Penyair Dino F. Umahuk Berduka
انا لله وانا اليه راجعون
Telah berpulang kepada-Nya, putra Dino Umahuk yang bernama Maulana Alfi Syahri di usia 7 bulan 7 hari di RSU Zainal Abidin Banda Aceh, Ahad 4 Mei 2008 pukul 20.15 WIB. Semoga arwahnya diterima dalam hangat kasih Allah SWT. Semoga Dino dan keluarga diberi ketabahan. TITIKNOL ikut berduka sedalam-dalamnya.
05/05/2008 - 02:24:14
Sajak-sajak TITIKNOL di Jurnal Nasional Jurnal Nasional edisi Minggu 4 Mei 2008 memuat sajak-sajak Coklat Hangat, Keramik, Kutu, Apel, Sapu Lidi 1, Sapu Lidi 2, Halang, Cermin, Jarum, Cucur, Rakit, Bubur, Biarlah Kutulis, Tiga Sajak yang Ditulis Pagi Hari.
04/05/2008 - 08:35:13
68 Tahun Penyair Diah Hadaning
SELAMAT, Bunda, jalanmu kian dekat ke tujuan. Semoga sehat selalu, agar terus engkau ajari kami kidung-kidungmu.
04/05/2008 - 08:19:04
BERITA DUKA
Hudan Nur, penyair perempuan dan aktivis sastra Kalimantan Selatan, mengalami musibah kecelakaan ditabrak lari truk. Sudah 4 hari menjalani perawatan intensif di RS Banjarmasin. Kondisinya sangat memprihatinkan; tulang punggung, rahim dan rusuk patah. Mohon doa kawan-kawan sastrawan di tanah air untuk keselamatan dan kepulihan Hudan.
Bila ada kawan-kawan yang ingin menyumbang dana, kirim ke rekening 0065889174 atas nama Hudan Nur, BNI Cabang Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
01/05/2008 - 23:44:45
The "Claws" Night atawa Malam Cékér
KEDAI SERBA CÉKÉR (jw. cakar), pinggir selokan Mataram, Yogyakarta. Sedia macam-macam masakan dengan cakar ayam, 100% bumbu rempah alami tanpa monosodium glutamat (MSG). Malam ini juga menyajikan Apresiasi Sastra bersama Kang Sigit "Bondet" Susanto yang baru mudik ke tanah air untuk meluncurkan buku memoar perjalanannya Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2. Ada juga penyair Wayan "Jengki" Sunarta dari Bali, Puthut EA, Dwicipta, Shiho, Sun Lie "STA", Mas Saut, Jeng Anin, Mas Arie, Adi Toha van Jatinangor, Anwar INSIST, Aguk "Bait-bait Cinta", dan tentu saja Faiz the chef of cékér. Ah, teman, untuk siapakah sastra? Yang jelas, these CÉKÉRs are of high evil CHOLESTEROL, eh?
01/05/2008 - 23:34:26
Turut Berduka
TITIKNOL turut berdukacita atas keberangkatan ayahanda tercinta dari Upik (komunitas Bungamatahari). Semoga menempuh perjalanan yang lancar ke haribaan-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan ikhlas mengantarkannya.
22/04/2008 - 11:38:47
Milis Bungamatahari di Jogja
KEDAI KEBUN, Jl. Tirtodipuran 3, Sabtu 19 April 2008 pukul 19.00 WIB. Bawa puisi. Kontak: Ingrid - 081328058352.
17/04/2008 - 06:48:45
Bagaimana rasanya berjumpa penyair M. Aan Mansyur?
Seperti secangkir kopi manis pekat di senja yang hujan, atau seperti swing jazz di malam yang ringan.
01/04/2008 - 22:48:29
Cheers!
Di warung kopi Cheers pinggir selokan Mataram dekat kampus UGM, sore, telah diselenggarakan sebuah pertemuan rahasia antara TSP dengan Ingrid, Dwi Rastafara, Tutut. Beberapa saat kemudian Penyair Negeri Sipil, Budhi Setyawan, datang bersama anggota pasukan pribadinya. Untung saja, pembicaraan berakhir sebelum terlalu jauh tergelincir ke topik alam gaib, alias klenik puisi.
22/03/2008 - 23:00:48
Bertemu Tsabit
Tsabit, kelas 1 SD, penyair. Belum bisa naik sepeda sebab dia suka menggambar bus. Bertanya, mengapa politikus dilambangkan tikus. Bundanya menjawab. Tsabit bertanya lagi, mengapa karikaturnya tikus putih, kan tikus harusnya hitam. Bundanya menjawab lagi. Tsabit menggambar lagi. Bus lagi.
28/02/2008 - 09:24:27
TITIKNOL tidak menerima kiriman naskah untuk dimuat, kecuali tulisan tentang karya-karya TS Pinang dan/atau dipersembahkan khusus untuknya. TITIKNOL adalah sebuah situs pribadi.
TITIKNOL enak disajikan di Browser dengan Flash Plugin pada 800.600+
sajakmu bercerita, berirama...
ketika ku mulai membacanya per kalimat
dan aku terbata-bata pada setiap tanda
jeda yang kau letakan di antara kata per kata,
lalu terhenti di titik akhir bait ke baik
berikutnya, coba memahami...
sajakmu berirama, berbicara...
ketika ku baca selembar sajak dari tumpukan
koran basi di bawah meja dan aku kembali
terbata-bata di tiap tanda koma yang
kau letakan lalu terhenti di titik terakhir
bait ke bait,
coba mengerti...
punggung bukit itu dulu sunyi
kini riuh suara langkah kaki, derai tawa, isak tangis, juga caci maki.
kau telah memulainya. memangkas semak. menyingkap onak. menepikan duri
menjadi jalan setapak. kita sama-sama mendaki
dari kaki bukit selatan kau daki. dari kaki bukit utara ku susuri.
lalu kita bertemu di simpang jalan ini. tapi dimanakah puisi?
puisi adalah jalan. dan setiap orang memilih jalannya sendiri. katamu
bersungguh
hmm, katamu puisi adalah jalan?
ya
kita telah sama-sama membuka jalan setapak. lalu bertemu disini
ya
bukankah itu artinya kita pemilik puisi di sepanjang jalan ini?
puisi tak bisa dimiliki
jadi tak adakah pemilik puisi?
ya, apalagi dikuasai. walau ia diberi wadah istana megah penuh atribut materi.
pada dasarnya puisi anti materi. karena sifat materi mengikat. sedang puisi
berjiwa merdeka
puisi jelas bukan semacam caleg. ia lebih tinggi dari sekedar puncak bukit
ini.
bahkan sesungguhnya ia lebih bernilai
dari semua bentuk material di bawah bumi yang kita pijak ini.
”jadi dimanakah puisi?”
kau beranjak pergi. kembali menyusuri jalan mendaki.
Semenjak sajakmu tiba-tiba tumbuh serupa rumpun senyum di seberang jendela, aku selalu tak sabar menunggu pagi menjelang. Kubayangkan senyummu menerobos jendela dan membelai wajahku yang pasi. Aku akan terbangun penuh semangat seperti kemarin, memulung sampah dan serapah yang setiap malam terserak di kamar ini. Kan kusimpan dalam kantung karet yang terus menggembung, karena tak kuat lagi menampung potongan cerita ini, cerita di luar skenario, begitu kata dia yang merenggut bulan dari malam-malamku.
Gersang tanah ini mulai lembab oleh kata-katamu yang menjelma tetes-tetes hujan, membasuh setiap retak jejak kemarau. Rerumputan dan pepohonan berpesta siang malam, mengucap syukur, mengamini doa lapang jalan dari sajak keraguan yang lama kugantung di balik pintu.
Setiap kali kubuka jendela, rinduku nyelinap begitu saja ke hangat birahimu, ke setiap degup jantungmu. Tak bisa kutahan lagi tunas cahaya yang nyembul di labirin gelap ini. Malam ini kan kuselipkan tiga kata saja di larik sajakmu. Senyumlah seperti biasa dan sewajarnya, semoga tak tercipta sedih yang lain. Kamar ini kan jadi saksi betapa aku tak lagi bisa bersabar lebih jauh bersamanya. Tak mampu lagi kupulung sampah dan serapah yang terus menggunung, mengurung. Aku harus keluar, sekarang. Kau sudah tahu tiga kata itu? Berilah tanda bila sajakmu memang belum rampung.
JEJAKNYA dihapus gulma, padi sudah lama diketam. Ia ikuti jalan ke hutan. Berburu ketidakmungkinan.
"Pak Petani. Boleh nanti kami pinjam sawahmu?"
Bocah nunggu kemarau. Layangan besar, digambari bentuk-bentuk musykil, dan kata-kata berani.
/2/
DI hutan, ia perhatikan daun keladi dan aglonema, juga kecipak ikan di kubangan hujan. Suara-suara percakapan hewan-hewan. Dan garis-garis sinar matahari pagi di sela-sela kanopi dedaunan.
Eh, ada layangan putus benang, seperti ia kenal bentuk-bentuk musykil itu kini, seperti ia yang membisikkan kata-kata berani itu, dulu sekali....
______________
Dimuat di Kompas, Minggu 18 Juni 2006
Kita bersalaman, dua tangan, kiri & kanan,
itu pun belum cukup, sebenarnya, katamu,
"Untuk pertemanan ajaib. 7 tahun yang gaib."
Lalu malam kita serahkan pada sebuah kedai,
pemiliknya suka berkebun buku. "Di sini, tiap
terang bulan, para puisi hidup & para penyair
memastikan, "di dalam kata kita tak ada matinya."
"Di atas itu, ada lapangan bulu tangkis," katamu
dari meja yang tinggal daftar menu. Juru masak
sudah pulang, sejak petang. "Tapi penyair lebih
peka telinga, mendengar angsa-angsa menangis."
BANYAK hal bisa dikaji pada sajak penyair asal Yogyakarta TS Pinang "Tersebab Apa". Sajak ini bisa ditelururi dari bagaimana penyair memadukan beberapa kelompok kata dari bait ke bait sehingga membangun sebuah imaji yang memancing makna yang kaya. Ia bisa dibentang sebagai sebuah hutan penuh hewan buruan: dan kita adalah pemburu yang bertugas menangkap sebanyak-banyak hewan di hutan itu, dengan berbagai siasat dan taktik perburuan.
[baca+]
DENGAN kata lain mengajak pembaca puisi berani masuk ke gelap dan semak hutan. Saya bayangkan TS Pinang dengan serangkaian terbarunya di Titik Nol - salah satunya adalah puisi yang sedang kita bahas dalam tadarus ini - sedang mengajak saya sebagai pembaca ke hutannya. Dan TS Pinang adalah pemandu yang baik. Ia berhasil membuat jalan setapak dengan jejaknya sehingga masih dalam batas kemungkinan komunikasi yang digariskan A Teeuw.
[baca+]
SEMUA
KARANGAN DI SITUS INI ADALAH HAK CIPTA TS PINANG KECUALI PADA HALAMAN TRIBUTE. PENGAMBILAN NASKAH BAIK SEBAGIAN MAUPUN KESELURUHAN
HARUS DENGAN IJIN PENGARANG.
TITIKNOL Project adalah sebuah proyek pribadi TS Pinang,
seorang pecinta puisi yang lebih suka bermain dengan medium website
internet. Semula TITIKNOL Project dimaukan untuk dokumentasi naskah-naskah
tulisan TSP sendiri sebelum akhirnya berkembang dengan proyek-proyek
lainnya yang dikerjakan secara amatir, secara pecinta.