses Kreatif Seni
Kesenian menyarankan sebuah kegiatan memperhalus budi pekerti, mengasah rasa dan daya cipta sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dengan segala gelaran ciptaan-Nya di seantero semesta ini. Kesenian merupakan upaya menala rasa-cipta pelakunya untuk menggapai keselarasan antara gerak kosmos dengan gerak hati. Resonansi makrokosmos dengan yang mikro, semesta raya dengan kalbu manusia. Momentum tercapainya keselarasan ini mungkin yang oleh sebagian besar seniman tradisi Jawa disebut sebagai 'ngeng'. Kata 'ngeng' sendiri tidak dapat diterjemahkan karena ia tidak memiliki makna harfiah. 'Ngeng' dipakai untuk menggambarkan sebuah suasana hati yang kosong sekaligus penuh, hening sekaligus riuh oleh gagasan, diam namun penuh daya gerak cipta. Beberapa memadankannya dengan 'ilham' atau 'momen inspiratif' meski istilah-istilah ini belum mampu menampung keseluruhan maksud yang dikandung oleh istilah 'ngeng' tersebut. Mungkin ini semacam 'taksu' dalam tradisi Bali, semacam kondisi 'tuned in' pada frekuensi kreativitas murni di mana daya kreativitas yang sadar dan subsadar, akal dan budi, rasio dan rasa, sudah tidak dapat dipilahkan lagi. Dualisme melebur sedemikian rupa, sehingga gerak tubuh, gerak hati, dan daya gaib kosmik berkolaborasi secara padu dan harmonis.
[baca++]
15:21:25 | NOL KOMENTAR
06.08.2006
Menyoal Komunitas Sastra (Surat Terbuka untuk Anita Retno Lestari)
Sebuah kerja sastra mestinya berangkat dari idealisme dan semangat individu. Komunitas sastra hanyalah wahana interaksi antar-individu, antar-idealisme yang terlibat di dalamnya. Artinya, sebuah produk sastra pada akhirnya tetap merupakan hasil pergulatan kreatif seorang penulis sendiri, baik itu pemula maupun senior. Sebuah komunitas bisa menjadi mandul atau kontraproduktif jika tidak berhasil memicu daya kreatif individual warganya, dan dalam kasus begini, bekerja mandiri di luar komunitas akan jauh lebih efektif. Toh, jika Anda melihat sosok-sosok penulis besar dunia, sebagian besar justru menekuni jalan sastranya sendirian. Sumber ilmu (ke)sastra(an) tak perlu terbatas hanya dalam bayang-bayang sosok literati, sastrawan-sastrawan senior, intelektual sastra itu. Kemajuan teknologi informasi mestinya dapat mendobrak mitos-mitos senior-pemula, dinding-dinding inferioritas yang menjadi tempurung bagi katak kreativitas (dalam komunitas) Anda.
[baca++]
16:15:00 | 4 KOMENTAR
|