Angin NOL
  • Selamat tahun baru 2010
    Sugeng napak warsa enggal 2010. Mugi tinebihaken saking sadaya rubeda, sadaya sesuker. Kalis ing sadaya bebaya, sadaya bebendhu. Nir ing sadaya sambekala. Mugi tansah linuber ing bebingah, tentrem ayem sumarah. Tan kendhat atur pepuji kalawan syukur. Gusti ngijabahi.
    31/12/2009 - 17:37:12
  • Sugeng tindak, Gus Dur...
    Sugeng tindak, Gus Dur. Mugi asma panjenengan tansah angambar arum, tinulad para putra wayah, sumunar adamel pepadhanging nuswantara. Mugi ing gesang salajengipun langkung saged paring piwulang saklebetipun manah para putra bangsa. Matur nuwun sampun paring wejangan ingkang kasat ugi ingkang tan kasat netra. Sugeng tindak, Gus Dur. Sugeng anglajengaken lampah. Rahayu. Rahayu. Rahayu.
    30/12/2009 - 20:24:57
  • Amsterdam, 18 Oktober 2009
    Pembacaan KUNCI sebagai bagian acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar oleh masyarakat Indonesia di Amsterdam.
    20/10/2009 - 03:30:10
  • Rotterdam, NL
    Tiba di asrama Weenapad sore ini jam 15.00 WIB (10.00 waktu setempat).
    05/10/2009 - 17:11:13
  • Sajak-sajak Titiknol di Jurnal Nasional
    Jurnal Nasional edisi Minggu, 04 Oktober 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Metropolesan, Nota Kota, Shopping Mall, Pasar Bringharjo, Suburbia, Program Pembangunan: Penggalian Jalan dan Mural Kota.
    05/10/2009 - 17:10:02
  • Kinan
    Alhamdulillah puji Tuhan. Telah hadir dalam kebahagiaan kami, putri cantik kami KIDUNG HAYUMATARI LARAS KINANTHI (Kinan) 19 September 2009 pulul 6 pagi di RSU St Maria Pemalang. 3800 gram 49 cm.
    22/09/2009 - 14:32:35
  • Lebaran
    TITIKNOL mengucapkan selamat menyambut dan merayakan Idul Fitri tahun ini. Semoga semua termaafkan dan memaafkan.
    18/09/2009 - 18:22:31
  • Sajak Titiknol di Suara Merdeka
    Suara Merdeka (Semarang) edisi Minggu, 19 Juli 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Pematusan, Brosur Wisata: Balokan/Sarkem, Wisata Belanja: Pasar Klithikan, Monumen, Jalan Pahlawan, Mistika Urbana dan Profil Kota: Cita-cita Setinggi Slogan. (Terima kasih buat Oom Adi Nugroho yang telah repot mencarikan koran Suara Merdeka itu.)
    02/08/2009 - 13:58:53
  • RRI Pro 2 Jogja bicara Kunci
    RABU malam, 19.30 - 21.30 (mulur 30 menit dari 1,5 jam yang dijadualkan menjadi 2 jam karena respon pendengar yang cukup antusiastik), buku himpunan puisi TS Pinang "Kunci" diobrolkan di acara BOOK REVIEW RRI Pro 2 Jogja bersama TS Pinang dengan host Eddy Yono. Lima sajak dari album Kunci ini dibacakan dalam acara tersebut, dan dua buku Kunci dari Omahsore menjadi cindera mata bagi pendengar paling aktif berinteraksi sepanjang acara.
    25/06/2009 - 08:59:19
  • Kompas Minggu, 21 Juni 2009
    Kompas Minggu, 21 Juni 2009 memuat sajak-sajak TS Pinang berjudul Bibir Kota, Kaki Lima dan Bakteria Kota.
    22/06/2009 - 09:17:02

TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi.

TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+

POÉSIE | PUISI | PROSA | TRIBUTE | LINGKAR | BUKUTAMU | PENYAIR


SAJAK-SAJAK | ENGLISH POEMS | GEGURITAN JAWA  

19.02.2010

Sekar Pocung Kagem Kinanthi

(sekar pocung)

ngger anakku, tansah santosa rahayu
bebingah jroning tyas
wus lampah panca purnami
cah ayu dadya suryanipun biyung bapa

14:09:35 | NOL KOMENTAR


10.02.2010

Kinanthi Sigaraning Ruh*

(macapat kinanthi)

wanodyayu garwaningsun
pidhangetna kidung niki
sumedhot rasaning manah
sigar raga ruh nyawiji
tetepna patrap sumarah
mugi kinasih Hyang Widhi

sanadyan lampah sinandhung
tetegna tekading ati
sipating nepsu angkara
den kipatna jroning agni
awit sumarahing suksma
kuncining kabegjan jati


_________
*Kaanggit kagem garwaningsun Rosalia Hening Wijayani


00:35:57 | NOL KOMENTAR


19.01.2010

Dhandhang Gendhis Kagem Kinanthi

(macapat dhandhanggula)

duh yoganingsun laras kinanthi
catur purnami tinilar rama
dadi tambah lan manise
tansah sinandhing biyung
den pinayung kidung anjagi
tebih kabeh dhukita
lan pedhuting kalbu
tansah padhang kadya surya
hayunira cahya katresnan hyang widhi
kinanthi biyung bapa

01:17:00 | NOL KOMENTAR


31.12.2009

Kami Melepasmu dengan Suka dan Rela

: Gus Dur

kami berkabung tersebab cinta. cintamu pada manusia, pada semesta. kami ingin melepas perjalananmu dengan suka dan rela, tetapi lidah kami hampa rasa, gugur kata-kata.

kami ingin mengantarmu memasuki gerbang cahaya, pintu perjalananmu selanjutnya. tapi kami hanya kuasa tersedu, tak mampu menggandeng tanganmu.

kami berkabung tersebab cinta. kami melepasmu dengan suka dan rela, seperti tawamu yang lepas dan rela, seperti mata kami yang ikhlas menghujankan air mata.

19:22:37 | NOL KOMENTAR


20.10.2009

Gempa Tanah Kami

bumi berguncang. kami terdiam dalam cengang dalam galau dalam helaan nafas dalam-dalam. kami sebut nama Tuhan dan nama anak-anak kami, ibu-bapa kami, handai taulan kami yang terguncang-guncang dalam ingatan kami. kami sebut nama Tuhan dalam doa patah-patah terbata-bata membilang siapa-siapa yang terlewat kami sebut namanya, mencari-cari siapa-siapa yang terlupa wajahnya, siapa-siapa yang berebut menggapai-gapai kecemasan kami.

bumi kami meregang, rengkah serupa amarah serupa rahang yang gemeretuk menahan geram. kami bersujud dalam ketiadaan daya, lumpuh rasa lumpuh kata, bagai butir pasir dalam pusaran palung yang memuting, membawa pergi satu-satu yang kami cintai tanpa sempat memohon diri. kami terdiam dalam cengang dalam absen kesadaran, tersihir oleh geletar di telapak kaki, tak hilang-hilang ngilunya sampai di debar hati.

engkau bilang ini gempa, kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang ini karena dosa kami belaka. kami bilang ini sepenggal kisah duka. engkau bilang, bertobatlah demi azab Tuhan! kami bilang ini sepenggal kisah duka. kami bilang ini kisah duka, babak lain dari kisah cinta. sebagai kami tetap cinta tanah kami, betapapun murka dia, betapapun luka dia. kami anak-anak bumi, lahir, hidup, mati kami oleh cintanya juga.

bumi kami berguncang. kami hilang kata-kata. tapi semoga guncang gempa tanah kami ini, tak pula menggugurkan daun-daun cinta kami, pada bumi kami di mana tertanam kisah-kisah sejarah leluhur dan anak-cucu kami.

__________________________
Dibacakan dalam acara penggalangan dana bantuan gempa Sumbar di gedung HTIB (Turkse Arbeidersvereiniging in Nederland), Eerste Weteringplantsoen 2C, Amsterdam, 18 Oktober 2009.

12:23:46 | 1 KOMENTAR


20.08.2009

Spasi Hijau

sepanjang usia kota kami, kian renta ia dengan keriput di wajahnya. uban berwarna abu di dinding-dinding gedung, kaki-kaki jembatan, dan serabut retakan serupa selulit di kulitnya yang bangka.

sepanjang usianya kota kami menjadi halaman yang kian penuh tulisan. berjejalan di spanduk-spanduk, rambu-rambu, graffiti dan pamflet-pamflet. bergelantungan di tiang-tiang telefon dan papan-papan reklame. tulisan yang diketik serba tergesa, seperti sajak yang kian jenuh kata-kata, tulisan yang semakin tumpul, semakin pejal, semakin berat dan rapat.

wajah kota kami yang uzur itu seperti luntur. warna coklat lumpur sawah yang kian tergusur ke pinggir ingatan, berganti bedak tebal dan polesan stabilo yang menegaskan setiap kata dengan setiap warna. wajah tua yang kian genit dan semakin memuakkan, merebus dendam di dada kami diam-diam. kesumat rindu pada sebidang spasi berwarna hijau, tempat kami berwudu dari elektron kemarau.

13:58:30 | 1 KOMENTAR


15.07.2009

Mural Kota

gurat-gurat di wajah-wajah gedung dan badan jembatan, di kaki-kaki jalanan yang mengambang, di pintu-pintu gulung rumah pergudangan mewarnai malam-malam dengan persetubuhan lampu-lampu merkuri dan cat-cat kaleng aerosol. gurat-gurat di wajah-wajah di tubuh-tubuh di kaki-kaki kota kami begitu menuarentakan dan meriah menopengkan emosi kami yang apung antara riang dan gamang, antara sedih dan lupa, antara marah dan cinta, antara hitam yang mati dan kelabu dinding semen sekeras hati.

tiba-tiba semua menjadi dinding. semua menjadi dinding. pintu, fondasi, jendela, tiang-tiang, dan genting. semua menjadi dinding. lalu seperti krayon masa kanak-kanak, tiba-tiba warna-warni menuliskan nama-nama salah eja, gambar-gambar muka bermata kelam, kartun-kartun yang pahit, amarah dan ucapan cinta yang bercampur dengan poster sandi iklan aborsi. di dinding-dinding itu. juga wajah-wajah bermunculan dalam lukisan serupa monster dan wayang tradisi. kisah-kisah yang pernah menemani saat-saat menjelang tidur kami.

samar-samar, saat senja meredup dan lampu jalanan mulai menguning, denyut dinding-dinding itu mulai berdegup. hidup. lalu gambar-gambar di mural kota sayup-sayup menembangkan gambuh moral kita.


Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

17:28:10 | NOL KOMENTAR


25.06.2009

Program Pembangunan: Penggalian Jalan

maka kami mencoba ingkari setiap kali, kota kami sungguh rajin menyakiti tubuhnya sendiri. inikah akibat diet tak sehat bertahun-tahun, lalu kini panen penyakit dan organ yang malfungsi? jalanan yang berlubang belum lagi ditambal rapi, jalanan yang rapi digali-gali setiap kali. kami coba abai dan menganggap inilah cara kota kami merawat diri: kompromi dengan infus investasi.

masterplan kota kami tanpa rencana. seperti seniman atau penyair setengah jadi: merayakan kemerdekaan setiap hari sebagai topeng kegagalan menaklukkan waktu, menjinakkan diri. lajur jalanan kami yang tepi telah penuh kabel tegangan tinggi dan pipa distribusi air minum kami, kini besi-besi pemotong aspal dan beton mengiris mengelupas lajur tengah, menanaminya dengan serabut optika untuk memanjakan telefon di genggaman kami.

jangan tanyakan kapan kota kami menanam hutan di dada kota, dan taman untuk anak-anak kami bermain bola kasti. kota kami sedang sibuk menanam kabel, pontang-panting menjinakkan kolesterol tubuhnya yang kian tak terkendali.



Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 04 Oktober 2009

18:13:30 | NOL KOMENTAR


20.06.2009

Wisata Belanja: Pasar Klithikan

siapa mencari akan mendapati. di tepi-tepi jalanan kota, kami gelar sisa-sisa. ampas dari yang pernah singgah dalam catatan belanja, kini tertebar pada selembar tikar, mencoba berkelit menjadi sia-sia.

kaca spion dan lingkar roda kami punya, bila kau mencari cara menengok kembali yang tertinggal di punggung silam atau menggelindingkan ingatan ke jalanan berlubang di mana kau pernah tumbang dari sepeda motormu. lampu senter dan keris tua, bila engkau ingin menelisik rahasia malammu namun jerih bila tak bersenjata. shockbraker kompetisi dan tachometer, bila kau cemas dengan degup jantungmu yang kurang gegas. kami gelar semua yang tercerai dari ingatan, kami kumpulkan kembali bagi siapa saja yang rela membeli usia.

di sinilah kami berniaga dengan waktu, tawar-menawar yang lama dengan yang baru. sebab kami meyakini siapa mencari akan mendapati, maka suatu saat nanti kau pasti datang kepada kami.

mencari jejak-jejak kaki yang hilang tanpa kau sadari.



Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

11:20:43 | NOL KOMENTAR


22.05.2009

Profil Kota: Cita-cita Setinggi Slogan

kota-kota kami adalah kota cita-cita. kami gantungkan impian-impian kami setinggi gapura batas kota, setinggi tiang-tiang bendera; pataka pusaka keramat kami. lalu begitu gembiranya kami dengan semangat yang lucu dan indah itu, sehingga tak penting lagi bagi kami berbagi jalanan berlubang atau angkutan kota berebut start dan finish paling cepat dan penumpang hanya beban tambahan saja, tak penting lagi bagi kami berbagi simpang-simpang yang padat dan polisi jalan pun sampai lupa makna rambu-rambu yang begitu banyak berjejal di sepanjang rute, tak penting lagi bagi kami berbagi trotoar dengan penjual segala rupa benda yang tak ingin bayar sewa tempat di pasar. kami telah cukup bangga dengan slogan kota kami yang lucu dan asyik itu, memajang stikernya di sepeda motor atau baju seragam kami, lalu menikmati setiap mimpi.

kota-kota kami adalah kota yang ikhlas, berhati senyaman iklan, sembada, beriman, bertakwa, sehat indah sejuk sekali, kota insani, kota slogan hahahihi. hahahihi. hahahihi.

kota-kota kami adalah kota yang kaya cita-cita, penuh kata-kata. kota kami penuh prosa. kota kami miskin peta, miskin rencana, miskin puisi yang benar-benar jadi.



Dimuat di SUARA MERDEKA Minggu, 19 Juli 2009

18:04:37 | NOL KOMENTAR


 

Limpahkan ke Facebook

SEMUA KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN HARUS DENGAN IJIN PENGARANG. Lumbung Puisi
02-2010 01-2010 12-2009 10-2009 08-2009 07-2009 06-2009 05-2009 04-2009 02-2009 11-2008 09-2008 08-2008 07-2008 06-2008 05-2008 04-2008 03-2008 02-2008 01-2008 12-2007 09-2007 07-2007 06-2007 05-2007 04-2007 03-2007 02-2007 01-2007 12-2006 11-2006 10-2006 09-2006 08-2006 07-2006 06-2006 05-2006 04-2006 03-2005 01-2005 12-2004 08-2004 07-2004 06-2004 02-2004 12-2003 11-2003 10-2003 09-2003 08-2003 07-2003 06-2003 05-2003

 

Semenjak 2000 © TS Pinang
h t t p : / / w w w . t i t i k n o l . c o m
t s p i n a n g @ t i t i k n o l . c o m

TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang, seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.

 Kembali ke Puncak