|

PUISI | ULASAN
13.09.2009
Puisi Pagar Kenyataan
Oleh Khrisna Pabichara
Kunci dan kami, simbol yang digunakan penyair, berfungsi sebagai pemampat jarak, semisal kejauhan dan kedekatan. Sebutan “Kami” mengandung muatan “kita”, dengan “aku” dan “dia” di dalamnya. Bahkan, boleh jadi, “kamu”. Sebutan kami tidak berciri personal, melainkan kolektif. Menyangkut jarak antara kelompok dan kelompok: antara mereka dan kami. kami membuka gerbang langit dengan anak kunci yang kami tempa dari bijih cinta. kami berdoa dengan secawan air tanah dan daun sirih, lalu kami saling menyapa. di depan pintu ini kami membaca salam di ambang gerbang, semoga semua makhluk berbahagia, dan semoga anak-anak kami sehat sentosa (Sajak “Kunci”, 14). Tafsir kita terhadap “gerbang langit” bakal beragam, namun keragaman itu tetap menggunakan kunci yang sama, kunci tempaan “bijih cinta”.
[baca+]
23:35:00 | NOL KOMENTAR
02.08.2009
Tukang Kunci Rahasia
Oleh Esha Tegar Putra
: ts pinang
selepas malam akan kubukakan sebuah rahasia kepadamu
rahasia jantung pisang yang telah ditebang sehari yang lalu
(jantung pisang yang kini akan digulai, lengkap dengan
segala rempah)
jantung pisang itu berdebar-debar saat lepas
dari tandannya, ia mulai menggemakan lagu angin, lagu angin
ia mulai menggaungkan tarian daun, tarian daun. dan ia mulai
tingkah-meningkahi setiap bunyi sayatan yang lekat
di antara tandan padat dan lembut dagingnya
selepas malam akan kubukakan sebuah rahasia kepadamu
rahasia jantung pisang yang telah ditebang sehari yang lalu
(jantung pisang tersebut baru saja digulai, rempah lengkap
dan tentunya daging ikan kakap)
jantung pisang tersebut lepas dari tandan dan sebelum
sampai ke tanah, di jatuhan yang tak ia sesali, ia mengunci sakit
dengan patahan kalimat terakhir:
di setiap tetes dan laju getah ini,
kita pernah tumbuh dalam satu batang
Gunuangpangilun, 2009
15:25:00 | NOL KOMENTAR
18.07.2009
Membaca TSP: Kami, Kunci, dan Ia yang Tersembunyi
Oleh Pringadi Abdi
Membaca tspinang, seperti membaca sebuah kitab yang ditulis oleh manusia. Sebuah kitab yang kiranya suci, tetapi bukan kitab suci. Kitab ini berisi tentang suatu pandangan yang berbahan bakar karbon dan melakukan proses pembakaran menghasilkan oksigen yang ia hembuskan ke pembacanya. Kitab ini tidak menggurui, tidak. Kitab ini tidak mendoktrinisasi, tidak. Kitab ini sama halnya dengan kitab-kitab harian semacam diary yang disampaikan dengan bahasa wahyu - melepaskan keegoan dan keakuan penulisnya, serta bertutur dengan kesah yang ilmu.
[baca+]
11:26:45 | NOL KOMENTAR
18.06.2009
TS Pinang: Bayi yang Bijak
Oleh Bernard Batubara
Membaca sajak-sajak TS Pinang, saya dibawa ke dalam dunia yang segalanya serba teratur: alur kata-kata yang rapi, emosi yang ditekan, dikendalikan, nafas yang tidak memburu, tidak pula sesak terpatah-patah, semuanya serba terkontrol, serba lancar. Kalau lingkungan sekitar adalah ‘rumah luar’, dan TS Pinang memiliki ‘kamar’ di dalam dirinya- maka ia menyerap hal-hal yang berada di luar untuk masuk ke dalam kamar sendirinya, dan di dalam kamarnya itu ia melakukan proses augmentasi, menambahkan zat-zat lain yang berasal dari dirinya ke dalam hal-hal luar yang telah dibawanya masuk ke dalam kamarnya tadi. Kemudian ia ‘meredam’ proses kerjanya itu, sehingga yang lahir adalah sajak-sajak yang ‘dewasa’- ibarat bayi, sajak-sajak TS Pinang adalah bayi yang memiliki karakter orang berusia 60 tahun dengan sifat yang tenang, kalem, seperti telah melalui banyak hal di dalam hidupnya- bayi yang tua dan bijak.
Tapi bukan berarti di dalam ketenangan itu sama sekali tidak ada ketegangan, tidak ada dada yang berdegup-berdebar. Sesekali TS Pinang memasang ‘tempo’ cepat, singkat, berderap-derap di dalam sajaknya, seperti kejar-mengejar. Namun itu juga ia lakukan dengan disiplin, rapi, dan teratur. Nafas yang memburu dengan teratur.
[baca+]
14:44:00 | NOL KOMENTAR
24.11.2008
Jubah Burgundy
Oleh Bernard Batubara
: ts pinang
seperti liuk semburan grafiti
di pucuk-pucuk jemarimu
hai, pejalan lelah dalam hangat jubah burgundy
diam rumput adalah dendang paling tuah paling merdu
percik luka sepanjang tahun diam-diam
kau tabung, sebentar lagi
sebentar lagi
satu gelas jus paling manis akan terapung
mari, selagi malam belum lewat
tangkupkan lagu rindu, dan derak puisi
dalam detak jazz paling syahdu
duhai, saksikan
dansa paling indah
ada di leleh airmatamu
..
(2008)
08:35:40 | NOL KOMENTAR
24.06.2008
Titik Nol pada Garis Bilangan Waktu
Oleh Ashar Junandar
:buat TSP
Benar memang. Bangun itu, titik nol pada garis bilangan waktu. Kau terjaga lalu berdiri tegak di atas sajadah. bilangan itu bergeser sepuluh satuan ke sisi kananmu. Kau mandi, membersihkan badan, ke kanan sepuluh satuan, bergeser lagi bilangan itu. Kau sapu lantai kamar, kau lipat selimut dan kau padamkan lampu setelah membuka daun jendela, akan kau lihat betapa biru langit pagi itu. Percayalah, ribuan ababil berbondong-bondong sedang meracik rumah idamanmu di surga.
Atau cobalah tegak kembali sisa anggur semalam, kepalamu akan pusing. Jarum pendek jam yang menunjukkan angka lima, memutar kembali ke kiri haluan jarum panjangnya. Dan kawanan ababil berbondong-bondong cakar kakinya mencengkram kerikil api. Tepat, seperti yang pernah didongengkan si Mbokmu, ketika gajah-gajah Abrahah hendak mengepung Mekah, di pelukan guling bocahmu. Bangun itu, titik nol pada garis bilangan waktu.
Rawamangun, Selasa Pagi, 24062008
11:38:24 | NOL KOMENTAR
19.06.2008
Mencuci Rambut, Memaki Kemelut
Oleh Dedy Tri Riyadi
: TSP
Keramas ternyata sudah jadi jalan pintas,
tak lagi sekedar ritual mengguyur air
pada rambut ikal dengan bergegas,
menggusur kelumur, menggosok
kulit kepala agar bebas dari debu
dan minyak atau gel rambut murahan.
Hingga setiap pagi
ada yang berebut
pergi ke perigi
: saling mendahului.
Keramas adalah pintu pelepasan
yang dicurahkan dengan sengaja,
dimurahkan karena tak banyak biaya,
hanya satu saset syampu yang cocok
untuk kulit kepala dan rambutmu.
Sehabis keramas, ada saja yang
menatap gemas. Apakah karena
kini kau tak lagi memaki kemelut,
atau sibuk keringkan rambut
: mengacuhkannya.
2008
18:30:41 | NOL KOMENTAR
18.05.2008
Kau Pinang Hening
Oleh Nanang Suryadi
kau pinang hening
menjelmalah puisi
mencahaya
menerang
di hari-hari puisi
jiwamu
malang, 18 Mei 2008
16:54:00 | NOL KOMENTAR
13.05.2008
Aku Akan Berada di Punggungmu
Oleh Pakcik Ahmad
.: TS Pinang & Rosalia Hening Wijayanti
bila perjalanan kerap membakar waktu,
aku akan berada di punggungmu
menampung peluh yang mengalir dari bahu
menjadikannya teluk dimana doa adalah biru
ketika waktu mengusangkan mimpi kita
aku akan duduk di sebelah tidurmu
menjaga agar dipan ini tak berderak
hingga kau terjaga dan menjadi tua
*pdk Indah 100308
15:30:00 | NOL KOMENTAR
11.05.2008
Pernikahan Cahaya
Oleh Anggoro Saronto
Sewaktu cahaya bulan dan matahari
dititipkan pada sepasang mata
maka tak perlu lagi lelampu jalan
untuk menempuh perjalanan panjang
"Selamat Menempuh Hidup Baru, Mas Pin & Hening."
17:07:00 | NOL KOMENTAR
Limpahkan ke Facebook
|