|

SAJAK-SAJAK | ENGLISH POEMS | GEGURITAN JAWA
19.02.2010
Sekar Pocung Kagem Kinanthi
(sekar pocung)
ngger anakku, tansah santosa rahayu
bebingah jroning tyas
wus lampah panca purnami
cah ayu dadya suryanipun biyung bapa
14:09:35 | NOL KOMENTAR
10.02.2010
Kinanthi Sigaraning Ruh*
(macapat kinanthi)
wanodyayu garwaningsun
pidhangetna kidung niki
sumedhot rasaning manah
sigar raga ruh nyawiji
tetepna patrap sumarah
mugi kinasih Hyang Widhi
sanadyan lampah sinandhung
tetegna tekading ati
sipating nepsu angkara
den kipatna jroning agni
awit sumarahing suksma
kuncining kabegjan jati
_________
*Kaanggit kagem garwaningsun Rosalia Hening Wijayani
00:35:57 | NOL KOMENTAR
19.01.2010
Dhandhang Gendhis Kagem Kinanthi
(macapat dhandhanggula)
duh yoganingsun laras kinanthi
catur purnami tinilar rama
dadi tambah lan manise
tansah sinandhing biyung
den pinayung kidung anjagi
tebih kabeh dhukita
lan pedhuting kalbu
tansah padhang kadya surya
hayunira cahya katresnan hyang widhi
kinanthi biyung bapa
01:17:00 | NOL KOMENTAR
31.12.2009
Kami Melepasmu dengan Suka dan Rela
: Gus Dur
kami berkabung tersebab cinta. cintamu pada manusia, pada semesta. kami ingin melepas perjalananmu dengan suka dan rela, tetapi lidah kami hampa rasa, gugur kata-kata.
kami ingin mengantarmu memasuki gerbang cahaya, pintu perjalananmu selanjutnya. tapi kami hanya kuasa tersedu, tak mampu menggandeng tanganmu.
kami berkabung tersebab cinta. kami melepasmu dengan suka dan rela, seperti tawamu yang lepas dan rela, seperti mata kami yang ikhlas menghujankan air mata.
19:22:37 | NOL KOMENTAR
20.10.2009
Gempa Tanah Kami
bumi berguncang. kami terdiam dalam cengang dalam galau dalam helaan nafas dalam-dalam. kami sebut nama Tuhan dan nama anak-anak kami, ibu-bapa kami, handai taulan kami yang terguncang-guncang dalam ingatan kami. kami sebut nama Tuhan dalam doa patah-patah terbata-bata membilang siapa-siapa yang terlewat kami sebut namanya, mencari-cari siapa-siapa yang terlupa wajahnya, siapa-siapa yang berebut menggapai-gapai kecemasan kami.
bumi kami meregang, rengkah serupa amarah serupa rahang yang gemeretuk menahan geram. kami bersujud dalam ketiadaan daya, lumpuh rasa lumpuh kata, bagai butir pasir dalam pusaran palung yang memuting, membawa pergi satu-satu yang kami cintai tanpa sempat memohon diri. kami terdiam dalam cengang dalam absen kesadaran, tersihir oleh geletar di telapak kaki, tak hilang-hilang ngilunya sampai di debar hati.
engkau bilang ini gempa, kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang ini karena dosa kami belaka. kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang, bertobatlah demi azab Tuhan! kami bilang ini sepenggal kisah duka. kami bilang ini kisah duka, babak lain dari kisah cinta. sebagai kami tetap cinta tanah kami, betapapun murka dia, betapapun luka dia. kami anak-anak bumi, lahir, hidup, mati kami oleh cintanya juga.
bumi kami berguncang. kami hilang kata-kata. tapi semoga guncang gempa tanah kami ini, tak pula menggugurkan daun-daun cinta kami, pada bumi kami di mana tertanam kisah-kisah sejarah leluhur dan anak-cucu kami.
__________________________
Dibacakan dalam acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar di gedung HTIB (Turkse Arbeidersvereiniging in Nederland), Eerste Weteringplantsoen 2C, Amsterdam, 18 Oktober 2009.
12:23:46 | 1 KOMENTAR
20.08.2009
Spasi Hijau
sepanjang usia kota kami, kian renta ia dengan keriput di wajahnya. uban berwarna abu di dinding-dinding gedung, kaki-kaki jembatan, dan serabut retakan serupa selulit di kulitnya yang bangka.
sepanjang usianya kota kami menjadi halaman yang kian penuh tulisan. berjejalan di spanduk-spanduk, rambu-rambu, graffiti dan pamflet-pamflet. bergelantungan di tiang-tiang telefon dan papan-papan reklame. tulisan yang diketik serba tergesa, seperti sajak yang kian jenuh kata-kata, tulisan yang semakin tumpul, semakin pejal, semakin berat dan rapat.
wajah kota kami yang uzur itu seperti luntur. warna coklat lumpur sawah yang kian tergusur ke pinggir ingatan, berganti bedak tebal dan polesan stabilo yang menegaskan setiap kata dengan setiap warna. wajah tua yang kian genit dan semakin memuakkan, merebus dendam di dada kami diam-diam. kesumat rindu pada sebidang spasi berwarna hijau, tempat kami berwudu dari elektron kemarau.
13:58:30 | 1 KOMENTAR
15.07.2009
Mural Kota
gurat-gurat di wajah-wajah gedung dan badan jembatan, di kaki-kaki jalanan yang mengambang, di pintu-pintu gulung rumah pergudangan mewarnai malam-malam dengan persetubuhan lampu-lampu merkuri dan cat-cat kaleng aerosol. gurat-gurat di wajah-wajah di tubuh-tubuh di kaki-kaki kota kami begitu menuarentakan dan meriah menopengkan emosi kami yang apung antara riang dan gamang, antara sedih dan lupa, antara marah dan cinta, antara hitam yang mati dan kelabu dinding semen sekeras hati.
tiba-tiba semua menjadi dinding. semua menjadi dinding. pintu, fondasi, jendela, tiang-tiang, dan genting. semua menjadi dinding. lalu seperti krayon masa kanak-kanak, tiba-tiba warna-warni menuliskan nama-nama salah eja, gambar-gambar muka bermata kelam, kartun-kartun yang pahit, amarah dan ucapan cinta yang bercampur dengan poster sandi iklan aborsi. di dinding-dinding itu. juga wajah-wajah bermunculan dalam lukisan serupa monster dan wayang tradisi. kisah-kisah yang pernah menemani saat-saat menjelang tidur kami.
samar-samar, saat senja meredup dan lampu jalanan mulai menguning, denyut dinding-dinding itu mulai berdegup. hidup. lalu gambar-gambar di mural kota sayup-sayup menembangkan gambuh moral kita.
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009
17:28:10 | NOL KOMENTAR
25.06.2009
Program Pembangunan: Penggalian Jalan
maka kami mencoba ingkari setiap kali, kota kami sungguh rajin menyakiti tubuhnya sendiri. inikah akibat diet tak sehat bertahun-tahun, lalu kini panen penyakit dan organ yang malfungsi? jalanan yang berlubang belum lagi ditambal rapi, jalanan yang rapi digali-gali setiap kali. kami coba abai dan menganggap inilah cara kota kami merawat diri: kompromi dengan infus investasi.
masterplan kota kami tanpa rencana. seperti seniman atau penyair setengah jadi: merayakan kemerdekaan setiap hari sebagai topeng kegagalan menaklukkan waktu, menjinakkan diri. lajur jalanan kami yang tepi telah penuh kabel tegangan tinggi dan pipa distribusi air minum kami, kini besi-besi pemotong aspal dan beton mengiris mengelupas lajur tengah, menanaminya dengan serabut optika untuk memanjakan telefon di genggaman kami.
jangan tanyakan kapan kota kami menanam hutan di dada kota, dan taman untuk anak-anak kami bermain bola kasti. kota kami sedang sibuk menanam kabel, pontang-panting menjinakkan kolesterol tubuhnya yang kian tak terkendali.
Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009
18:13:30 | NOL KOMENTAR
20.06.2009
Wisata Belanja: Pasar Klithikan
siapa mencari akan mendapati. di tepi-tepi jalanan kota, kami gelar sisa-sisa. ampas dari yang pernah singgah dalam catatan belanja, kini tertebar pada selembar tikar, mencoba berkelit menjadi sia-sia.
kaca spion dan lingkar roda kami punya, bila kau mencari cara menengok kembali yang tertinggal di punggung silam atau menggelindingkan ingatan ke jalanan berlubang di mana kau pernah tumbang dari sepeda motormu. lampu senter dan keris tua, bila engkau ingin menelisik rahasia malammu namun jerih bila tak bersenjata. shockbraker kompetisi dan tachometer, bila kau cemas dengan degup jantungmu yang kurang gegas. kami gelar semua yang tercerai dari ingatan, kami kumpulkan kembali bagi siapa saja yang rela membeli usia.
di sinilah kami berniaga dengan waktu, tawar-menawar yang lama dengan yang baru. sebab kami meyakini siapa mencari akan mendapati, maka suatu saat nanti kau pasti datang kepada kami.
mencari jejak-jejak kaki yang hilang tanpa kau sadari.
Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009
11:20:43 | NOL KOMENTAR
22.05.2009
Profil Kota: Cita-cita Setinggi Slogan
kota-kota kami adalah kota cita-cita. kami gantungkan impian-impian kami setinggi gapura batas kota, setinggi tiang-tiang bendera; pataka pusaka keramat kami. lalu begitu gembiranya kami dengan semangat yang lucu dan indah itu, sehingga tak penting lagi bagi kami berbagi jalanan berlubang atau angkutan kota berebut start dan finish paling cepat dan penumpang hanya beban tambahan saja, tak penting lagi bagi kami berbagi simpang-simpang yang padat dan polisi jalan pun sampai lupa makna rambu-rambu yang begitu banyak berjejal di sepanjang rute, tak penting lagi bagi kami berbagi trotoar dengan penjual segala rupa benda yang tak ingin bayar sewa tempat di pasar. kami telah cukup bangga dengan slogan kota kami yang lucu dan asyik itu, memajang stikernya di sepeda motor atau baju seragam kami, lalu menikmati setiap mimpi.
kota-kota kami adalah kota yang ikhlas, berhati senyaman iklan, sembada, beriman, bertakwa, sehat indah sejuk sekali, kota insani, kota slogan hahahihi. hahahihi. hahahihi.
kota-kota kami adalah kota yang kaya cita-cita, penuh kata-kata. kota kami penuh prosa. kota kami miskin peta, miskin rencana, miskin puisi yang benar-benar jadi.
Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009
18:04:37 | NOL KOMENTAR
Limpahkan ke Facebook
|