|

SAJAK-SAJAK | ENGLISH POEMS | GEGURITAN JAWA
04.05.2008
Sajak Secawan Teh
- kepada Diah Hadaning
ijinkanlah kami menuangkan teh ke cawan beling, lalu menyuguhkannya ke meditasimu yang hening. lalu, engkau akan mengajarkan kidung-kidung puja ke ubun-ubun kami, seperti siraman air tigarupa kembang wangi, meruwat setiap aksara di tubuh kami*. hari ini engkau mengingat matahari pertama, sedangkan kami susah payah merangkai cerita. di matamu yang senja, kami ini remaja yang sedang belajar berdoa.
maka berkidunglah, bunda. ajari kami memuja Cinta!
__________________________
* dicuri dari cerita Wayan Sunarta tentang tradisi nyastre Hindu Bali, dalam sebuah obrolan santai
08:21:21 | NOL KOMENTAR
24.04.2008
Lounge
silakan duduk, selamat datang di rumah kami. di sinilah kami bersarang, mengerami telur-telur kami dan menipu musim dengan kehangatan dari tungku pemanas di dada kami. sebentar lagi kami akan rebuskan air, menyeduh kopi dan sedikit fiksi tentang tuhan yang disekutukan. jangan kaget, di negeri kami tuhan mudah dibeli dan dikemas dalam jubah api. rakyat kami jarang membaca, jadi tak mudah bagi kami memahami. ah, sebentar lagi air mendidih, siap untuk secangkir puisi, atau kopi. mana yang anda sukai?
silakan duduk, maaf kami kurang sopan berbasa-basi. kami memang pendiam, suka memendam semua dalam hati. ah, kami hanya tak suka membuang-buang energi. biarlah amarah kami, jadi pembakar tungku di dada sendiri. panasnya cukup untuk merebus air tiap pagi, dan bisa sekejap saja siap untuk secangkir kopi, atau puisi.
silakan duduk. maaf, hari ini kami tak nyalakan televisi. kami hanya punya bacaan barang sedikit. brosur panel penangkap sinar mentari, atau ini, tabloid khusus paranormal, cocok untuk melarikan diri dari berita-berita agitasi. silakan minum. maaf kalau tak manis, gula kami tiba-tiba menjadi pahit oleh sabda para ulama malam kemarin di televisi. sudah dengarkah anda? para ulama itu membuat ustadz kami menangis, dan musala kami bergoyang.
silakan duduk, apa kabar anda hari ini?
14:55:24 | 1 KOMENTAR
22.04.2008
Bibliotek
koleksi kami tak cukup banyak untuk menyekat ruangan dengan rak setinggi dinding. kami hanya membaca pustaka sederhana, resep masakan dan majalah wanita. sesekali kami membaca tabloid mistik dan katalog lipstik: informasi yang amat sering kami butuhkan. kami ingin rumah kami cukup pintar untuk menyegarkan otak kami, karenanya kami memajang kitab-kitab tua. kami percaya, otak kami terasa segar dan muda ketika membaca sesuatu yang tua. kami membaca kitab suci pula, sekadar hiburan pelipur lara, pengantar tidur anak-anak kami. sebab lebih mudah membacakan dongeng tentang nabi-nabi, daripada cerita Dr. Seuss tentang monster pabrik dan si pohon yang mencemaskan nasib bumi. kami tak secerdas yang kami inginkan, tapi pustaka kami memang bukan untuk mencerdaskan, cukuplah asal membuat kami takut tuhan.
koleksi kami tak cukup banyak untuk meredam suara teriakan di televisi agar tak mengganggu ruang tamu. kami tidur dan bercinta di atas buku-buku, majalah kaum lelaki, juga kamasutra versi playboy. semua yang dituliskan adalah sastra, katamu. maka kami pun mulai membaca neraca dan sukubunga. ah, balance kami tak indah pula.
sesungguhnya kami hanya ingin punya buku tentang danau dan sampan kano, agar kami bisa mabuk dan tenggelam saat purnama. seperti Li Po!
06:41:42 | 1 KOMENTAR
20.04.2008
Patio
seperti pulau, biarlah di dalam rumah kami menggenang danau. sedikit ikan merah jingga dan teratai yang geming tenang, atau rumpun semanggi yang terambang. akan kami letakkan pula seonggok batuan karang dan kerakal dari sungai ingatan kami. meski kami ini pelupa, sesekali kami suka memfosilkan rindu dan air mata, tersimpan di relung batu dan kalbu kata-kata.
di danau di tengah rumah kami itu, kami menyimpan wangi ratus dan aroma kembang harummalam, juga desir air yang meniru deras darah di pembuluh tubuh kami. kadang-kadang, mimpi-mimpi kami suka bersampan di situ, memancing ikan-ikan merah jingga, hingga malaikat subuh menculik mereka kembali. membawa juga doa-doa sepanjang malam, ritual kami.
16:28:45 | NOL KOMENTAR
19.04.2008
Atap
kami ingin menanam sayur-mayur di atap, memaksa musim basah agar menetap. kami takut kekeringan sebagai kami takut pada ular kakap. kami ingin pula menanam hati kami di atap, agar di bawah naungnya tidur kami lebih lelap. percayalah, jika kami dapat menanam yang paling penting bagi hidup kami, sayur-mayur dan hati, hidup kami akan terasa lengkap.
di atap itu, kami ingin berkebun wortel dan gambas. wortel agar rumah kami lebih awas mengawasi tingkah adat kami setiap hari, dan gambas sebab di dalam biji-bijinya mantra nenek kami dirajahkan suatu masa. kami ingin rumah kami beratap kuat dan bijak, agar kami tak perlu mendongak setiap saat bercemas ada genting yang retak terinjak. mungkin atap kami harus tinggi, agar kami tak perlu lagi meninggi-ninggikan hati.
07:41:24 | 1 KOMENTAR
16.04.2008
Foyer
kami sering terpaku di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu. tak ada akuarium di sini--sudah cukup banyak ikan berenang di perut kami. di sini kami menghela jeda di sela-sela derum nafas kami, lalu berhitung berapa langkah lagi untuk sampai di bidang ranjang, tempat kami berdebat tentang kaki mana sebaiknya naik lebih dahulu: kiri ataukah kanan. ah, kami terlalu sering berhitung hingga habis jemari kami, buntung oleh bilangan-bilangan setajam pisau pancung.
di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu ini kami sering terpaku. memandang tatap mata seseorang di lukisan dinding, sembari bertanya-tanya mengapa patung buddha itu terpejam matanya. buddha sedang samadi, katamu, dan kami begitu saja percaya. kami mengambang di antara pintu dan ruang tamu ini, bimbang antara menutup pintu di belakang kami atau melanjutkan tualang di padang kasur. tentu saja setelah menyapa patung buddha yang tertidur.
23:22:48 | NOL KOMENTAR
15.04.2008
Jemuran
percayakah engkau jika kami bilang tak pernah menjemur baju? pakaian kami kering sendiri tanpa sempat kami gantung di tali matahari. hari-hari yang panas di kepala kami, juga di pekarangan dada kami, menjadikan halaman samping rumah kami sepi dari lambaian celana atau kaus kaki.
kadang ada pula kami mengeringkan sprei tilam kami atau selimut yang baru kami cuci, dari peluh yang deras akibat keluh atau tetes lenguh yang kami peras tadi subuh. juga di sepanjang bentang temali itu, kami gantung pula rindu kami masing-masing yang basah melulu, sebagaimana sering kami gantung kata-kata dalam puisi kami agar mengering seperti daun bambu: bumbu sambal sajak teman makan kami sehari-hari.
percayakah engkau?
16:09:35 | 2 KOMENTAR
14.04.2008
Kakus
kami tak percaya pada najis, sebab kami tidak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. di sini setiap pagi, kami menjadi pintu bagi yang tiba di lembar lidah hendak pulang ke hulu tanah. kami yang tiap hari memburu waktu, tiap pagi terduduk di lubang itu.
kami tak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. dan lubang di kamar yang pepat ini, selalu mengulang-ulang petuah: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat.
17:45:01 | 4 KOMENTAR
12.04.2008
Sumur
di belakang rumah kami menggali liang di mana tergantung nasib hidup kami. dengan airnya kami lunaskan haus seharian, setelah bersitegang dengan timba dan tambang. kadang kami mencoba, membaca muka airnya. siapa tahu mata kami mampu menjangkau wajah kami sekilas saja. tapi liang itu terlalu dalam dan gelap. tersebab itulah airnya sejuk dan sedap.
di depan rumah kami menyiram kembang, dengan air yang kami minta dari timba dan tambang. sebab kami pernah mendengar, segala yang berangkat dari tanah, ke tanah pula ia pulang. dan kembang itu kami tanam di tanah juga, sebagaimana kami menanam kakek-nenek kami, tetua-tetua kami, anak-anak kami, juga bayang kami sendiri. di belakang rumah kami menggali tanah, demi setimba air. dan dengan liang yang gelap itu, kami mengukur dalamnya. tapi kami tak pernah sampai di batas akhir.
kami masih bercakap panjang dengan timba dan tambang. hingga lupa berapa kali kami telah pergi dan pulang. kami ingin mengambil kembali, wajah kami yang jatuh di dasar liang. tapi liang itu terlalu dalam dan gelap. seperti senja yang datang menyergap.
02:58:48 | 2 KOMENTAR
10.04.2008
Regol
kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak melulu dikungkung sepi. kami ingin beranda kami hangat oleh sukaduka yang datang dan pergi. kami ingin belajar tak takut pada pencuri, sebab bila siap berbagi, takkan ada yang bisa direbut lagi.
kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar kami tak merasa terkurung. kami menetas sebagai burung, rumah kami teranyam dari jerami kering dan serat-serat cinta yang kami pintal, kami gelung. lalu kami terbang dan pulang setiap kali, tanpa perlu mencemaskan anak kunci. rumah kami tak berpintu, hanya berpagar kidung dan tuah kalbu.
kami ingin gerbang rumah kami tak terkunci, agar segala yang terbang tak lupa tempat kembali.
00:09:31 | 4 KOMENTAR
|